Jakarta, InfoPublik – Mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan sekitarnya mulai turun langsung membantu masyarakat terdampak bencana. Gerak cepat tersebut kini disiapkan menjadi bagian dari program nasional AKSARA Mahasiswa (Aksi Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa) yang digagas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Program Mahasiswa Berdampak itu dirancang bukan sekadar untuk menyalurkan bantuan, tetapi menghubungkan kompetensi mahasiswa dengan kebutuhan nyata masyarakat sejak masa tanggap darurat hingga pemulihan pascabencana.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto membahas langkah tersebut dalam rangkaian koordinasi bersama perguruan tinggi di wilayah terdampak, Selasa (18/8/2026).
Pada pagi hari, Brian berdialog secara daring dengan para rektor perguruan tinggi negeri dan swasta untuk memperoleh laporan terkini mengenai kondisi kampus dan sivitas akademika, memetakan kebutuhan di lapangan, serta memastikan keselamatan warga perguruan tinggi dan keberlanjutan pendidikan tinggi.
Koordinasi kemudian dilanjutkan bersama Rektor dan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Nusa Cendana (Undana) dan Universitas Mataram (Unram). Mahasiswa dari kedua perguruan tinggi tersebut telah bergerak ke lokasi terdampak untuk membantu masyarakat.
Brian mengapresiasi respons mahasiswa, BEM, dan sivitas akademika yang memilih hadir langsung ketika masyarakat membutuhkan dukungan. “Mahasiswa Undana dan Unram telah turun langsung membantu masyarakat di lokasi terdampak. Ini merupakan wujud nyata semangat gotong royong sekaligus pembelajaran yang sesungguhnya. Kampus harus hadir, bergerak, dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” ujar Brian.
Melalui AKSARA Mahasiswa, Kemdiktisaintek akan memperkuat keterlibatan kampus dan mahasiswa agar tidak berjalan sendiri-sendiri. Perguruan tinggi akan didorong mengambil peran berdasarkan kepakaran, kapasitas, dan kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak.
Spektrum kontribusinya mencakup pemenuhan kebutuhan dasar, layanan kesehatan, dukungan psikososial dan pemulihan trauma, pendataan dampak bencana, edukasi kebencanaan, hingga pendampingan pemulihan sosial dan ekonomi masyarakat.
Pendekatan tersebut memungkinkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu mengambil peran sesuai kompetensinya. Mahasiswa kesehatan, misalnya, dapat mendukung layanan kesehatan, sementara mahasiswa teknik dapat berkontribusi pada asesmen maupun kebutuhan teknis. Bidang psikologi, pendidikan, kebencanaan, dan pemberdayaan masyarakat juga dapat diarahkan untuk menjawab kebutuhan yang berbeda di lapangan.
“Setiap perguruan tinggi memiliki kepakaran dan sumber daya yang dapat digerakkan. Ada yang kuat dalam bidang kesehatan, psikologi, teknik, pendidikan, kebencanaan, maupun pemberdayaan masyarakat. Melalui AKSARA Mahasiswa, seluruh kekuatan tersebut akan kita sinergikan agar bantuan yang diberikan tepat sasaran, terkoordinasi, dan berkelanjutan,” kata Brian.
Bagi mahasiswa, program tersebut sekaligus menjadi bentuk pembelajaran kontekstual. Pengetahuan yang diperoleh di ruang kuliah diterapkan untuk memahami persoalan riil, bekerja bersama masyarakat, sekaligus merumuskan solusi berdasarkan kebutuhan di lapangan.
Kemdiktisaintek akan mengoordinasikan pelaksanaan AKSARA Mahasiswa bersama perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan terkait. Dalam setiap tahap pelaksanaan, keselamatan mahasiswa yang terlibat sebagai relawan menjadi pertimbangan utama.
Di saat yang sama, Kemdiktisaintek terus memantau kondisi sivitas akademika dan keberlanjutan layanan pendidikan di wilayah terdampak. Kehadiran kampus di tengah masyarakat diharapkan tidak berhenti pada masa tanggap darurat, tetapi berlanjut hingga proses pemulihan.
Dengan AKSARA Mahasiswa, energi, pengetahuan, dan solidaritas mahasiswa diarahkan menjadi kekuatan pemulihan yang lebih terukur—menjadikan kampus bukan hanya tempat belajar, tetapi juga bagian dari solusi ketika masyarakat menghadapi bencana.