Jakarta, InfoPublik - Presiden RI Prabowo Subianto mengatakan, Indonesia berhasil swasembada energi dengan berhasil memproduksi diesel B50, dari kelapa sawit atau bahan bakar solar dengan campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit.
“Mulai 1 Juli 2026 kita tidak lagi impor solar dan berhasil hemat devisa Rp170 triliun sekitar USD9,5 miliar yang tidak lagi harus kita kirim ke luar negeri,” kata Presiden Prabowo, dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI di Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Menurut Presiden, dalam waktu kurang dari dua tahun, pemerintah telah membuktikan bahwa dengan keberanian mengambil keputusan, dengan kerja keras, dengan hati yang tulus, kehendak yang jelas, dan gotong royong seluruh unsur bangsa,masalah-masalah yang selama puluhan tahun dianggap sangat rumit, atau terlalu rumit dapat kita mulai diselesaikan. “Dalam 21 bulan, tepatnya 663 hari sampai hari ini, pemerintah yang saya pimpin telah memutuskan dan menjalankan 121 kebijakan-kebijakan transformatif untuk menyelesaikan masalah-masalah negara. Sebagian masalah-masalah itu telah berpuluh tahun tidak diselesaikan. Artinya kita telah putuskan satu kebijakan transformatif setiap lima hari,” katanya.
Sebelumnya, pemerintah resmi memulai implementasi mandatori biodiesel B50 atau bahan bakar solar dengan campuran 5 persen biodiesel berbasis minyak sawit. Program yang diluncurkan Presiden RI Prabowo Subianto di Rest Area KM 57, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, pada Kamis (9/7/2026).
Kebijakan itu menjadikan Indonesia sebagai negara pertama di dunia yang menerapkan kebijakan mandatori Biodiesel B50.
Pemerintah menempatkan implementasi B50 sebagai bagian dari strategi besar menuju swasembada energi. Selain diklaim mampu menghentikan impor solar, kebijakan tersebut juga diproyeksikan meningkatkan penghematan devisa, memperbesar penyerapan minyak sawit domestik, memperkuat industri hilir, serta membuka lebih banyak lapangan kerja.
Sedangkan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, implementasi B50 merupakan bagian dari upaya mewujudkan swasembada energi sesuai Astacita Presiden RI Prabowo Subianto.
Menurut Bahlil, kebijakan tersebut memungkinkan Indonesia menghentikan impor solar yang selama ini mencapai sekitar 3 juta hingga 4 juta kiloliter per tahun, sementara konsumsi solar nasional berada pada kisaran 38 juta hingga 40 juta kiloliter per tahun.
Menteri Bahlil menyebutkan, keberhasilan B50 tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kadar campuran biodiesel, tetapi juga mencerminkan upaya memperkuat kedaulatan dan kemandirian energi nasional.