Karena Emosi Setitik, Rusak Hidup Selamanya

:


Oleh Elvira, Sabtu, 10 Desember 2022 | 14:01 WIB - Redaktur: Elvira - 1173


Tragis sekali akhir hidup Maiba (60), seorang warga Dusun Talang Seluai, Lampung Utara, Provinsi Lampung. Ia meregang nyawa di rumahnya pada Minggu (9/10/2022). Pembunuhnya adalah anak kandungnya sendiri, SRP (30). Dilatarbelakangi emosi, diduga karena tidak diberi uang untuk membeli rokok, SRP (30) tega membunuh Maiba.

Banyak kasus kekerasan bahkan berujung pembunuhan yang berawal dari adanya amarah atau sulit mengendalikan emosi. Setiap orang pasti pernah merasakan emosi pada dirinya, entah itu marah, bahagia, takut, kecewa, dan emosi-emosi lainnya. Emosi muncul dari pengalaman yang kita alami secara sadar dan meliputi perasaan kita. Menurut Chaplin (1989) dalam Dictionary of Psychology, emosi adalah sebagai suatu keadaan yang terangsang dari organisme mancakup perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam sifatnya dari perubahan perilaku. Hal Ini dapat tergambar dengan adanya perubahan ekspresi pada wajah dan nada suara yang cenderung meninggi.

Kasus pembunuhan oleh SRP merupakan salah satu contoh emosi yang tidak stabil pada diri anak. Emosi yang tidak stabil bukan merupakan hal yang sepele, tetapi sesuatu yang dapat berdampak tragis pada sang ibu. Karena itu kita perlu tau lebih lanjut apa sih emosi yang tidak stabil? Lalu bagaimana cara kita mengatasinya? Simak penjelasannya yuk!

Apa yang dimaksud dengan emosi tidak stabil?

Menurut Wirawan, emosi menyebabkan individu melakukan sesuatu di luar kendali tanpa mempedulikan perasaan orang lain. Hal itu disebabkan oleh tingkah laku yang pada saat itu tidak dapat dikendalikan dengan baik, sehingga dampaknya akan mengakibatkan individu menjadi tidak peduli pada lingkungannya.

Emosi yang tidak stabil ini ditandai dengan munculnya kemarahan karena hal yang sepele. Contoh dalam kehidupan sehari-hari, seperti saat kita merasakan marah karena tidak dapat menyelesaikan tugas yang mengakibatkan kita secara tidak sadar merobek-robek kertas yang berisikan tugas. Ini merupakan contoh emosi yang tidak stabil, yang bisa saja muncul dalam diri kita.

Contoh lainnya dapat dilihat pada suporter bola yang emosi karena tim jagoannya kalah saat pertandingan, yang mengakibatkannya meredam emosi sepanjang hari. Tentu saja hal tersebut dapat berdampak pada lingkungan sekitarnya, bahkan emosi yang tidak stabil juga bisa membuat aktifitas kita menjadi terganggu.

Apa yang memengaruhi kestabilan emosi?

Menurut Marliany (2010) ada beberapa aspek yang dapat mempengaruhi kestabilan emosi seseorang. Pertama, dalam kehidupan kita membutuhkan rasa aman dan juga nyaman. Dengan adanya kenyamanan kita menjadi tenang untuk melakukan semua hal. Misalnya, ketika kita tidak nyaman dengan kondisi sekolah yang banjir, apakah kita akan merasa nyaman untuk belajar?

Aspek yang kedua adalah adanya rasa percaya diri (trust) akan kemampuan yang dimiliki oleh individu. Ketika rasa percaya diri itu timbul, maka hal tersebut akan mempermudah individu dalam bergaul dan memperlihatkan kemampuan individu tersebut dalam bersikap dan berbicara baik secara formal, maupun dalam kesehariannya.

Aspek yang ketiga adalah pengontrolan diri, yaitu gambaran pribadi yang kuat dan stabil. Dengan kata lain, Individu dapat mengendalikan emosi sehingga terhindar dari tingkah laku yang tidak diinginkan. Bila kita tidak mampu mengontrol emosi maka akan berdampak pada orang lain. Misalnya, saat kita marah hanya karena hal sepele yang berujung membanting barang orang, maka hal tersebut tentu dapat merugikan orang lain juga. Jika salah satu faktor di atas tidak terpenuhi dengan baik maka bisa menyebabkan emosi yang tidak stabil pada diri kamu.

Apakah emosi yang tidak stabil merupakan tanda mental tidak stabil?

Betul sekali. Orang yang mengalami emosi yang tidak stabil bisa dipastikan mengalami gangguan pada kesehatan mentalnya. Bila ini terjadi terus-menerus dalam diri individu, bisa berdampak buruk untuk diri sendiri maupun orang lain. Dampak pada diri sendiri contohnya seperti saat kita sedang melihat media sosial, lalu ada orang yang update mengenai aktivitasnya, kita lalu merasa marah ataupun cemburu, hingga emosi kita pun tidak stabil.

Bagaimana cara mengontrol emosi agar stabil?

Ada beberapa tahap yang bisa kita lakukan dalam mengendalikan emosi agar tidak berlebihan. Yaitu dengan membuat hidup kita menjadi positif. Maksudnya adalah, dengan kita membuat pola hidup sehat.

Hidup yang sehat seperti istirahat yang cukup sehingga membuat kita lebih rileks. Gunakan waktu tidur kita sebaik mungkin. Begadang yang mengakibatkan kurangnya tidur dapat menyebabkan kondisi fisik lemah, letih, dan lesu yang akan berdampak pada emosi.

Mengontrol emosi juga bisa dilakukan dengan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dengan melakukan ibadah. El Bantanie berpendapat dengan mengambil air wudu, seseorang dapat menetralisir jiwanya menjadi lebih stabil sehingga dapat berpikir dengan jernih. Terapi wudu juga bisa mengurangi emosi dan kecemasan.

Melakukan aktivitas yang membuat rileks juga dapat mengontrol emosi. Contohnya dengan mendengarkan musik. Musik dapat membuat jiwa lebih tenang dan efektif dalam meredakan rasa yang tidak seimbang.

Sebagai individu kita harus bertanggung jawab mengontrol emosi agar mengganggu ketenangan orang lain. Bahkan jangan sampai karena emosi sesaat bisa merusak masa depan.


Penulis: Raisa Adelia, mahasiswi Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Editor: Elvira Inda Sari/InfoPublik
Foto:Ilustrasi/Antara