"Bajangkat Utem", Cara Unik Perempuan Gayo Mengangkat Kayu Bakar

:


Oleh MC Kab Aceh Tengah, Senin, 26 April 2021 | 13:13 WIB - Redaktur: Kusnadi - 1K


Catatan : Fathan Muhammad Taufiq *)

Beralihnya penggunaan kayu bakar kepada gas elpiji atau energi listrik untuk aktifitas memasak, sudah menjadi kelaziman hampir semua orang pada saat ini. Bukan hanya di wilayah perkotaan saja, tapi penduduk perdesaan juga sudah lama meninggalkan kebiasaan memasak dengan kayu bakar dan beralih menggunakan kompor gas atau alat memasak elektrik. Itu jauh lebih efektif dan praktis ketimbang menggunakan kayu bakar, karena sekarang kayu bakar juga semakin langka dan sulit didapatkan, sementara pasokan gas elpiji dan arus listrik kini sudah menjangkau ke pelosok-pelosok desa.

Memasak menggunakan kayu bakar sejatinya bisa menghasilkan masakan yang lebih lezat dengan aroma alami dibanding memasak dengan kompor gas atau pemasak listrik. Tapi memasak dengan kayu bakar juga cukup menyita tenaga para perempuan ibu-ibu rumah tangga, karena selain menghidupkan api di dapur kayu agak sulit, semua peralatan masak juga jadi hitam belepotan jelaga dan sulit dibersihkan.

Meski demikian di beberapa wilayah perdesaan di daerah dataran tinggi Gayo, masih ada juga rumah tangga yang masih bertahan menggunakan kayu bakar untuk menyiapkan hidangan keluarga sehari-hari. Bukan tak mampu membeli kompor gas atau peralatan measak elektronik, tapi lebih karena menghargai warisan budaya leluhur. Dan efeknya, hidup mereka jauh lebih sehat ketimbang mereka yang sudah “termakan” modernisasi.

Kebiasaan memasak dengan kayu bakar masih bertahan di beberapa wilayah perdesaan yang berdekatan dengan kawasan hutan, dimana mencari kayu bakar berupa rerantingan pohon yang sudah kering lebih mudah dilakukan. Sebut saja desa Jamat di pedalaman kecamatan Linge, Aceh Tengah, di sana masih bisa kita jumpai rumah tangga yang masih bertahan menggunakan kayu bakar untuk aktifitas memasak mereka.

Uniknya, aktifitas mencari kayu bakar yang tergolong “berat” ini, jarang dilakukan oleh kaum pria, tapi dilakukan oleh para perempuan. Meski berat, tapi mereka tidak menganggap ini sebuah beban, tapi sudah semacam “kewajiban” rutin para perempuan desa tersebut. Seperti kita ketahui, para perempuan di perdesaan, selain memerankan diri sebagai ibu rumah tangga yang harus mengurus tetek bengek keperluan rumah tangga, mereka juga seperti “terpanggil” untuk membantu suami mereka yang bekerja sebagai petani di sawah atau di kebun.

Layaknya “perempuan-perempuan perkasa”, mereka lihai memainkan cangkul untuk membersihkan kebun atau mencangkul sawah, mengimbangi pekerjaan suami mereka. Mereka juga terbiasa mengayunkan parang untuk membabat rumput yang menyemak di kebun mereka, bahkan pekerjaan mereka jauh lebih banyak dan lebih berat dibanting para prianya. Pagi-pagi, mereka sudah bergelut dengan asap di dapur untuk menyiapkan sarapan dan bekal ke kebun atau kesawah, kemudian menyusul suami mereka sambil menenteng perbekalan. Sampai di sawah atau kebun, mereka tak lantas beristirahat, tapi juga ikut “terjun” membantu pekerjaan suami.

Mengendong kayu dengan “jangkat”.

Tak cukup sampai di situ, menjelang pulang ke rumah, mereka masih menyempatkan diri mengumpulkan kayu bakar dari pinggiran hutan untuk dibawa pulang. Seperti tak mengenal kata lelah, meski sudah seharian bekerja di sawah atau kebun, perempuan-perempuan itu kemudian menggendong kayu bakar itu sampai ke rumah. Ada cara unik perempuan Gayo untuk membawa kayu bakar itu, dalam istilah setempat disebut “bejangkat utem” atau mengendong kayu bakar menggunakan  tali anyaman berbahan serat kulit kayu yang disebut “jangkat”. Meski beban mereka cukup berat, bisa mencapai puluh kilogram, tapi para perempuan itu masih bisa tersenyum dan berlenggang santai mengendong beban kayu bakar di punggungnya.

Eksploitasi kaum perempuan?, bukan, karena mereka menjalaninya dengan suka rela dan menganggap itu bagian dari “kodrat” mereka. Nyatanya mereka menjalaninya dengan ikhlas bahkan tak jarang selama perjalanan mereka masih bisa bercanda dengan sesama mereka, seakan tidak ada beban apapun. Tapi pemandangan seperti itu sekarang sudah semakin langka, karena emansipasi dan kesetaraan gender juga sudah lama merambah daerah ini. Kalaupun masih ada, itu hanya bisa kita dapati di desa-desa terpencil yang jauh dari perkotaan dan bisa jadi pemandangan unik.

Haruskan ini dipertahankan?, tentu saja tidak, karena tidak semestinya perempuan-perempuan yang harus kita muliakan ini menganggung beban berat yang tidak semestinya mereka tanggung sendirian, sangat dibutuhkan peran para laki-laki untuk meringankan beban ini. Beban mereka mengurus rumah tangga, mengasuh anak dan melayani suami sudah cukup berat, tak seharusnya mereka masih menanggung beban yang lebih berat lagi. Meski mereka tak merasa terpaksa atau dipaksa, tapi memang tak selayaknya beban berat seperti itu harus mereka tanggung. Meski demikian kita tidak bisa langsung memvonis bahwa ini adalah eksploitasi perempuan, karena ini menyangkut tradisi dan kearifan lokal Gayo yang sudah berlangsung turun temurun, dan inilah salah satu kkayaan khasanah budaya di negeri kita.

*) Kasie Layanan Informasi dan Media Komunikasi Publik pada Dinas Kominfo Kabupaten Aceh Tengah.