Ini Beda Global Water Fund dengan Lembaga Dana Internasional Lainnya

:


Oleh Wahyu Sudoyo, Rabu, 22 Mei 2024 | 22:13 WIB - Redaktur: Untung S - 91


Nusa Dua, InfoPublik – Dana Air Global atau Global Water Fund (GWF) yang sedang diinisiasi Indonesia memiliki perbedaan dengan lembaga dana internasional lain, yakni fokus pada proyek atau sektor air dan mengurangi kesenjangannya, walaupun memiliki prinsip yang sama.

“Prinsipnya sama (dengan lembaga dana internasional lain), tapi (GWF) lebih (fokus) ke mendanai sektor air dimana kita memahami sektor air sangat butuh pendanaan besar, karena World Bank ini menyebutkan tidak lebih dari dua persen jadi sangat besar gap (kesenjangan)-nya,” ujar Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan (Dirjen Pembiayaan Infrastruktur Kemen PUPR), Herry Trisaputra Zuna, dalam konferensi pers di Media Center World Water Forum ke-10 di Nusa Dua, Provinsi Bali, pada Rabu (22/5/2024).

Menurut Herry, kesenjangan pendanaan pada sektor air akan semakin besar terjadi di negara agak terbelakang dan berkembang.

Kondisi itu dinilai menjadi tantangan bersama sebagai bagian dalam komunitas dunia karena air dan sanitasi merupakan kebutuhan dasar manusia dimanapun.

“Kalau negara makmur mungkin tidak ada masalah (pendanaan sektor air). Tapi negara lain yang agak terbelakang perlu dibantu secara global. Secara kita melihatnya dalam komunitas dunia seperti itu. Ini salah satu yang ditawarkan (dalam inisiasi pembentukan GWF,” tuturnya.

Herry mengatakan, usulan pembentukan GWF sudah sudah masuk dalam pembahasan high level panel (HLP) di World Water Forum ke-10.

Inisiasi pembentukan Dana Air Global ini masih akan terus dibahas lebih detail bersama Bank Dunia (World Bank) serta para pemangku kepentingan lainnya setelah Forum Air Dunia ini rampung.

“Formatnya baru dibahas di HLP tadi, tapi akan ada pembahasan lagi secara detail. World Bank juga sepakat akan membantu dan dari sana dilihat kebutuhannya siapa saja nanti kita akan coba, satu-satu (seperti) join letter, development institution dan sebagainya,” jelas Dirjen Pembiayaan Infrastruktur Kemen PUPR.

Sementara itu, CEO PT Moya Indonesia, Irwan Dinata berpendapat, sebagikan dalam struktur organisasi GWF nanti harus ada komite yang terdiri atas para ahli yang mengerti persoalan air.

Sebab, proyek sektor air yang akan menjadi sasaran dana ini berbeda dengan proyek infrastruktur lain yang memiliki Tingkat margin tinggi dan bisa diraih dalam waktu singkat.

“Karena ketika bicara proyek air biasanya orang akan membangun dulu dan sulit menargetnya keuntungan. Selain harus secara menyeluruh kita harus melihat pembangunan ini dipikirkan dengan baik dan terstruktur,” kata Irwan Dinata menandaskan.

 

Berita Terkait Lainnya

  • Oleh Farizzy Adhy Rachman
  • Rabu, 12 Juni 2024 | 11:12 WIB
Menteri PUPR Dorong Kolaborasi Transformatif untuk Ketahanan Air Global
  • Oleh Mukhammad Maulana Fajri
  • Senin, 27 Mei 2024 | 12:22 WIB
BRIN Dukung Riset dan Inovasi Pengelolaan Sumber Daya Air Berkelanjutan
  • Oleh Mukhammad Maulana Fajri
  • Jumat, 24 Mei 2024 | 21:26 WIB
BRIN Kenalkan Rancangan Geomimo di World Water Forum ke-10
  • Oleh Jhon Rico
  • Jumat, 24 Mei 2024 | 20:53 WIB
Perempuan Asal Lampung Terima Kyoto World Water Grand Prize 2024