Pertama Kali Haul Eyang Dipojoedo Dilaksanakan di Desa Tambaksari Blora

:


Oleh MC KAB BLORA, Minggu, 19 Maret 2023 | 18:42 WIB - Redaktur: Tobari - 603


Blora, InfoPublik – Pengajian umum dalam rangka haul Eyang Dipojoedo yang digelar kali pertama di halaman makam Eyang Dipojoedo Desa Tambaksari Kecamatan Blora, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, sukses dilaksanakan dan berlangsung khidmat, Minggu (19/3/2023).

Ketua panitia penyelenggara Wijiono, menjelaskan sebenarnya acara itu sudah digagas lama oleh keluarga besar keturunan Eyang Dipojoedo.

“Kita punya paguyuban keluarga besar keturunan Dipojoedo, yang tebentuk kalau gak salah tahun 1986 sampai sekarang. Yang mana, orang tua kami berinisiatif, semangat sekali mengadakan paguyuban, supaya kita yang muda tidak putus tali silaturahmi,” kata Wijiono.

Meski digagas lama dan baru kali ini terlaksana, Wijiono berharap, dengan adanya haul itu, insyaallah akan dijadikan acara tahunan.

Jadi ini yang pertama, istilahnya ya kecil-kecilan seperti ini. Siapa tahu nanti di kemudian hari seiring dengan perkembangan waktu, acara ini akan semakin besar dan kalau bisa,

"Insyaallah nanti akan sama seperti haulnya Mbah Sunan Pojok, karena Mbah Dipojoedo ini adalah putra Mbah Sunan Pojok,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Suripto, Ketua Paguyuban Keluarag Besar Keturunan Eyang Dipojoedo, menjelaskan kegiatan itu baru pertama kali digelar dan  sudah lebih kurang 1,5 atau dua abad belum dilaksanakan.

Berdasarkan data biografi yang dihimpun dari beberapa sumber, dijelaskannya, Pangeran Dipojoedo, bagi masyarakat Blora dan sekitarnya, memang belum banyak dikenal.

Pangeran Dipojoedo yang dikenal dengan eyang atau mbah Dipojoedo, menurut keterangan yang diperoleh, sering berpakaian khas kejawen dengan memakai iket (blangkon), berbaju hitam, bersarung wulung dan memakai gamparan walau sedang bepergian jauh.

“Tidak hanya kekhasan dalam berpakaian saja, namun beliau juga dikenal sebagai seorang yang ahli strategi perang,” kata Suripto.

Sehingga sering kali, dimintai petunjuk dan nasehatnya perihal tersebut. Namun menurut keterangan yang dapat dipercaya, mbah Dipojoedo lebih senang memilih hidup berbaur dengan masyarakat biasa.

“Beliau memiliki harisma yang luar biasa. Setiap ucapannya, konon memiliki sejumlah makna (sasmita). Bahkan di jajaran pemerintahan Kadipaten Blora, beliau dikenal sebagai seorang yang linuwih dengan beberapa kelebihan yang dimilikinya,” terangnya.

Maka, dengan kepribadian dan sikap hidup serta istiqamah itu, banyak masyarakat yang senantiasa ingin selalu mendapatkan petuah/nasehat-nasehat.

Mbah Dipojoedo bergaul dengan semua lapisan masyarakat tanpa membedakan suku, agama, ras maupun status sosial dan kelompok moral macam apa pun.

“Untuk itulah kita yang ditinggalkan, alangkah tepatnya jika kita menyelenggarakan haul untuk mengenang sekaligus menauladaninya,” kata Suripto.

Pangeran Dipojoedo merupakan putra dari Pangeran Surobahu Abdurrohim atau lebih dikenal dengan sebutan Sunan Pojok, yakni seorang manggalayuda perang Kerajaan Mataram pada masanya Sultan Agung Hanyokrokusumo.

Pada suatu saat Pangeran Surobahu Abdurrohim ditugaskan oleh sang Prabu untuk memadamkan kraman/kerusuhan di wilayah Kadipaten Tuban, Namun sekembalinya dari Tuban sampai di Blora  mengalami sakit sampai akhirnya wafat dan dimakamkan di Dukuh Pojok Buluroto Banjarejo.

Kemudian pada akhirnya makamnya dipindahkan di komplek makam selatan alun-alun kota Blora hingga saat ini. Sunan Pojok diyakini seorang Waliyullah dan dihauli setiap tahunnya. Sehingga Sunan Pojok bagi masyarakat Blora dan sekitarnya sudah tidak asing lagi.

Sunan Pojok memiliki 3 (tiga) orang putra yakni, Pangeran Djojodipo, Pangeran Kleco dan Pangeran Dipojoedo.

Pangeran Djojodipo yang dulu sebagai bupati blora, dimakamkan di komplek makam selatan Alun-alun kota Blora, kemudian Pangeran Kleco yang dulu Bupati Kudus, makamnya di komplek makam Sunan Kudus. Kemudian Pangeran Dipojoedo makamnya di makam keluarga Desa Tambaksari Blora.

Pangeran Dipojoedo adalah putra dari Pangeran Surobahu Abdurrohim atau Pangeran Pojok, Pangeran Pojok merupakan putra dari pangeran Ronggo Sedayu.

Sedangkan Pangeran Ronggo Sedayu ini adalah putra dari Panembahan Marengat, putra dari Pangeran Singabarong.

Sedangkan Pangeran Singabarong ini merupakan menantu dari Sunan Kudus yang dikenal juga dengan Pangeran Djafar Shodiq. Pangeran Djafar Shodiq sendiri adalah putra Sunan Ngudung atau Raden Usman Haji.

Sunan Ngudung merupakan putra dari Ratu Fatimah dan Kholifah Husein. Ratu Fatimah sendiri adalah putri dari Sunan Ampel. Sedangkan Kholifah Husein adalah putra dari Raden Aryo Bariben.

Beliau ini adalah seorang menantu cucu yang ke 13 dari Raden Brawijaya seorang Raja Majapahit. Dengan demikian silsilah sejarah Eyang Dipojoedo mempunyai hubungan erat dengan kerajaan Majapahit.

Pangeran Dipojoedo memiliki dua orang putra, yakni Pangeran Ongkowidjojo dan Pangeran Soetowidjojo. Pangeran Ongkowidjojo dulu makamnya di komplek makam Dukuh Ngawen Desa Tambaksari.

Sedangkan Pangeran Soetowidjojo makamnya juga di sini, di makam keluarga Desa Tambaksari.

Adapun trah keturunan Pangeran Ongkowidjojo banyak yang tinggal di Desa Keser dan Desa Sitirejo. Sedangkan trah keturunan Pangeran Soetowidjojo banyak yang tinggal di Desa Tambaksari.

“Demikian sekilas tentang biografi Pangeran Dipojoedo, jika terdapat kesalahan ataupun kekurangan dan kelebihan, dari pihak-pihak yang terkait dengan penulisan sekilas tentang biografi Pangeran/Eyang Dipojoedo, semoga dimaafkan dan diampuni,” ungkap Suripto.

Pada rangkaian acara itu juga dilaksanakan ziarah ke makam Mbah Dipojoedo dan lainnya oleh perwakilan keluarga.

Sementara itu Kepala Desa Tambaksari Ahmad Heru Gunawan dalam sambutannya memberikan apresiasi atas teselenggaranya acara itu.

“Betapa luar biasanya Eyang Dipojoedo, maka dari itu kami berinisiatif melaksanakan haul. Alhamdullah haul Eyang Dipojoedo bisa terlaksana yang pertama dan berharap haul semacam ini tidak berhenti Cuma sekali ini saja,” kata Kades Tambaksari.

Jadi, tambahnya bisa dilaksanakan rutin, haul tiap tahun, dan pemerintah desa siap mendukung, terutama dari masyarakat juga diminta untuk dukungannya.

Mengakhiri acara disampaikan ceramah oleh Kyai M. Kholili dari Desa Sitirejo Kecamatan Tunjungan yang juga keluarga besar keturunan Eyang  Dipojoedo. (MC Kab. Blora/Teguh/toeb).