Transmigran Saritani Belajar Membuat POC di Sekolah Kampung Pabuto Nantu

: Sebagian petani transmigran yang mengikuti arahan instruktur dalam pembuatan pupuk cair organik yang dikelola oleh Sekolah Kampung Pabuto Nantu. (Foto: Rojer Manopo)


Oleh MC PROV GORONTALO, Senin, 27 Mei 2024 | 07:17 WIB - Redaktur: Bonny Dwifriansyah - 125


Boalemo, InfoPublik – Para petani transmigran di Satuan Permukiman (SP) 3 Desa Saritani, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, sukses mempraktikkan pembuatan pupuk cair organik (POC).

Praktik pembuatan pupuk cair organik itu dilaksanakan di Sekolah Kampung Pabuto Nantu selama dua hari. Tutor sekolah ini adalah Rojer Manopo yang juga petani setempat.

“Pupuk organik cair adalah pupuk dalam bentuk cair yang dibuat secara alami melalui proses fermentasi sehingga menghasilkan larutan hasil pembusukan dari sisa tanaman, maupun kotoran hewan,” kata Rojer Manopo, Minggu (26/5/2024).

Rojer menjelaskan bahwa kegiatan yang berlangsung pada hari Kamis-Jumat (23-24/5/2024) juga mengundang narasumber dari Community Emergency Response Team.

Pelatihan pembuatan pupuk tersebut sangat diminati para transmigran karena sangat mudah dibuat, bahkan bahannya bisa berasal dari limbah rumah tangga sehingga tidak membutuhkan biaya yang besar. Apalagi, letak Desa Saritani berada jauh dari ibu kota Kecamatan Wonosari dengan kondisi jalan banyak yang rusak sehingga sangat sulit mendapatkan pupuk pabrik.

“Pembuatan pupuk cair ini sangat membantu petani, pembutannya mudah,” kata Bunaeri, transmigran asal Temanggung, Jawa Tengah.

Sekolah Kampung Pabuto Nantu merupakan sarana pendidikan yang dibangun oleh warga transmigran secara swadaya melalui dukungan program Global Environmental Facility-Small Grants Programme (GEF-SGP) Indonesia Fase 6, beberapa tahun lalu.

Hingga saat ini, sekolah tersebut masih menjalankan fungsi untuk mencerdaskan para petani dan kaum muda di desa melalui pendidikan kesetaraan Kejar Paket A, B, dan C. Proses pembelajarannya dilakukan setiap pekan dengan tutor Rojer Manopo.

“Meskipun program GEF-SGP Indonesia Fase 6 telah selesai, tapi yang menjadi kegiatannya masih terus berjalan hingga kini dan telah dirasakan manfaatnya,” ungkap Bunaeri.

Bagi warga transmigrasi di SP 3 Saritani, Sekolah Kampung merupakan oase dunia pendidikan. Ada sejumlah anak usia sekolah dan orang tua yang mengikuti program pendidikan kesetaraan. Mereka belajar bersama untuk mendapatkan pengetahuan dan pendidikan di sela-sela kesibukan bekerja di ladang. (mcgorontaloprov)

 

 

Berita Terkait Lainnya

  • Oleh MC PROV GORONTALO
  • Selasa, 28 Mei 2024 | 06:34 WIB
PKEPKL UNG: Kearifan Ekologi Dibutuhkan untuk Menjaga Lingkungan Tetap Lestari
  • Oleh MC PROV GORONTALO
  • Minggu, 19 Mei 2024 | 18:05 WIB
Sekolah Kampung Pabuto Nantu, Manfaatnya Dirasakan Warga Transmigran Saritani