- Oleh MC PROV JAWA TIMUR
- Rabu, 2 April 2025 | 14:49 WIB
: Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Akhmad Sruji Bahtiar bertugas sebagai Khatib pada Shalat Idulfitri di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya pada Senin (31/3/2025). Di hadapan sekitar 45 ribu jemaah, Kakanwil menyampaikan khutbah dengan tema "Kembali Menuhankan Allah".. - Foto: Mc.Jatim
Oleh MC PROV JAWA TIMUR, Selasa, 1 April 2025 | 02:15 WIB - Redaktur: Eka Yonavilbia - 140
Surabaya, InfoPublik - Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Akhmad Sruji Bahtiar bertugas sebagai Khatib pada Shalat Idulfitri di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya pada Senin (31/3/2025). Di hadapan sekitar 45 ribu jemaah, Kakanwil menyampaikan khutbah dengan tema "Kembali Menuhankan Allah".
Pada kesempatan istimewa ini Bahtiar menyampaikan bahwa Idulfitri bukan hanya sekadar perayaan atau momen untuk saling bermaaf-maafan, tetapi sebagai komitmen untuk tetap menuhankan Allah SWT setelah bulan Ramadan. "Idulfitri adalah saat yang tepat bagi kita untuk mengevaluasi diri, meresapi makna puasa yang baru saja kita lalui, dan yang terpenting lagi, menuhankan Allah SWT dengan totalitas,” katanya dilansir dalam laman resmi Kemenag Jatim.
Ia juga menekankan umat Islam patut berbangga diri karena mendapatkan sanjungan dan penghormatan dari Allah melalui sebutan “wahai orang yang beriman” yang disandarkan kepada orang yang berpuasa (QS al-Baqarah: 183). Ini menandakan bahwa hanya orang beriman yang dapat menjalankan perintah puasa Ramadan.
"Esensi dari menuhankan Allah adalah sederhananya, kita diingatkan untuk mengembalikan hati, pikiran, dan seluruh amal perbuatan kita hanya untuk Allah semata. Selama ini, kita mungkin telah menjalani hidup dengan berbagai macam aktivitas, pekerjaan, dan beberapa aktivitas duniawi lainnya yang kadang membuat kita lupa bahwa Allah adalah pusat kehidupan kita. Semuanya hanya diniati duniawi,” ujarnya.
Dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 21-22, Allah juga mengingatkan, “Wahai umat manusia, sembahlah Tuhan yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu Dia dengan air hujan itu mengeluarkan berbagai buah yang menjadi rezeki bagi kalian. Maka, janganlah kalian mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun, padahal kalian mengetahui.” Menurutnya, ayat tersebut mengingatkan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang layak disembah, yang menciptakan alam semesta dan segala isinya untuk kepentingan umat manusia.
Namun, sering kali dalam kehidupan sehari-hari, kita lupa bahwa seluruh aktivitas baik bekerja, belajar, maupun berinteraksi seharusnya dilakukan dalam rangka mengagungkan dan menuhankan-Nya. “Perintah untuk menunaikan zakat adalah bukti nyata bahwa Allah melarang umat manusia untuk menghamba kepada harta benda. Dibalik harta yang kita miliki, terdapat hak orang lain yang harus kita berikan. Hal ini juga menggambarkan nilai-nilai solidaritas dan kebersamaan yang menjadi ciri khas seorang manusia (insan) sebagai makhluk sosial,” imbuhnya.
Dalam khotbahnya Bahtiar menerangkan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan kesempatan untuk mendekatkan diri kepadaNya. "Kita mengisi setiap harinya dengan ibadah, berdoa, membaca Al-Qur’an, dan tentu saja, berpuasa. Semua itu adalah bentuk usaha kita untuk mendekatkan diri kepada-Nya, menguatkan ikatan kita dengan Allah SWT. Namun, apakah setelah Ramadhan berakhir, kita kembali kepada rutinitas yang jauh dari Allah? atau apakah kita terus menjaga ketakwaan kita yang telah terbangun selama di bulan suci ini?," ujarnya.
Menyikapi hal tersebut, Menurut Bahtiar, Idul Fitri adalah titik balik bagi kita untuk menilai komitmen kita terhadap Allah SWT. Setelah sebulan penuh kita berusaha untuk lebih taat dan ikhlas dalam beribadah, sekarang saatnya kita mempertahankan dan melanjutkannya dalam kehidupan pasca Ramadhan. "Kita tidak boleh membiarkan kekuatan spiritual yang kita bangun selama di bulan Ramadhan ini menghilang begitu saja," tegasnya.
Bahtiar mengingatkan jangan sampai kegembiraan di Idulfitri ini mengalihkan kita dari tujuan utama kita, yaitu kembali menuhankan Allah SWT.
"Kita merayakan kemenangan, tetapi kemenangan sejati adalah saat kita mampu kepadaNya dengan hati yang bersih, dengan niat yang tulus, dan dengan tekad untuk terus memperbaiki diri. Jangan biarkan hati dan jiwa yang sudah fitri (suci) ini dan sudah diperoleh dengan perjuangan yang berat, justru ternodai oleh prilaku amoral yang mencederai nilai nilai kefitrian. Tentu saja, untuk mempertahankan niai nilai yang fitri ini membutuhkan perjuangan dan effort tenaga, fikiran dan lain lainya untuk mempertahankannya,"imbunya.
turut hadir pada Shalat Idulfitri ini, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa bersama Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak. (MC Prov Jatim /hjr-byu/eyv)