Batang, InfoPublik - Siapa yang tak terpikat dengan pesona Tol Khayangan. Jalur Mulus berlatar perbukitan megah yang menghubungkan wilayah Batang menuju dataran tinggi Dieng ini sudah lama jadi favorit para wisatawan. Namun, tahukah Anda bahwa jalan meliuk nan indah itu sebenarnya punya "saudara kembar".
Selama ini, publik lebih mengenal jalur barat, yaitu rute Deles, Bintoro Mulyo, hingga Sigemplong sebagai Tol Khayangan yang sudah terhubung mulus dengan betonisasi. Padahal, tepat di sisi timur, ada satu jalur alternatif lagi yang tak kalah strategis, namun kondisinya masih menantikan sentuhan pembangunan secara menyeluruh. Jalur inilah yang digadang-gadang bakal menjadi 'Tol Khayangan Dua'.
“Jadi ini ada dua jalur, Mas. Yang satunya, sama-sama tembus Dieng semua. Yang satunya itu lewat timur, yang satunya lewat barat. Yang sudah tersambung, sudah cor itu, yang sebelah barat nggih,” kata Kepala Bapperida Batang Bagus Pambudi melalui Kepala Bidang Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Nona Yulistya Suyono, saat ditemui di Kantornya, Senin (19/10/2026).
Ia membeberkan bahwa rute timur masih menyisakan pekerjaan rumah sepanjang enam kilometer yang belum tersentuh penanganan permanen. Yang ini yang masih kurang 6 kilo sebetulnya, kalau dari Deles, berarti Dukuh Kluwuk sampai ke Desa Pranten sendiri itu kurangnya sekitar 6 kilometer. Kita kan memang bertahap nggih pembangunannya.
“Berada di kawasan pegunungan, medan di jalur Timur Pranten ini memiliki tingkat kecuraman dan keekstreman yang tak jauh berbeda dari Tol Khayangan utama. Dari Bawang menuju Sigemplong (batas Banjarnegara), jaraknya membentang sekitar 11,28 kilometer,” jelasnya.
Sementara rute Ndeles hingga Rejosari memakan jarak sekitar 10 kilometer
Tak hanya jalur utama, ada pula rute penghubung di bagian tengah seperti rute Sigemplong menuju Ndawuan melewati SMPN 4 yang saat ini masih menyisakan garapan sepanjang 400 meter.
“Mengingat tingginya curah hujan di dataran tinggi ini, spesifikasi jalannya tak bisa sembarangan. Pembangunan infrastruktur di sana wajib menggunakan konstruksi beton bertulang. Kalau di sana itu memang konstruksinya harus cor, karena kan curah hujannya tinggi, kalau aspal kan nanti enggak awet,” terangnya.
Bagi warga lokal, keberadaan jalan beraspal halus bukan sekadar urusan estetika atau kemudahan liburan wisatawan. Jalur timur yang sebagian besar masih berupa tatanan batu makadam ini memegang peranan krusial antara hidup dan mati.
“Jika pembukaan jalan ini tuntas, warga Dukuh Pranten, Sigemplong, Bintoro Mulyo, hingga Rejosari akan memiliki kepastian akses ke fasilitas kesehatan (faskes). Keberadaan jalan yang layak diharapkan mampu menekan potensi kejadian buruk akibat terhambatnya evakuasi medis,” ungkapnya.
Pemerintah Daerah terus berupaya mengurai persoalan infrastruktur ini secara bertahap. Untuk melengkapi pengaspalan/pembetonan sepanjang 6 kilometer yang tersisa, dibutuhkan total anggaran sekitar Rp7,5 miliar.
Langkah Awal Telah Dipersiapkan Untuk Tahun Anggaran Mendatang
“Rencananya untuk 2027 itu sudah kita anggarkan sekitar Rp1,5 miliar. Nanti akan bertahap harapannya nanti bisa selesai sampai Dukuh Pranten berarti,” ujar dia.
Dengan alokasi Rp1,5 miliar tersebut (sekitar Rp1,2 miliar hingga Rp1,5 miliar dari kalkulasi DPU), jalan sepanjang 1,2 kilometer dengan lebar 4 meter dapat diselesaikan terlebih dahulu.
“Tak berhenti di situ, Pemda juga telah mengajukan Usulan Dana Alokasi Khusus (DAK) ke pemerintah pusat demi mempercepat penanganan kawasan ini. Pemda sudah mengusulkan DAK nggih ke pusat dengan anggaran 11 miliar dengan panjang 10 km,” tandasnya.
Kini, warga Pranten dan para pengguna jalan hanya bisa berharap janji pemerataan infrastruktur ini segera terealisasi sepenuhnya agar jalur timur tak lagi dikenal sebagai jalan berliku penuh duka, melainkan bertransformasi menjadi 'Tol Khayangan Dua' yang menghidupkan asa dan ekonomi warga lereng Dieng. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)