Balai Bahasa Yogyakarta Jaring Masukan dari Pemangku Kepentingan Merevitalisasi Bahasa Daerah

:


Oleh G. Suranto, Minggu, 19 Maret 2023 | 07:07 WIB - Redaktur: Untung S - 238


Jakarta, InfoPublik - Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Balai Bahasa Provinsi Yogyakarta bekerja sama dengan pihak Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menggelar Seminar Nasional Hari Bahasa Ibu Internasional.

Acara itu mengangkat tema “Bahasa Jawa sebagai Saka Guru Penyesuaian Masyarakat terhadap Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dan Arus Budaya Lokal”.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Yogyakarta, Dwi Pratiwi, menjelaskan bahwa tujuan dilaksanakannya kegiatan itu adalah untuk mendengar arahan terkait kebijakan pelindungan bahasa daerah dari para narasumber. Selain itu, juga untuk menjaring pendapat dan pemikiran tentang beberapa hal. Pertama, upaya yang harus ditempuh agar bahasa Jawa mampu menjadi prasarana berpikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan iptek dan produk budaya lokal. Kedua, upaya yang dapat ditempuh agar kosakata/istilah lokal tidak hilang ditelan arus global.

“Harapan kami hasil dari seminar itu dapat menjadi pijakan para pemangku kepentingan dalam menentukan kebijakan dan regulasi selanjutnya terkait dengan revitalisasi bahasa Jawa,” tutur Dwi, seperti dikutip dalam rilis Kemendikbudristek di Jakarta, Sabtu (18/3/2023).

Dihadiri oleh 100 peserta undangan dari pemangku kepentingan, seminar ini diselenggarakan di Keraton Kilen (kediaman Sri Sultan HB X) dan disiarkan secara langsung melalui YouTube JITV Pemda DIY dan YouTube balaibahasaprovinsidiy.

Dalam pemaparannya, Kepala Badan Bahasa, E. Aminudin Aziz, menyebutkan fakta bahwa kondisi bahasa Jawa terbilang masih stabil, akan tetapi kondisi ini sebaiknya tidak membuat masyarakat terlena. Data survei terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa penutur bahasa Jawa tercatat 80 juta orang. Namun, bahasa Jawa juga telah mengalami kemunduran dengan angka turun sekitar 0,8 persen.

Aminudin Aziz  mengungkap bahwa di lingkungan keluarga, hanya 73 persen orang Jawa yang menggunakan bahasa daerahnya. Sisanya, 27 persen lagi sudah tidak lagi menggunakan bahasa Jawa di lingkungan keluarga. “Kenyataan itu menjadi tantangan bagi masyarakat agar bahasa Jawa, bagaimana agar tidak tergerus oleh bahasa-bahasa lain baik oleh bahasa Indonesia ataupun bahasa asing,” pesannya.

Kontribusi Bahasa Jawa

Penggunaan bahasa Jawa di tanah air kata Kepala Badan Bahasa, telah memberikan sumbangsih terhadap kekayaan bahasa Indonesia yang terlihat dari jumlah entri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang berasal dari bahasa daerah. Data per 10 Maret 2023 merincikan sebanyak 6.791 entri bahasa daerah dari 118.020 total entri dalam KBBI, terdapat 1.519 entri yang berasal dari bahasa Jawa. Saat ini, bahasa Jawa menempati bahasa daerah terbanyak yang entrinya masuk ke dalam KBBI.

“Itu artinya bahasa Jawa menjadi bahasa daerah terbesar yang berkontribusi terhadap bahasa Indonesia. Hal itu wajar karena penuturnya paling banyak,” tutur Aminudin.

Pada kesempatan yang sama, Gusti Kanjeng Ratu Hemas menyampaikan bahwa bahasa Jawa telah banyak berkontribusi dalam perkembangan iptek dan kebudayaan termasuk diaspora dan hubungan luar negeri Indonesia. Ia menuturkan bahwa bahasa Jawa juga tersebar di pulau lain seperti Sumatra, Kalimantan, dan seterusnya. Bahkan di luar negeri pun terdapat penutur bahasa Jawa, seperti di Suriname, Kaledonia Baru, Malaysia, dan Singapura.

“Para penutur bahasa Jawa di luar negeri penting untuk menjalin diaspora Indonesia, membangun hubungan luar negeri yang baik dengan negara lain, dan membangun pengembangan kebudayaan dan studi bahasa Indonesia,” tutur Ratu Hemas.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa banyak sekali arsip sejarah yang dicatat dalam bahasa Jawa, seperti ilmu arkeologi, filsafat, bahkan agama yang dikembangkan dalam bahasa Jawa. Pengajaran bahasa Jawa sejak dini menurut Ratu Hemas, membantu perkembangan otak manusia. Hal ini dikarenakan bahasa Jawa sebenarnya mengajarkan lebih dari satu bahasa anak. Ada bahasa Jawa Ngoko yang digunakan untuk pergaulan sehari-hari, ada bahasa Jawa Kromo untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua. “Dengan demikian, setiap orang Jawa akan menjadi orang yang memiliki kemampuan bilingual,” tegasnya.

Selain itu, bahasa Jawa diajarkan sejalan dengan budaya Jawa. Dengan mengajarkan bahasa Jawa, secara tidak langsung anak-anak juga belajar sopan santun dan bertutur kata dengan baik. Ratu Hemas menjelaskan bahwa penanaman sikap dan karakter manusia diberikan melalui pengajaran bahasa Jawa. Semakin banyak kosakata bahasa Jawa yang dimengerti oleh anak, maka akan semakin baik tingkah lakunya, dan semangkin tinggi budi pekerti dan budi bahasanya. Dalam pengajaran lanjutan, juga diajarkan ilmu bahasa dan budaya yang lebih tinggi termasuk aksara jawa, alat musik, pakaian adat, dan upacara tradisional.

Sayangnya, Ratu Hemas melihat adanya kecenderungan generasi muda lebih lancar berbahasa Inggris daripada bahasa Jawa. Generasi Z kata dia, lebih senang mempelajari bahasa Jepang, Korea, dan Prancis. Untuk itu, ia juga mendorong agar Balai Bahasa Yogyakarta, seniman, dan sastrawan untuk menciptakan karya atau publikasi ilmiah dalam bahasa Jawa sehingga bisa dinikmati oleh kaum muda. “Semoga makin banyak kegiatan yang mempertahankan budaya dan tradisinya,” harapnya.

Sumber Foto: Kemendikbudristek