A.B. Lapian Memorial Lecture, Komitmen BRIN Kembangkan Kajian dan Pemberdayaan Komunitas Maritim

:


Oleh G. Suranto, Jumat, 23 September 2022 | 12:41 WIB - Redaktur: Untung S - 318


Jakarta, InfoPublik - Prof. Dr. Adrian Bernard Lapian (1 September 1929 – 19 Juli 2011), dikenal dengan panggilan akrab Adri Lapian, atau Pak Lapian, adalah tokoh yang sering dipanggil sebagai Nakhoda Kajian Maritim di Indonesia, bahkan Asia Tenggara.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko, mengatakan sebutan itu bukanlah gelar tanpa isi. Sejatinya, memang beliaulah yang telah membangun fondasi kajian-kajian maritim.

Hasilnya tidak hanya berbagai karya ilmiah yang diproduksi oleh beliau dan murid-muridnya, tetapi juga berkontribusi pada kebijakan, advokasi, dan aksi-aksi di bidang kemaritiman di Indonesia.  

“Pak Lapian memiliki perhatian yang sangat dalam terhadap sejarah maritim Indonesia dan ini tampak pada karya-karya utama beliau sepanjang karirnya, antara lain skripsinya mengenai Jalan Perdagangan Maritim ke Maluku pada awal abad ke-16. Kemudian dilanjutkan pada disertasinya, Orang Laut-Bajak Laut-Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad ke-19, serta naskah Guru Besarnya yang berjudul “Sejarah Nusantara Sejarah Bahari,”  papar Handoko secara daring pada acara  A.B. Lapian Memorial Lecture, bertajuk “Nakhoda Kajian Maritim Indonesia,” Jumat (23/9/2022).

“Dengan kontribusi dan reputasi beliau pada pengembangan pengetahuan dan pemberdayaan komunitas maritim, sudah sewajarnya kita sebagai penerusnya memberikan apresiasi dan komitmen untuk terus mengembangkan apa yang telah beliau semai selama karir akademisnya,” kata Handoko.

Salah satu wujud dari apresiasi dan komitmen untuk melanjutkan kerja-kerja beliau, BRIN melalui Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (OR IPSH) menyelenggarakan A.B. Lapian Memorial Lecture, yang bertajuk “Nakhoda Kajian Maritim Indonesia”.

Kepala OR IPSH BRIN, Ahmad Najib Burhani, mengatakan, Pak Lapian adalah angkatan pertama pada Jurusan Ilmu Sejarah di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya), Universitas Indonesia.

Perhatiannya terhadap sejarah maritim Indonesia tampak pada karya-karya sepanjang karirnya, antara lain skripsinya mengenai jalan perdagangan maritim ke Maluku pada awal abad ke-16, kemudian dilanjutkan pada disertasinya, “Orang Laut - Bajak Laut - Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX," serta naskah Orasi Guru Besarnya yang berjudul “Sejarah Nusantara Sejarah Bahari”.

Selain melengkapi isu maritim pada kajian sejarah yang sebelumnya lebih banyak bernuansa darat, perspektif yang beliau kembangkan pada disertasi dan banyak tulisannya juga berkontribusi pada perhatian terhadap orang-orang yang seringkali dianggap marjinal, baik pada realitas masa lalu maupun dalam kajian sejarah.

“Dua hal inilah yang benar-benar menjadi kompas dari kajian-kajian maritim yang berkembang di bawah nakhoda beliau,” kata Ahmad Najib.

Kariernya sebagai nakhoda kajian maritim dikembangkan dalam dua ranah kelembagaan, yakni perguruan tinggi dan lembaga penelitian. Pada ranah perguruan tinggi, beliau tidak hanya sebagai dosen yang mengajar sejarah maritim, tetapi juga mencetak banyak sarjana dengan kajian maritim dari level S1 hingga S3.

Pada ranah lembaga penelitian, beliau adalah peneliti di Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya (PMB) LIPI pada 1957 hingga 1994. Di PMB, AB Lapian mendirikan Kelompok Studi Maritim, sekarang menjadi Kelompok Kajian Maritim di Pusat Riset Masyarakat dan Budaya (PMB) BRIN.

Beliau memimpin riset-riset yang bersifat multi-disiplin dengan melibatkan peneliti-peneliti dari Sosiologi, Antropologi, dan Ilmu Lingkungan. Dengan demikian, kajian-kajiannya melebar pada isu-isu yang lebih luas, seperti Hak Ulayat Laut, Pengelolaan Pesisir Berbasis Komunitas/Tradisi, dan lain-lain.

Melalui Kelompok Studi Maritim juga, perhatian Pak Lapian tidak hanya mengkaji, tetapi untuk membantu secara riil komunitas-komunitas maritim, seperti halnya Orang Bajo, Masyarakat Pesisir, dan Nelayan.  “Hal ini terlihat dari kepemimpinannya dalam mengembangkan kegiatan riset aksi pada komunitas-komunitas maritim,” tutur Ahmad Najib.

Sumber Foto: InfoPublik