Menko Marves Luhut bersama Presiden Sri Lanka Gelar Bilateral Meeting Bahas GBFA

: Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marve) RI, Luhut Binsar Pandjaitan, menyambut kedatangan Presiden Sri Lanka Ranil Wickremesinghe di Bali, Minggu (19/5/2024). Foto. Humas Kemenko Marves.


Oleh Fatkhurrohim, Minggu, 19 Mei 2024 | 19:01 WIB - Redaktur: Untung S - 245


Bali, InfoPublik – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marve) RI, Luhut Binsar Pandjaitan, menyambut kedatangan Presiden Sri Lanka Ranil Wickremesinghe di Bali, Minggu (19/5/2024).

Selain menghadiri konvensi World Water Forum ke-10, Presiden Ranil Wickremesinghe pun melakukan kegiatan Bilateral Meeting di Kura-Kura Bali, Minggu (19/5/2024).

Bilateral meeting itu membahas soal Global Blended Finance Alliance (GBFA) yang diadopsi oleh para pemimpin KTT G20 Bali untuk mempercepat investasi iklim di negara-negara berkembang, Least Developed Countries (LDC), dan negara kepulauan. Fokus utamanya adalah pada kerja sama global selatan dan pendanaan transisi.

GBFA G20 Bali akan mendukung negara-negara untuk merancang dan menerapkan kebijakan yang tepat, mengembangkan struktur kelembagaan, teknologi dan data, serta solusi pembiayaan untuk transisi mencapai SDGs.

“Kami sedang mempersiapkan target jangka pendek untuk mencapai hasil nyata GBFA G20 Bali, yaitu mobilisasi donor dari mitra non-pemerintah, melakukan peningkatan kapasitas pada pembiayaan campuran, dan menyiapkan studi kasus tentang taksonomi iklim, alam, dan keanekaragaman hayati, pembiayaan untuk pengelolaan hutan yang berkelanjutan, dan Just Energy Transformation Partnership (JETP),” tutur Menko Luhut.

Menko Luhut juga menyampaikan bahwa GBFA akan dilaksanakan pada rangkaian acara World Water Forum ke - 10 pada 20 Mei mendatang. Adapun acara tersebut akan meluncurkan sekretariat GBFA yang berbasis di KEK Sanur Bali, penandatangan Letter of Intent oleh para pendiri, dan diskusi meja bundar.

Letter of Intent akan ditandatangani oleh Indonesia, Perancis, UAE, Sri Lanka, Luxembourg, Kenya, Canada, dan kemungkinan Fiji dan Republik Demokratik Kongo juga bergabung dengan kami,” jelasnya.

Krisis iklim menjadi isu yang penting bagi seluruh negara di dunia. Mengacu pada konsensus UEA COP28 lalu, setiap pihak berkomitmen untuk melakukan transisi energi dari bahan bakar fosil untuk mempercepat pengurangan emisi NDC.

Menko Luhut melihat tantangan perubahan iklim dan perlunya penutupan proyek besar kesenjangan pendanaan iklim. Oleh karena itu, GBFA hadir sebagai salah satu solusinya.

Dalam hal itu, GBFA juga akan mendukung program konservasi air dan akan menjembatani kesenjangan antara sumber daya publik yang tersedia dan investasi besar-besaran yang dibutuhkan Global Water Fund.

“Saya ambil contoh Mangrove Alliance for Climate (MAC). Ini inisiatif global diprakarsai dan diluncurkan oleh Uni Emirat Arab dan Indonesia di COP27 Mesir pada 2022 lalu. Anggotanya 41 negara,” tuturnya.

MAC bertujuan untuk mempromosikan mangrove sebagai solusi berbasis alam terhadap perubahan iklim. Semua anggota mempunyai visi yang sama untuk memulihkan dan melestarikan mangrove sebagai penghalang alami terhadap bencana alam.

 

Berita Terkait Lainnya

  • Oleh Fatkhurrohim
  • Minggu, 19 Mei 2024 | 18:49 WIB
GBFA Menjadi Dasar Transformasi Percepatan Ekonomi Negara
  • Oleh Baheramsyah
  • Selasa, 23 Januari 2024 | 20:54 WIB
G20 Bali GBFA akan Jadi Organisasi Internasional