- Oleh MC PROV JAWA TIMUR
- Jumat, 28 Maret 2025 | 08:45 WIB
: Sumber foto : Kanwil Kemenag Jatim. - Foto: Mc.Jatim
Oleh MC PROV JAWA TIMUR, Jumat, 21 Maret 2025 | 10:07 WIB - Redaktur: Eka Yonavilbia - 120
Surabaya, InfoPublik - Saat menjadi seorang petugas haji, maka harus memiliki karakter menjadi pembina dan pelindung para jemaah haji.
Demikian pernyataan itu disampaikan Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur (Kemenag Jatim), Akhmad Sruji Bahtiar, pada Kamis (20/3/2025) usai menutup Bimbingan Teknis (Bimtek) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Kloter Terintegrasi Embarkasi Surabaya 2025 di Asrama Haji Sukolilo Surabaya.
“Saya yakin Bapak Ibu mampu tentunya harus dibarengi dengan doa karena pada hakikatnya manusia tidak punya kekuasaan, kekuatan, maupun kemampuan melainkan diiringi berdoa kepada Allah SWT,” tutur Bahtiar.
Sebelumnya, pelatihan telah digelar selama lima hari mulai dari Sabtu, 15 Maret 2025. Para peserta berjumlah 292 petugas kloter Embarkasi Surabaya yang berasal dari Provinsi Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, dan Bali. Mereka terdiri dari ketua kloter, pembimbing ibadah haji, dan petugas Kesehatan.
Para peserta bimtek mengikuti berbagai materi secara hybrid yang diharapkan dapat mencetak petugas yang professional dalam melayani jemaah haji.
Pada kesempatan ini, ia juga menjelaskan bagaimana menjadi petugas haji yang baik dan benar. Ia menjelaskan bahwa petugas haji harus bertaaruf dengan tugas dan tanggung jawabnya sebagai petugas haji.
"Anda harus memahami siapa petugas haji itu karena jika memahami, maka Anda akan melaksanakan tanggung jawab sebaik mungkin karena akan diminta pertanggungjawaban oelh Allah SWT,”imbuhnya.
Lebih lanjut, dirinya menerangkan, taaruf bukan hanya secara fisik atau jasadiyah tetapi juga secara nafsiyah atau jiwa.
“Sebagai petugas, Bapak/Ibu jangan hanya sekedar tahu jemaahnya tetapi harus dapat melebur dan dekat dengan jemaah. Jangan merasa jaim (jaga image). Status anda adalah pelayan. Abaikan jabatan atau status sosial anda,”imbuhnya.
Dengan melakukan taaruf nafsiyah, para petugas haji akan melaksanakan tanggung jawabnya dengan optimal karena merasa diawasi Allah SWT.
“Sah atau tidak hajinya para jemaah, itu juga menjadi tanggung jawab Bapak/Ibu petugas,” sambung Bahtiar.
Selain dapat bertaaruf dengan tugas-tugasnya, Bahtiar mengungkapkan, petugas haji harus memiliki sikap taawun yaitu siap memberikan pertolongan tanpa membeda-bedakan jemaah.
“Jangan hanya jemaah yang cantik saja atau yang sehat yang ditolong. Jemaah yang lansia, yang disabilitas, semua kita bantu tanpa membeda-bedakan,”imbuhnya.
Tak kalah penting, Bahtiar mengingatkan, supaya menjadi petugas haji yang baik makai harus memiliki sikap takalluf yaitu memaksa dirinya untuk senantiasa dapat menolong dan melayani jemaah dalam berbagai situasi dan kondisi.
“Dengan bersikap takalluf, Bapak/Ibu berupaya memudahkan para jemaah dalam beribadah,” tandasnya.
Bahtiar berharap dengan mengikuti bimtek, para petugas semakin siap lahir batin dalam melayani jemaah. “Sabar dan senyum dalam melayani jemaah. Insyaallah itu akan menebarkan energi positif kepada para jemaah,” pungkasnya.
Diketahui, hadir pada penutupan bimtek, Kepala Bidang Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kanwil Kemenag Jawa Timur, perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, dan para fasilitator.(MC Jatim/ida-vin/eyv)