Jakarta, InfoPublik – Upaya pemulihan pascabencana yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra pada akhir 2025 kini mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Tidak hanya pemerintah dan relawan kemanusiaan yang terlibat, mahasiswa juga turun langsung ke desa-desa terdampak membawa teknologi sederhana dan inovasi yang dapat diterapkan masyarakat.
Melalui Program Mahasiswa Berdampak yang diinisiasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (UM Tapsel) mendampingi warga Desa Hutagodang, Sumatra Utara, untuk memulihkan lahan pertanian, menghidupkan kembali aktivitas ekonomi, sekaligus membantu pemulihan psikologis masyarakat pascabanjir bandang.
Pendampingan yang berlangsung sepanjang Februari 2026 tersebut mengusung pendekatan agroekologi, sociopreneurship, serta konseling trauma. Pendekatan ini dinilai relevan dengan kebutuhan masyarakat yang kehilangan sumber penghidupan setelah bencana.
Ketua tim pelaksana program sekaligus dosen Fakultas Pertanian UM Tapsel, Darmadi Erwin Harahap, mengatakan mahasiswa bersama warga berupaya mengembalikan produktivitas lahan yang berubah karakter akibat banjir. “Melalui pendekatan agroekologi, kami mengajarkan pembuatan bahan organik sebagai media tanam serta pupuk cair untuk meningkatkan kesuburan tanaman di lahan yang terdampak banjir,” ujar Erwin, dalam keterangan tertulis yang diterima InfoPublik, Sabtu (7/3/2026).
Mahasiswa dan masyarakat setempat menyiapkan lahan serta menanam berbagai komoditas hortikultura seperti bayam, sawi, kangkung, dan jagung. Tanaman tersebut dipilih karena relatif cepat tumbuh dan dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan sekaligus menjadi sumber penghasilan tambahan bagi warga.
Salah satu mahasiswa peserta program, Wira Hasibuan, menjelaskan bahwa kondisi tanah yang berubah menjadi lebih berpasir setelah banjir menjadi tantangan utama bagi warga. “Akibat banjir, tanah di Hutagodang menjadi lebih berpasir sehingga masyarakat belum yakin apakah tanaman seperti bayam, sawi, atau kangkung bisa tumbuh di sana. Kami ingin menunjukkan bahwa dengan teknik yang tepat, tanah berpasir tetap bisa dimanfaatkan untuk menanam berbagai tanaman,” jelasnya.
Selain teknik budidaya, mahasiswa juga memperkenalkan pembuatan pupuk organik cair sederhana dari bahan yang mudah diperoleh masyarakat, seperti fermentasi campuran telur, monosodium glutamat, dan air. Inovasi sederhana ini diharapkan membantu menjaga kesehatan tanaman sekaligus menekan biaya produksi petani.
Tidak berhenti pada sektor pertanian, program tersebut juga menyasar pemulihan ekonomi warga melalui pelatihan sociopreneurship. Masyarakat dilatih membuat berbagai produk olahan makanan dan memanfaatkan media sosial untuk memasarkan produk secara lebih luas.
Mahasiswa dari program studi Bimbingan Konseling juga terlibat memberikan sosialisasi terkait pengelolaan trauma, mengingat sebagian warga masih merasakan dampak psikologis setelah banjir bandang yang menghanyutkan lahan pertanian dan ternak mereka.
Salah satu warga Desa Hutagodang, Mila Erlina Napitupulu, mengaku kehadiran mahasiswa memberi harapan baru bagi masyarakat untuk kembali mengelola lahan mereka. “Sebelum banjir, sebagian besar warga menggantungkan hidup dari sawah. Ada juga yang beternak kambing dan memiliki kolam ikan yang siap panen bernilai puluhan juta rupiah, semuanya hanyut saat banjir,” tuturnya.
Ia menilai berbagai pelatihan yang diberikan sangat membantu warga memahami kembali potensi yang bisa dikembangkan, mulai dari pengelolaan tanah, penanaman sayur, pembuatan pupuk, hingga keterampilan usaha rumah tangga. “Kami bisa berkumpul, belajar bersama, dan mulai mencoba berjualan lagi. Kami berharap pendampingan seperti ini bisa terus berlanjut agar lahan di sini bisa kembali diolah dalam skala yang lebih besar,” ujar Mila.
Melalui Program Mahasiswa Berdampak, Kemdiktisaintek mendorong perguruan tinggi tidak hanya menjadi pusat pembelajaran, tetapi juga hadir langsung di tengah masyarakat dengan membawa solusi nyata atas berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Keterlibatan mahasiswa dalam pemulihan pascabencana ini menunjukkan bahwa inovasi dari kampus dapat berperan penting dalam membantu masyarakat bangkit dan membangun kembali kehidupan mereka setelah bencana.