Program Akuisisi Pengetahuan Lokal BRIN, Sumber Literasi Sains bagi Publik

:


Oleh G. Suranto, Rabu, 1 Februari 2023 | 13:23 WIB - Redaktur: Untung S - 299


Jakarta, InfoPublik - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkomitmen mempertahankan penyelenggaraan Program Akuisisi Pengetahuan Lokal (APL). Program itu dimaksudkan untuk mendokumentasikan dan menyebarluaskan berbagai konten pengetahuan lokal, sebagai sumber literasi riset dan inovasi bagi publik.

Memasuki tahun kedua, BRIN akan selalu berupaya meningkatkan kualitas penyelenggaraan program APL, dengan harapan dampak dari setiap karya yang akan diakuisisi dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. 

Melalui akses dan pemanfaatan gratis, memotivasi para periset, akademisi, mahasiswa, pelajar, konten kreator, dan lain-lain, meningkatkan produktivitas, visibilitas, dan aksesbilitas yang pada akhirnya sebagai bentuk meningkatkan peran pemerintah dalam penyediaan sumber literasi yang kredibel, mudah, dan merata untuk diakses seluruh masyarakat Indonesia.

Selain itu, program ini juga akan meningkatkan upaya kolaboratif dengan berbagai pihak dalam upaya penjaringan konten (Open Call). Karena itulah, BRIN melalui Deputi Fasilitasi Riset dan Inovasi akan melakukan sosialisasi program ini melalui kegiatan Kick off Webinar Series: Program Akuisisi Pengetahuan Lokal dalam Bentuk Buku dan Audiovisual, Rabu, 1 Februari 2023.

Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko, mengatakan “Kita patut bersyukur hari ini kita akhirnya melakukan Kick Off program akuisisi pengetahuan lokal BRIN. Skema akuisisi pengetahuan lokal ini adalah skema yang sangat menarik dan sangat penting bagi  negara kita, dan ini menjadi salah satu 9 skema  yang ada di Deputi Bidang Fasilitasi dan Inovasi BRIN, dan secara khusus ini dikelola oleh Direktorat Repositori, Multimedia,  dan Penerbitan Ilmiah (RPI) BRIN yang  Direkturnya Pak  Ayom,” kata Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko pada acara Kick Off: Program Akuisisi Pengetahuan Lokal BRIN yang dipantau melalui youtube BRIN di Jakarta, Rabu (1/2/2023).

Sejak awal, kata Handoko, program akuisisi pengetahuan lokal ini memang ditujukan untuk kita melakukan tidak sekedar inventarisasi, tetapi yang penting adalah menggali memperkaya dan mendokumentasikan,  baik dalam bentuk  audio visual maupun dalam bentuk cetak, dan dibuka untuk public,  siapapun, bisa anak-anak, adik-adik sekolah, bisa mahasiswa bisa juga orang tua, sudah pensiun  dan  sebagainya.

“Target objek sangat luas, bisa bagaimana menceritakan sendra tari yang ada di daerahnya, yang memang sudah ada sejak  mungkin 100 tahun ataupun mungkin puluhan tahun yang lalu dikemas, dilihat filosofi sendra tari itu, gerakannya seperti apa, kemudian itu di video secara detail, ditambah informasi-informasi yang menjadi latar belakang dari cerita itu,” terangnya.

Selain itu,  bisa juga nanti ada spesies baru, tumbuhan baru, atau  hewan yang mungkin tidak begitu dikenal di tempatnya, atau bisa juga Local Wisdom, semacam dulu orang dari daun ini ditambah dengan biji itu dengan cara tertentu, kemudian itu bisa menjadi obat misalnya.

“Disitu tidak perlu ada proses pembuktian ilmiahnya. Jadi justru kita ingin mendokumentasikan Local Wisdom, pengetahuan lokal, pengetahuan  nenek moyang kita yang tadinya itu diketahui secara turun menurun, getok tular  secara lisan itu menjadi sesuatu  yang tertulis,” ujarnya.

Program ini diharapkan turut memastikan bahwa seluruh kekayaan pengetahuan sumber daya alam dan budaya lokal di seluruh penjuru tanah air dapat terjaga dan terkonservasi secara tepat, akurat, dan berkelanjutan untuk diturunkan ke generasi berikutnya, dalam bentuk dokumentasi yang kredibel dan inovatif.

“Selain itu, upaya memunculkan berbagai pengetahuan lokal ke permukaan ditujukan menjadi pemicu kreativitas bagi para periset di lingkungan BRIN, untuk dapat melakukan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan teknologi atas suatu pengetahuan lokal atau produk melalui kegiatan riset dan inovasinya,” kata Handoko.

Sejatinya, Program APL ini telah memasuki tahun keempat, sebab kali pertama diselenggarakan pada tahun 2020 oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang telah terintegrasi ke dalam BRIN.

“Pada tahun 2023, Program APL akan lebih meningkatkan kualitas dari setiap karya yang akan diakuisisi. Selain itu, juga akan meningkatkan upaya kolaboratif dengan berbagai pihak dalam upaya penjaringan konten (Open Call),” ungkap Handoko.

Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN, Agus Haryono menjelaskan, BRIN akan membuka beberapa skema sebagai upaya kolaborasi, yaitu Call for Content Creator dan Bengkel Karya Audiovisual; Call for Book Chapter, dan Call for Book Paper, dengan tema-tema seperti kesehatan, pangan dan energi, sosial dan humaniora, serta sumber daya alam dan keanekaragaman hayati.

Dalam pelak­sana­annya, lanjut Agus, program ini meli­bat­kan peran aktif seluruh masya­rakat, baik pene­liti, dosen, maha­siswa, pelajar, mau­pun komunitas dan para pegiat literasi dan kebudayaan yang notabene sebagai krea­tor ataupun penulis. “Konkretnya, BRIN ber­upaya menjaring berbagai konten yang memuat pengetahuan lokal untuk dapat diterbitkan dan didiseminasikan secara akses terbuka dan gratis melalui kanal publik yang dikelola BRIN,” terang Agus.

Melalui upaya ini, diharapkan dapat memudahkan masyarakat dalam mengakses dan memanfaatkan ber­bagai konten pengetahuan lokal yang kre­dibel dan inovatif, khu­­susnya terkait dengan penge­tahuan lokal dan hasil-hasil riset.

Sebagai informasi, Webinar Series: Program Akuisisi Pengetahuan Lokal dalam Bentuk Buku dan Audiovisual akan dilaksanakan selama tiga hari, yaitu 1, 8, dan 15 Februari 2023.

Sumber Foto: InfoPublik