Banda Aceh, InfoPublik - Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh memperkuat komitmen pelestarian bahasa daerah melalui penyusunan Capaian Pembelajaran (CP) Muatan Lokal Bahasa Aceh di Kabupaten Aceh Barat.
Dua dosen Program Studi Bahasa Aceh ISBI Aceh, Inas Ghina, S.Sos., M.Gen.App.Ling (Adv.) dan Nurlayli Yanti, S.Pd.I., M.Pd., dipercaya oleh Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Kabupaten Aceh Barat sebagai narasumber dan pembahas utama dalam kegiatan penyusunan dokumen pembelajaran Muatan Lokal Bahasa Aceh yang berlangsung di Aceh Barat.
"Penyusunan capaian pembelajaran ini tidak hanya bertujuan menghasilkan dokumen kurikulum, tetapi juga memastikan Muatan Lokal Bahasa Aceh diajarkan secara bertahap, sistematis, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik," ujar Inas Ghina, Jumat (7/8/2026).
Inas Ghina menjelaskan bahwa keterlibatan guru dan pengawas dalam proses penyusunan menjadi hal penting karena mereka memiliki pengalaman langsung dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Dengan pendekatan kolaboratif tersebut, dokumen CP, TP, dan ATP yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi pedoman pembelajaran Bahasa Aceh yang lebih implementatif.
Kegiatan bertema "Penguatan Pembelajaran Muatan Lokal Bahasa Aceh dan Baca Tulis Al-Qur'an dalam Membangun Generasi Aceh yang Cerdas, Berbudaya, dan Islami" ini menghadirkan jajaran guru dan pengawas sekolah dari berbagai jenjang pendidikan di Kabupaten Aceh Barat. Forum ini mempertemukan unsur akademisi, pendidik, dan pemangku kebijakan pendidikan untuk merumuskan dokumen pembelajaran yang baku.
Dalam forum tersebut, para peserta merumuskan Capaian Pembelajaran (CP) yang kemudian diturunkan menjadi Tujuan Pembelajaran (TP) dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP). Proses penyusunan dilakukan secara bertahap melalui empat fase guna memastikan alur perkembangan kompetensi peserta didik terstruktur dengan baik sesuai jenjang pendidikan.
Seluruh peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok kerja untuk mengkaji dan menyusun rumusan pembelajaran berdasarkan fase yang ditentukan. Rancangan tersebut kemudian ditelaah bersama narasumber dengan mempertimbangkan masukan terkait kondisi pengajaran, kebutuhan siswa, hingga ketersediaan bahan ajar di lapangan.
Keterlibatan dosen ISBI Aceh dalam perumusan kurikulum muatan lokal ini merupakan bentuk pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pilar pengabdian kepada masyarakat. Langkah kolaboratif antara MPD Aceh Barat dan ISBI Aceh ini diharapkan mampu mendukung keberlanjutan Bahasa Aceh sebagai bagian penting dari identitas budaya masyarakat.