Serunya Bermain Pletokan Bambu Saat Jelang Buka Puasa

:


Oleh MC KAB TEMANGGUNG, Senin, 27 Maret 2023 | 10:17 WIB - Redaktur: Eka Yonavilbia - 184


Temanggung, InfoPublik - Banyak cara dilakukan anak pedesaan untuk mengisi waktu sambil menunggu berbuka puasa. Hal itu seperti halnya anak-anak di Dusun Bebengan, Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Minggu (26/3/2023). Setiap sore selepas Salat Ashar, mereka bermain perang pletokan atau sontokan bambu.

"Permainan tradisional perang pletokan atau sontokan bambu ini hanya dimainkan pada bulan puasa, biasanya dimainkan sore hari setelah salat Ashar, anak-anak bermain perangan itu sambil menunggu waktu berbuka puasa," kata Mustofa (41) salah seorang orang tua anak.

Ia mengatakan senjata mainan pletokan ini dibuat dari ranting bambu berdiameter 1 cm. Untuk pelurunya menggunakan kertas bekas yang dibasahi air, sehingga tidak berbahaya jika mengenai tubuh.

"Untuk ranting bambu buat pletokan ini anak-anak dibantu orang tua biasa mengambil di belakang rumah, karena di sini banyak tumbuh pohon bambu," imbuhnya.

Fahturoyan (7) mengatakan, strategi dalam bermain perang pletokan bambu adalah kerjasama antar kelompok. Dimana mereka dituntut untuk menjatuhkan musuh dengan serangan peluru kertas.

"Permainannya itu dibagi dua kelompok, dan masing-masing bersembunyi di balik tembok. Kemudian saling tembak, siapa yang kena peluru, dia yang kalah," katanya.

Putra Halim (9) mengaku senang dengan permainan perang pletokan bambu ini. Sebab, waktu berbuka puasa terasa sangat cepat, karena asyik bermain.

"Kalau main perang-perangan ini waktu berbuka puasa sangat cepat, tahu-tahu udah mau buka puasa, karena keasyikan bermain," katanya.

Permainan pletokan bambu berasal dari Betawi dan eksis di beberapa wilayah di Pulau Jawa. Kemudian dilestarikan sebagai permainan tradisional khas Indonesia. Nama pletokan sendiri diambil dari suara alat permainnya yang berbunyi "pletok".

Pada masyarakat Sunda, mereka menyebut pletokan dengan bebeletokan, sedangkan di Probolinggo dan Madura, mereka menyebutnya dengan tor cetoran. Sedangkan di beberapa wilayah di Jawa Tengah mereka menyebut pletokan dengan tulup dan sontokan.

Permainan ini, biasanya dimainkan oleh anak laki-laki berumuran 6-13 tahun. Mereka yang memainkan permainan ini, seolah-olah sedang menjadi orang yang berada dalam pertempuran, dan terkadang memainkan untuk menirukan adegan film. (MC.TMG/fr;ekp/Eyv)