Diplomasi Vaksin Indonesia di Kancah Dunia

:


Oleh Taofiq Rauf, Minggu, 11 Juli 2021 | 21:38 WIB - Redaktur: Taofiq Rauf - 1493


Jakarta, InfoPublik - Menteri Luar Negeri Retno P Marsudi telah menerima kedatangan Batch-3 vaksin COVD-19 dari jalur multilateral (Covax Facility) di Bandara Soekarno-Hatta pada Sabtu (8/5/2021). Kehadiran tambahan vaksin ini memberikan angin segar bagi pemerintah yang terus menggencarkan vaksinasi.

Pemerintah mempunyai target melakukan satu juta vaksinasi setiap hari. Namun hal itu tidaklah mudah mengingat akses dan ketersediaan vaksin yang semakin terbatas di dunia. Apalagi setelah India memprioritaskan vaksin COVID-19 untuk kebutuhan dalam negeri menyusul pandemi gelombang kedua yang mengejutkan negara tersebut.

Kendati terbatas, bukan berarti pemerintah diam saja  dan tidak melakukan apa-apa. Kementerian Luar Negeri RI menjadi salah satu garda terdepan dalam upaya penyediaan vaksin tersebut. Lobi-lobi dilakukan agar Indonesia bisa mendapatkan akses ke negara-negara produsen vaksin. Hasilnya Indonesia telah mendapatkan lebih dari 75 juta dosis vaksin dari Sinovac, Astrazeneca, dan Sinopharm.

Menteri Luar Negeri Retno P Marsudi pun terus mendorong keseteraan vaksin bagi seluruh negara-negara di Indonesia. Indonesia, kata Retno, mendukung setiap langkah yang dilakukan untuk mendukung penyediaan vaksin, termasuk penghapusan paten vaksin. Berikut wawancara dengan Menteri Retno beberapa waktu lalu.

Bagaimana ketersediaan vaksin Covid-19 di Tanah Air?

Kita patut bersyukur bahwa Indonesia dapat kembali menerima Batch-3 dari jalur multilateral yaitu dari Covax Facility. Jumlah Vaksin Astrazeneca dalam bentuk vaksin jadi yang tiba pada 8 Mei 2021 adalah 1.389.600 dosis. Di samping itu pada   6 Mei 2021, telah mendahului tiba 55.300 dosis vaksin Astrazeneca. Dengan demikian jumlah vaksin Batch-3 yang diterima pada pekan tersebut dari Covax Facility adalah 1.444.900 dosis vaksin. Adapun total vaksin Astrazeneca dari jalur Covax atau multilateral dan telah tiba di Indone- sia mencapai 6.410.500 dosis vaksin.

Sementara jika kita hitung secara ke seluruhan dengan ketibaan vaksin per 8 Mei, maka Indonesia telah  mengamankan 75.910.500 dosis vaksin dengan rincian Sinovac   68.500.000 dosis, Astrazeneca 6.410.500 dosis, dan Sinopharm sebanyak 1.000.000 dosis.

Persaingan untuk mendapat vaksin terbilang ketat, langkah apa yang dilakukan RI mendapat vaksin-vaksin ini?

Indonesia sangat memahami bahwa upaya untuk memenuhi komitmen kesetaraan akses vaksin bagi semua negara tidaklah mudah. Usaha keras terus dilakukan oleh Covac Facility yang didukung aliansi global vaksin GAVI, WHO, the Coalition for Epidemic Preparedness Innova tions (CEPI), dan bermitra dengan Unicef untuk memenuhi vaksin setara bagi se- mua negara. Kita apresiasi usaha tersebut.

Dari sejak awal pandemi, Indonesia se- cara konsisten terus menyuarakan akses vaksin yang setara bagi semua. Indonesia mendukung penghapusan paten vaksin COVID-19 guna mendorong kapasitas pro- duksi dunia terhadap vaksin. Ini adalah salah satu bentuk upaya kolaborasi dunia untuk meratakan jalan bagi akses vaksin setara bagi semua.

Dapat juga saya sampaikan bahwa pada 17 Mei 2021, Covax AMC Engagement grup kembali bertemu untuk membahas situasi terkini upaya pemenuhan vaksin setara di semua negara, bersama menteri kesehat an Ethiopia dan menteri pembangunan internasional Kanada, saya memimpin Co- vax AMC Grup tersebut Apa saja yang dibahas dalam AMC?

Pertemuan Covax AMC-EG kali ini membahas berbagai isu penting. Di antaranya terkait perkembangan terkini terka- it suplai dan distribusi vaksin, pendanaan dan peluang investasi, dukungan distribu- si vaksin, upaya membangun kepercayaan publik terhadap vaksin, dan strategi Co- vax Facility pada 2022.

Dalam pembahasan terlihat bahwa meskipun masih terdapat tantangan baik dari penyebaran virus maupun ketersedi- aan suplai vaksin, namun komitmen global telah memberikan harapan besar ter- hadap upaya bersama atasi pandemi ini.

Saat ini, pasokan vaksin Covax terhambat karena peningkatan kasus di India, bagai- mana Covax AMC Engagement merespons hal tersebut?

Mengenai keterlambatan pasokan vaksin untuk vaksin Covax Facility, vaksin AstraZeneca yang diproduksi oleh SII (India) terkirim sekitar 18 persen, dan produksi vaksin AZ oleh SK Bio (Korsel) terkirim 50 persen dari komitmen awal. Situasi ini di harapkan akan membaik pada akhir tahun dengan bertambahnya komitmen dari beberapa produsen vaksin lain dan dengan bertambahnya vaksin yang memperoleh Izin Penggunaan di Masa Darurat (EUL) dari WHO. Selain itu, upaya melipatgandakan kapasitas produksi vaksin termasuk dengan menghapuskan (waive) hak paten vaksin sangat krusial dalam upaya melawan pandemi.

Hingga saat ini Covax Facility telah me- megang komitmen suplai untuk 1,7 miliar dosis, dari total kebutuhan 2 miliar dosis yang didistribusikan pada 2021. Sejauh ini, 67,3 juta dosis telah dikirim oleh Co- vax Facility ke 124 negara. Dari keseluruhan jumlah negara yang dijadwalkan menerima vaksin hingga Juni 2021, 85 persen di antaranya telah menerima pengiriman pertama.

Berapa komitmen pendanaan yang telah diterima dalam Covax?

Terkait pendanaan, dari total 8,3 miliar dolar AS yang dibutuhkan, saat ini telah terkumpul 6,6 miliar dolar AS. Ini meru- pakan perkembangan positif dan diharapkan sisanya akan segera dapat terpenuhi di waktu ke depan khususnya saat pertemuan AMC Summit yang akan diselenggarakan bersama GAVI dan pemerintah Jepang pada Juni 2021 mendatang.

AMC Summit ini memiliki arti strategis dalam rangka mengumpulkan dukungan dan kontribusi untuk menutup kekurangan pendanaan sekitar 2 miliar dolar AS dan juga memobilisasi dukungan pemimpin dunia terhadap kerja Covax Facilities.

Seberapa jauh ketidaksetaraan dalam distribusi vaksin di dunia?

Ketidaksetaraan distribusi vaksin di tingkat global masih besar. Hanya 0,3 per-sen dari suplai vaksin yang tersedia saat  ini dikirimkan ke negara berpenghasilan rendah. Oleh karena itu, diperlukan lang- kah segera untuk dapat memastikan akses setara kepada vaksin, karena tidak ada negara yang dapat sepenuhnya bebas dari COVID-19, selama masih ada negara lain yang terjangkit.

Bagaimana kekhawatiran dunia soal munculnya peningkatan kasus di India?

Per pekan pertama Mei 2021 jumlah kasus positif dunia sudah melebihi 157 juta kasus, dengan angka kematian lebih dari 3,2 juta orang. Dari laporan pekanan WHO mengenai kasus epidemiologi global, sampai 2 Mei 2021, disebutkan bahwa jumlah kasus global dua pekan terakhir melebihi enam bulan awal-awal pandemi. Jumlah ini sangat tinggi dengan lebih dari 5,7 juta kasus per minggunya.

Kawasan Asia Tenggara yang dalam terminologi WHO terdiri dari India, Indonesia, Nepal, Bangladesh, Srilanka, Thailand, Maldives, Timor Leste dan Bhutan mengalami kenaikan kasus tertinggi yakni sebesar 19 persen dalam sepekan sampai 2 mei 2021. Dengan kenaikan ini, maka kontribusi kasus baru Asia Tenggara mencapai 47 ersen dari kasus dunia dalam kurun waktu tersebut. Kenaikan ini cukup tinggi ini terutama di India.

Apa yang harus dilakukan untuk menyikapihal tersebut?

Kondisi ini penting menjadi pengingat kita bahwa penyebaran virus masih terjadi dimana-mana, kita harus tetap waspada, setiap dari kita dapat menjadi bagian dari ikhtiar untuk pencegahan peningkatan virus COVID-19. Caranya kita sukseskan ikhtiar vaksinasi pemerintah, dan terpenting patuhi protokol kesehatan jangan pernah kendor. Mematuhi protokol kesehatan bukan hanya akan melindungi diri sendiri, tapi juga orang orang di sekitar kita.

 

Baca dan download lengkapnya di Edisi 6 GPR News: http://www.gprnews.id/books/sndh