Pesan-Pesan Penjagub Gorontalo di Festival Green Tumbilotohe

: Deputi Industri dan Investasi Kemenparekraf Rizay Handayani Mustafa, Penjagub Gorontalo Ismail Pakaya, Bupati Bone Bolango, Ketua TP-PKK Fima Agustina, dan Kepala Dinas Pariwisata, saat mencanangkan pembukaan Festival Green Tumbilotohe, Minggu (7/4/2024). (Foto: Fikri Diskominfotik)


Oleh MC PROV GORONTALO, Senin, 8 April 2024 | 15:29 WIB - Redaktur: Bonny Dwifriansyah - 211


Bone Bolango, InfoPublik – Penjabat Gubernur Gorontalo Ismail Pakaya berkesempatan menghadiri pelaksanaan Festival Green Tumbilotohe yang diinisiasi oleh Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo di Taman Taqwa, Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, Minggu, (7/4/2024).

Dalam kesempatan tersebut, banyak hal yang disampaikannya. Ia menilai satu hal yang paling diingat tentang Provinsi Gorontalo adalah momentum Tumbilotohe.

“Tumbilotohe tadi sudah diurai oleh Kadis Pariwisata, adalah tradisi masyarakat Gorontalo di setiap 27 Ramadan sampai jelang Idulfitri. Masyarakat Gorontalo kalau di rantau yang diingat ketika puasa adalah malam pasang lampu ini. Tapi kita harus ingat, Tumbilotohe itu tradisi lokal, pelaksanaannya pun harus melokal,” kata Ismail.

Pesan lainnya yang disampaikan oleh Staf Ahli Kemenaker RI ini adalah masyarakat tetap terus beribadah di malam Tumbilotohe. Ia juga berpesan jangan sampai malam Tumbilotohe hanya menjadi ajang wisata jalan-jalan, tapi harus menjadi ajang wisata religi sebagaimana sejarah hadirnya Tumbilotohe.

“Kita tahu betul sejarahnya ini untuk menyambut malam Lailatul Qadar. Kemudian di zaman dahulu itu kalau pasang lampu maka orang berbondong-bondong datang ke masjid karena ada lampu. Jadi maknanya ini adalah ibadah. Harapan kami ini akan menjadi wisata religi yang akan terus diingat hingga tahun tahun mendatang,” tutur Ismail.

Terkait Festival Green Tumbilotohe, penjagub berharap hal ini dapat terus dilakukan, sehingga pada tahun depan akan lebih meluas, lebih tersebar informasi ke masyarakat. Green Tumbilotohe adalah kegiatan yang berbasis keunikan tradisi lokal dan dikemas mendukung pariwisata hijau. Contohnya wadah lampu dari buah pepaya dan menggunakan bahan bakar minyak kelapa. Menurutnya ini seperti kembali ke zaman awal hadirnya tumbilotohe.

“Kita ingin balik ke masa sebelum mengenal minyak tanah, apalagi sekarag sudah langka. Kalau listrik saya kira dari beberapa tahun kemarin kita mulai beralih, tapi tidak banyak. Di kampung-kampung masih banyak yg pakai lampu minyak tanah, oleh sebab itu green tumbilotohe ini harus terus dilestarikan,” tandasnya.

Festival Green Tumbilotohe di Taman Taqwa Bone Bolango ini menghadirkan ratusan botol lampu dan lampu tradisional dari pepaya, selebihnya menggunakan lampu listrik. Rangkaian acara festival ini sendiri meliputi, musik Islami, bedug takbiran, dan qasidah.

Acara festival ini juga dihadiri oleh Deputi Industri dan Investasi Kemenparekraf Rizay Handayani Mustafa, Bupati Bone Bolango Merlan Uloli, Ketua TP-PKK Provinsi Gorontalo, serta para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif di Kabupaten Bone Bolango. (mcgorontaloprov/echin)

 

Berita Terkait Lainnya

  • Oleh MC KOTA PONTIANAK
  • Jumat, 24 Mei 2024 | 06:45 WIB
Dua Kampung Wisata di Pontianak Masuk Nominasi ADWI 2024
  • Oleh MC KOTA PONTIANAK
  • Selasa, 21 Mei 2024 | 11:31 WIB
Lestarikan Budaya lewat Pekan Gawai Dayak di Pontianak
  • Oleh MC KOTA PONTIANAK
  • Senin, 20 Mei 2024 | 19:23 WIB
Gawai Dayak Picu Pertumbuhan UMKM, Dihadiri 500 Pelancong Mancanegara
  • Oleh MC KOTA PONTIANAK
  • Selasa, 14 Mei 2024 | 09:36 WIB
Karnaval Air Gawai Dayak di Tepian Sungai Kapuas Dorong Perekonomian Warga