Jakarta, InfoPublik - Pagi di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, terasa berbeda pada Senin (12/1/2026). Di kompleks Sekolah Rakyat Terpadu (SRT), keriuhan hangat menyelimuti ratusan anak yang mengenakan seragam rapi. Hari itu, Presiden RI Prabowo Subianto secara resmi meluncurkan program Sekolah Rakyat secara nasional, sebuah langkah yang diikhtiarkan untuk memutus mata rantai kemiskinan antargenerasi di Indonesia.
Peresmian itu menandai babak baru bagi 166 titik Sekolah Rakyat rintisan yang tersebar di 34 provinsi serta 131 kabupaten dan kota.
Dari data Kementerian Sosial, pengembangan program itu bergerak cepat. Setelah mengoperasikan 166 sekolah rintisan pada 2025, kini di tahun 2026 sudah ada 93 sekolah rakyat permanen dan 8 sekolah rintisan tambahan yang aktif melayani masyarakat.
Di balik deretan angka dan fasilitas gedung, napas utama dari Sekolah Rakyat adalah para pesertanya.
Menurut Menteri Sosial (Mensos), Saifullah Yusuf, program tersebut memang dirancang khusus menyasar anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang berada pada Desil 1 dan 2 Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Bagi mereka, bangku sekolah bukan sekadar tempat menimba ilmu, melainkan ruang untuk merajut cita-cita yang sebelumnya terasa jauh dari jangkauan.
Per Juli 2026, tercatat 43.346 siswa menggantungkan harapannya di Sekolah Rakyat. Angka tersebut merupakan akumulasi dari peserta didik lama dan 28.568 siswa baru.
Jenjang pendidikan terbagi secara merata, mulai dari tingkat SD sebanyak 6.305 siswa, SMP sebanyak 11.186 siswa, hingga SMA yang mencapai 11.077 siswa.
Kebersamaan mereka di ruang kelas didampingi oleh 2.521 guru ASN-PPPK serta 5.398 tenaga pendidik yang berdedikasi.
Dampak nyata dari hadirnya Sekolah Rakyat mulai terlihat pada keseharian para siswa. Perubahan tidak hanya diukur dari angka nilai, tetapi juga kesehatan dan perilaku hidup sehari-hari.
Secara fisik, pertumbuhan anak-anak menunjukkan indikator positif: berat dan tinggi badan mereka meningkat, tingkat kebugaran membaik, angka anemia menurun, dan mereka tak lagi mudah mengantuk saat mendengarkan penjelasan guru di kelas.
Perubahan sikap pun perlahan mengakar. Anak-anak yang dahulu canggung kini tumbuh menjadi pribadi yang lebih disiplin, santun dalam bersikap, serta percaya diri.
Kemandirian yang terbentuk di lingkungan sekolah turut terbawa dalam kehidupan mereka di rumah.
Melalui sinergi pendidikan, pemenuhan gizi, dan pembentukan karakter, Sekolah Rakyat menjadi ruang tumbuh yang setara bagi setiap anak Indonesia. Dari titik rintisan di Banjarbaru hingga pelosok negeri, asa itu kini menyala lebih terang.