Pendidikan Antikorupsi Harus Ditanamkan sesuai Perkembangan Kognitif

: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menerima audiensi dari Prodi PPKN Institusi Pendidikan Indonesia (IPI) Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) tingkat SMP se-Kabupaten Garut (Foto: Dok KPK)


Oleh Pasha Yudha Ernowo, Rabu, 22 Mei 2024 | 21:43 WIB - Redaktur: Untung S - 148


Jakarta, InfoPublik - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menerima audiensi dari Prodi PPKN Institusi Pendidikan Indonesia (IPI) Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) tingkat SMP se-Kabupaten Garut di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Rabu (22/5/2024).

Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) Jaringan Pendidikan KPK Bariroh Barir menjelaskan pendidikan antikorupsi harus ditanamkan sejak dini dan disesuaikan dengan perkembangan kognitif anak.

“Untuk jenjang SMP, kita perlu menyasar lewat karakternya, tanamkan nilai-nilai baik dalam tumbuh kembangnya. Sebab pendidikan antikorupsi tidak hanya sebatas mengajarkan pengetahuan tentang korupsi, tetapi juga menanamkan nilai-nilai antikorupsi JUMAT BERSEPEDA KK (jujur, mandiri, tanggung jawab, berani, sederhana, peduli, disiplin, adil, kerja keras),” jelas Barir, dalam keterangan tertulis yang diterima InfoPublik, Rabu (22/5/2024).

Penanaman karakter ini tentunya harus dibarengi dengan pengenalan jenis-jenis korupsi serta dampak korupsi yang dapat merusak bangsa dan negara. Hal ini bertujuan agar siswa lebih memahami bahaya korupsi dan tergerak untuk melawannya.

“Gunakan media yang menyenangkan dalam pembelajaran antikorupsi untuk meningkatkan semangat dan minat siswa. Contohnya melalui permainan, simulasi, atau kegiatan kreatif lainnya. Pengenalan korupsi juga bisa melalui media film atau buku bacaan sambil mengajak siswa berdiskusi,” tambah Barir.

Lanjut Barir, pendidikan antikorupsi, merupakan kunci penting dalam mencegah korupsi di masa depan. Dengan menanamkan nilai-nilai antikorupsi sejak dini, generasi muda diharapkan dapat membangun bangsa yang lebih bersih dan bermartabat.

“Pendidikan antikorupsi mungkin tidak langsung terlihat hasilnya, butuh keberlanjutan dan kerja sama semua pihak agar di masa depan budaya antikorupsi semakin kuat. Nah, di tingkat SMP, yang diharapkan itu yang penting mereka tahu dulu, kemudian mereka bisa, sampai akhirnya terbiasa dengan nilai antikorupsi yang diajarkan. Ingat, tidak ada koruptor yang tiba-tiba jadi koruptor. Semua dibiasakan dari kecil oleh orang tua, lingkungan, bahkan sekolah,” ujarnya.

KPK telah mengembangkan berbagai modul pembelajaran antikorupsi yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan, mulai dari PAUD hingga SMA. Modul-modul tersebut dikemas dengan menarik dan interaktif, sehingga mudah dipahami oleh anak-anak.

KPK juga mendorong guru-guru untuk mengikuti pelatihan antikorupsi, sehingga mereka dapat menjadi fasilitator yang efektif dalam pendidikan antikorupsi. “Mari biasakan memuji dan menghargai karakter siswa-siswa yang baik, bukan sekadar mereka yang berprestasi. Dengan begitu, siswa akan terus berperilaku baik dan merasa dihargai hingga tercipta budaya positif dan antikorupsi di sekolah,” tutup Barir.

 

Berita Terkait Lainnya

  • Oleh Pasha Yudha Ernowo
  • Rabu, 12 Juni 2024 | 22:59 WIB
KPK Gelar Pelatihan Bersama APH dan Auditor Pemerintah di NTB
  • Oleh Pasha Yudha Ernowo
  • Rabu, 12 Juni 2024 | 22:52 WIB
Ini Program Prioritas dan Kebutuhan Anggaran KPK Tahun 2025
  • Oleh Pasha Yudha Ernowo
  • Rabu, 12 Juni 2024 | 18:59 WIB
Hadiri RDP dengan DPR, KPK Paparkan Pengelolaan Anggaran 2024
  • Oleh Pasha Yudha Ernowo
  • Rabu, 12 Juni 2024 | 18:33 WIB
Cegah Korupsi Pengadaan Barang dan Jasa, E-Katalog Harus Diawasi Bersama
  • Oleh Pasha Yudha Ernowo
  • Selasa, 11 Juni 2024 | 16:04 WIB
KPK Adopsi Aplikasi Manajemen Talenta Pemprov Bali
  • Oleh Pasha Yudha Ernowo
  • Senin, 10 Juni 2024 | 16:43 WIB
Movie Day ACFFest di Makassar, KPK Ajak Sineas Cegah Korupsi Lewat Film
  • Oleh Pasha Yudha Ernowo
  • Senin, 10 Juni 2024 | 16:41 WIB
Tingkatkan Pemanfaatan SPBE, KPK Raih Digital Government Award 2024