Meraup Cuan di Tengah Pandemi

:


Oleh Taofiq Rauf, Sabtu, 6 Maret 2021 | 07:44 WIB - Redaktur: Taofiq Rauf - 768


Jakarta, GPR News - Tak pernah terbayangkan oleh Tira Ariyanti bahwa suatu saat akan berjualan telur ayam, gula, beras, dan juga minyak kayu putih. Sarjana teknik arsitektur dari sebuah universitas ternama di negeri ini tersebut semula adalah seorang arsitek dan bersama suaminya, Andrey Dwijaya, memiliki rumah desain dan perusahaan jasa konstruksi skala menengah. Sudah tak terhitung berapa banyak karya arsitektur telah mereka hasilkan.

Selama masa pandemi virus COVID-19 ini Tira dan Andrey nyaris tidak lagi menerima klien untuk sekadar menyewa jasa desain bangunan. Keduanya mengaku pendapatan selama hampir setahun ini nyaris nol rupiah dari rumah desain dan jasa konstruksi.

“Orang lebih memilih menyimpan uang mereka rapat-rapat dibandingkan dibelanjakan untuk properti,” kata keduanya. Ini adalah periode paling terpuruk selama hampir 15 tahun keduanya menjalankan bisnis.

“Rumahkan” karyawan

Pasangan suami istri ini juga mulai merumahkan sebagian pegawai yang selama ini telah membantu mereka. Langkah ini terpaksa dilakukan karena Tira dan Andrey mengaku tak mampu lagi menggaji karyawan. Agar roda ekonomi keluarga tetap berputar, pasangan dengan empat anak ini pun putar otak.

Berbekal posisi rumah yang berada di tengah-tengah permukiman kelas atas di pinggiran selatan Jakarta yang berbatasan dengan Depok, keduanya mulai berjualan sembilan bahan pokok (sembako) kepada para tetangga mereka. Modal awal berjualan sembako diambil dari tabungan Andrey.

Awalnya, mereka hanya menawarkan beras dan gula melalui platform media sosial WhatsApp Group yang berisi ratusan anggota yang tak lain adalah para tetangga Tira-Andrey. Tak disangka, para tetangga meminati produk yang ditawarkan keduanya. Salah satunya adalah keluarga artis Raffi Ahmad yang juga menghuni perumahan tersebut.

Tira-Andrey pun mulai menambah produk dagangan mereka. Tak lagi hanya beras dan gula, tetapi juga telur ayam dan minyak goreng dan lagi-lagi disambut dengan sangat baik. Setiap hari, Andrey ditemani anak sulungnya menggunakan mobil berkeliling komplek perumahan berisi sekitar 250 kepala keluarga itu untuk mengantarkan beragam pesanan. Aktivitas ini sudah dilakoni sejak Mei 2020.

Mereka tak hanya berjualan sembako, tetapi merambah ke produk minyak kayu putih yang didatangkan langsung dari Pulau Buru, Maluku. Kebetulan, keluarga Tira berasal dari Maluku dan salah satu kerabatnya ada yang memiliki usaha tersebut di Buru. Produk minyak kayu putih dalam aneka kemasan pun dijajakan Tira tak hanya ke lingkungan perumahannya, tetapi juga dijual umum.

Ia memanfaatkan aplikasi toko online agar produknya dikenal dan dapat dibeli masyarakat. Pandemi COVID-19 ini makin melariskan produk minyak kayu putihnya karena diyakini mampu menangkal virus corona. Puluhan juta rupiah pun mampu ia raup dari berjualan minyak kayu putih dalam tempo tiga bulan seiring makin meningginya angka penderita COVID -19. Angka itu belum termasuk keuntungan dari berdagang sembako yang juga memberikan cuantaksedikittiap bulannya.

Rumah mereka pun kini sesak oleh belasan peti kayu bekas wadah telur, dan belasan jeriken berisi puluhan liter minyak kayu putih yang siap dikemas ke dalam ratusan wadah.

“Setidaknya kami masih bisa memutar roda ekonomi keluarga. Kami juga ikut membantu distribusi produk sembakoseperti telur, beras dan minyak kayu putih yang kami beli dari kelompok usaha mikro kecil menengah (UMKM),” kata Andrey kepada GPR News, Jumat (15/1/2021).

Banting stir

Lain lagi cerita Fakhruddin, pedagang sepatu yang banting setir menjadi penjual nasi uduk. Boy, begitu biasanya ia disapa, sebelum pandemi terjadi adalah pedagang sepatu yang menyewa tiga kios di Jakarta. Virus corona tak hanya membuat sakit mereka yang terpapar, tetapi juga telah menyakiti iklim usaha Boy. Nyaris tidak ada yang membeli sepatu, terlebih ketika para pelajar mulai belajar dari rumah hampir setahun ini. Ini lantaran Boy banyak menjajakan sepatu untuk pelajar.

Omset usaha pun terjun bebas berkurang hingga hampir 90 persen ketika pandemi mulai melanda Indonesia di bulan ketiga, atau Mei 2020. Pria berdarah Minangkabau ini pun cepat-cepat menutup toko dan menarik semua stok sepatu yang masih tersedia. "Sebagian besar sepatu-sepatu yang masih belum laku terjual saya hibahkan kepada beberapa rumah yatim dan asrama yatim piatu agar lebih bermanfaat," kata Boy. 

Ia pun mengubah haluan bisnisnya. Berbekal kepandaian memasak, Boy pun memberanikan diri berdagang nasi uduk dengan resep dari ibumertuayang asli Betawi. Dengan modal daritabungan miliknya, ia pun memulai usaha nasi uduk. Iamulai berjualan pukul 16.00 WIB hingga tengah malam di depan sebuah lahan kosong di tepi jalan raya yang ramai dilalui kendaraan di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan.

Lahan kosong itu warisan milik orang tua temannya sehingga ia tak perlu membayar sewa tempat. Bahkan teman Boy itu pun ikut membantu berdagang nasi uduk lantaran menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK) karena perusahaan tempatnya bekerjabangkrut sejak pandemi. Sejak memulainya pada Juli 2020, Boy mengaku usaha nasi uduknya mulai dikenal banyak orang. Setiap harinya ia harus memasak hampir 40 liter nasi dan puluhan potong dada dan paha ayam ludes terjual.

Seporsi nasi uduk racikan Boy dijual seharga Rp20 ribu dengan isi sepotong dada atau paha ayam beserta sambal dan sayur pelengkap. Harga terjangkaudan racikan nasi uduk yang enak ditambah aneka sambal pelengkap menjadi kunci larisnya dagangan Boy.

Manfaatkan aplikasi online

Boy juga mengenalkan produk nasi uduknya ke jaringan platform aplikasi milik perusahaan ojek online ternama. Ia mengaku, bisnis barunya ini lebih menjanjikan karena berhubungan dengan kebutuhan dasar masyarakat. Ia pun tidak perlu mengeluarkan banyak uang hanya untuk membayar sewa tempat seperti halnya ketika masih berdagang sepatu.

Di sisi lain, Boy juga telah membantu kelancaran distribusi produk seperti beras, santan kelapa, daging ayam, dan sayur seperti tomat dan ketimun serta cabai yang dijual pedagang di pasar. Karena produk-produk tersebut merupakan komponen dasar dari berjualan nasi uduk miliknya.

Aneka olahan susu

Merosotnya omset tak hanya dialami Boy dan pasangan Tira-Andrey. Hal serupa juga dialami Endang, pembuat keju berbahan susu sapi. Bahan baku susu ia peroleh dari peternakan sapi di sekitar tempat tinggalnya di Parung, Bogor, Jawa Barat. Sejak memulai usahanya 3 tahun lalu, produk keju buatan Endang laris dipesan pembeli yang umumnya restoran dan produsen kue rumahan yang menjual produk berbahan keju.

Namun, sejak pandemi, permintaan keju aneka jenis yang diproduksi Endang bersama 5 karyawannya langsung anjlok. Jika biasanya dalam seminggu ia mampu menjual 100 kilogram keju kepada pelanggan, saat ini tak lebih dari 30 kg keju yang mampu ia jual dalam 2 minggu. Penyebab utamanya karena banyak usaha restoran langganan Endang yang gulung tikarselamapandemiini.

Endang pun bermanuver untuk menghindari kebangkrutan usaha. Bersama kelima karyawannya, ia lebih banyak memproduksi berbagai aneka olahan susu dalam bentuk produk yogurt dengan harga terjangkau. Seperti es yogurt yang ia jual seharga Rp20.000 isi 20 buah. Ia juga menjual produk yogurt aneka rasa siap saji dalam kemasan botol berbagai ukuran seharga Rp15.000-Rp30.000 per botol.

Seperti juga Boy dan Tira, Endang pun memanfaatkan aplikasi toko online dan jasa layanan serupa dari perusahaan ojek online ternama untuk mengerek omset penjualan produknya. "Saya banyak terbantu dengan hadirnya aplikasi toko online karena lebih mudah dalam memasarkan produk saya," kata Endang.

Tira, Andrey, Boy, dan Endang adalah sosok-sosok pengusaha yang mencoba untuk tetap bertahan di tengah pandemi Covid-19.  Mereka berpikir inovatif dengan mencari alternatif dan peluang lainnya agar bisa melewati badai ini dengan selamat. 

Pandemi telah banyak meruntuhkan perusahaan-perusahaan besar. Jutaan UMKM di tanah air juga terpukul. Kadin Indonesia mencatat hingga awal Oktober 2020 sudah lebih dari 6,4 juta pekerja di PHK hingga awal Oktober 2020. Para pengusaha dan pekerja pun semua satu suara, berharap agar pandemi ini segera berakhir. (Redaksi)

Foto: Antara

Baca rubrik lainnya di Majalah GPR News di:

https://komin.fo/AnginSegarBansos

atau download versi lengkapnya di:

https://komin.fo/anginsegarbansos