- Oleh MC KAB BULELENG
- Sabtu, 1 Februari 2025 | 09:22 WIB
:
Oleh MC KAB SLEMAN, Kamis, 20 Februari 2025 | 16:37 WIB - Redaktur: Pasha Yudha Ernowo - 112
Sleman, Infopublik – Puskesmas Depok II kembali menggelar pertemuan Posbinaan Darbin 3 pada Rabu (19/2/2025) di rumah Dukuh Ngringin. Kegiatan yang diadakan secara rutin setiap tiga bulan sekali ini dihadiri oleh kepala Puskesmas Depok II, Trisni Andayani, beserta tim dari Pudewa.
Posbinaan kali ini melibatkan 12 posyandu yang tersebar di Padukuhan Dero, Ngringin, Ngropoh, dan Gempol, dengan tujuan untuk memperkuat peran kader dalam mendukung kesehatan masyarakat, terutama dalam penanggulangan penyakit tuberkulosis (TB) dan kesehatan jiwa.
Trisni Andayani menyampaikan apresiasi atas dedikasi para kader posyandu yang berperan aktif dalam mendukung kesehatan masyarakat. Untuk itu, informasi penting mengenai Program PKG (Pemeriksaan Kesehatan Gratis), yang mulai dapat diakses masyarakat di Pudewa sejak 1 Februari 2025. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan bagi warga sekitar.
"Program PKG bisa diakses oleh masyarakat di Pudewa mulai 1 Februari 2025. Ini merupakan langkah pemerintah dalam meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat," ujar Trisni.
Materi utama pada pertemuan ini disampaikan oleh Alisya, dengan tema ‘Peran Kader dalam Penanggulangan TB’. Alisya menjelaskan bahwa tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang dapat menyerang paru-paru maupun organ tubuh lainnya.
Sebagai garda terdepan dalam kesehatan masyarakat, kader posyandu memiliki peran penting dalam penanggulangan TB. Tugas utama kader antara lain adalah mengenali gejala-gejala TB di masyarakat, melakukan investigasi kontak terhadap anggota keluarga atau orang yang berisiko tertular, serta mendampingi pasien TB untuk memastikan mereka menjalani pengobatan hingga tuntas. Hal ini penting untuk mencegah resistensi obat yang dapat terjadi akibat pengobatan yang tidak sesuai.
“Selain itu, kader juga harus memberikan edukasi kepada masyarakat tentang cara pencegahan TB dan pentingnya pola hidup sehat,” jelas Alisya.
Selain membahas masalah TB, pertemuan ini juga mengangkat tema kesehatan jiwa, khususnya mengenai gangguan Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) yang dapat berisiko dialami oleh kader dan ibu rumah tangga. OCD adalah gangguan mental yang ditandai dengan pikiran obsesif berulang dan perilaku kompulsif yang sulit dikendalikan, seperti ketakutan berlebihan terhadap kotoran atau keharusan untuk mengecek sesuatu berulang kali.
Menurut dr. Alisya, dampak OCD dapat menyebabkan stres, kecemasan berlebih, dan gangguan dalam aktivitas sehari-hari. Kader posyandu yang mengalami OCD berisiko menghadapi kesulitan dalam mengambil keputusan, serta mengganggu hubungan sosial dan keluarga.
“Penting untuk mengenali gejala OCD sejak dini. Ini adalah kondisi yang bisa diatasi. Beberapa cara penanggulangannya antara lain dengan teknik relaksasi seperti meditasi dan pernapasan dalam, serta dukungan sosial dari keluarga dan teman-teman,” jelasnya.
Selain itu, konsultasi dengan tenaga kesehatan mental sangat dianjurkan jika gejala OCD semakin mengganggu kehidupan sehari-hari.
Melalui pertemuan ini, Puskesmas Depok II berharap para kader posyandu semakin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan mental mereka, selain peran aktif mereka dalam mendukung kesehatan fisik masyarakat. Kader yang sehat secara mental akan lebih mampu memberikan dampak positif dalam mendampingi warga, baik dalam aspek kesehatan fisik maupun mental.
Dengan pemahaman yang lebih baik tentang penanggulangan TB dan kesehatan jiwa, diharapkan para kader posyandu semakin siap untuk menjalankan peran mereka dengan lebih optimal dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di sekitar mereka. (Tri Suhartati / KIM Depok)