Intervensi Serentak, Senjata Kemenkes Cegah Stunting sejak Dini

: Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes Maria Endang Sumiwi/Foto: Tangkapan Layar Youtube FMB9


Oleh Putri, Rabu, 29 Mei 2024 | 20:48 WIB - Redaktur: Untung S - 211


Jakarta, InfoPublik - Kementerian Kesehatan fokus melakukan pencegahan dini dalam upaya mengatasi stunting di berbagai daerah di Indonesia melalui program Intervensi Serentak Pencegahan Stunting.

Program ini dirancang dengan tujuan untuk memastikan bahwa semua pihak bergerak seirama dengan sasaran yang tepat.

Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes Maria Endang Sumiwi mengatakan pihaknya terus berupaya memberikan data dan informasi yang dapat digunakan oleh semua pihak yang terlibat.

“Kami berusaha memberikan data dan informasi secara cepat agar seluruh pihak yang terlibat dapat menggunakan data dan informasi tersebut secara efektif,” kata Endang dalam dialog Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) dengan tema Tantangan Kejar Stunting Turun Jadi 14 persen pada Rabu (29/5/2024).

Karenanya, ia memastikan bahwa program ‘Intervensi Serentak’ yang dicanangkan secara khusus dirancang sebagai langkah preventif yang lebih efektif daripada hanya mengobati.

Sebab menurutnya, selama ini stunting masih banyak terjadi lantaran pencegahan yang dilakukan baik oleh pemerintah maupun masyarakat itu sendiri masih terlalu kurang.

“Kami masih dalam masa transisi, di mana kita cenderung mengobati penyakit daripada mencegahnya. Hal yang sama terjadi pada stunting, di mana pencegahannya masih kurang,” kata Endang.

Program ‘Intervensi Serentak’ yang bakal digerakkan pada Juni 2024 mendatang ini, langkah pertama yang dilakukan, yakni memastikan ibu hamil yang bermasalah dengan gizi awal mendapatkan penanganan yang tepat.

Endang menjelaskan, ibu hamil harus datang ke Posyandu untuk melakukan pemeriksaan terkait masalah gizi awal. Jika terdeteksi masalah gizi awal, mereka akan dirujuk ke Puskesmas dan diberikan makanan tambahan selama 120 hari.

Langkah kedua, yakni melakukan pengukuran dan penimbangan berat badan pada balita untuk mendeteksi masalah gizi sejak dini. Endang mengatakan pihaknya memastikan agar berat badan bayi yang tidak naik untuk segera diintervensi.

Selain ibu hamil, para calon pengantin juga bakal diminta datang ke Posyandu untuk dilakukan pengecekan. Hal ini dilakukan agar mereka siap menikah dan memiliki anak dengan kondisi kesehatan yang optimal.

Meski demikian, Endang mengakui, cakupan pelayanan kesehatan antar wilayah di Indonesia masih sangat bervariasi. Terdapat wilayah dengan cakupan layanan standar, intervensi spesifik, dan sensitif.

“Berdasarkan data yang ada, Bali memiliki tingkat stunting terendah dibandingkan daerah lainnya. Data ini akan terus diperbarui dan dipublikasikan agar semua daerah dapat dievaluasi dan intervensi dapat dioptimalkan,” kata Endang.

Ia mengungkapkan dengan deteksi dini dan penanganan cepat terhadap masalah gizi ibu hamil dan balita, diharapkan angka stunting dapat turun secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.

Berdasarkan data terbaru pihaknya menunjukkan bahwa stunting bisa terjadi di berbagai tahapan, terutama pada ibu hamil.

"Satu dari tiga ibu hamil mengalami anemia, dan 16,9 persen ibu hamil memiliki status gizi yang tidak bagus. Banyak bayi lahir dengan berat badan rendah, menunjukkan ibu hamil masih memerlukan perhatian khusus,” kata Endang.

Lebih dari itu, ia juga mengingatkan pentingnya mencari berbagai informasi dari sumber terpercaya terkait permasalahan stunting. Salah satunya di platform media sosial Kemenkes dan website resmi ayosehat.kemkes.go.id.

 

Berita Terkait Lainnya

  • Oleh MC KOTA SINGKAWANG
  • Kamis, 13 Juni 2024 | 12:00 WIB
Tim Setwapres Tinjau Pelayanan Stunting di Posyandu Singkawang
  • Oleh Putri
  • Rabu, 12 Juni 2024 | 17:10 WIB
Kemenkes Komitmen dalam Peningkatan Layanan Bedah Saraf
  • Oleh Putri
  • Rabu, 12 Juni 2024 | 15:29 WIB
Wamenkes RI Tekankan Obat Harus sampai ke Daerah Terpencil