Terpilih Jadi Paskibraka, Mimpi Zilqueensa Tak Ikut Tenggelam saat Banjir Melumpuhkan Aceh Tamiang
Foto: Amiri Yandi/InfoPublik
Foto: Amiri Yandi/InfoPublik
Depok, InfoPublik – Senyum tenang Zilqueensa Abintary Laudicia Simatupang menyimpan perjalanan panjang yang nyaris terhenti akibat bencana. Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional asal SMA Negeri 2 Percontohan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, itu pernah mengira mimpinya untuk mengibarkan Sang Merah Putih di Istana Negara akan pupus ketika banjir besar menerjang kampung halamannya.
Hal itu diakui Zilqueensa ketika ditemui di Pemusatan Pembinaan Paskibraka Tingkat Pusat 2026 di Depok, Senin (3/8/2026).
Perjalanan menuju Paskibraka Nasional tidak Zilqueensa dalam semalam. Selama dua tahun, Zilqueensa mempersiapkan diri dengan disiplin. Ia memulai seleksi dari tingkat sekolah, lalu melangkah ke tingkat kabupaten dengan melewati berbagai tahapan, mulai dari administrasi, tes kesehatan, kesamaptaan, parade, hingga Peraturan Baris Berbaris (PBB).
Kerja kerasnya membuahkan hasil. Di tingkat Kabupaten Aceh Tamiang, ia berhasil meraih peringkat pertama dan berhak melanjutkan seleksi ke tingkat Provinsi Aceh. Di sana, tantangan semakin berat. Dari enam peserta terbaik—tiga putra dan tiga putri—hanya satu putra dan satu putri yang akhirnya terpilih mewakili Aceh ke tingkat nasional.
"Pas pengumuman saya benar-benar kaget. Saya sempat terdiam, seperti tidak percaya nama saya yang dipanggil. Setelah itu saya menangis. Alhamdulillah, perjuangan latihan selama dua tahun akhirnya membuahkan hasil," tuturnya.
Bagi Zilqueensa, menjadi Paskibraka Nasional bukan sekadar prestasi. Ada impian yang sejak lama ia simpan.
Ia ingin menciptakan kenangan yang hanya bisa dirasakan sekali dalam hidup yakni mengibarkan Sang Merah Putih di Istana Negara pada Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
"Karena tidak semua orang mendapat kesempatan mengibarkan bendera di Istana Negara. Itu menjadi impian saya," ujarnya.
Namun perjalanan menuju mimpi itu sempat diuji oleh musibah. Beberapa waktu sebelum seleksi, banjir besar melanda Aceh Tamiang. Rumah-rumah di sekitar tempat tinggalnya terendam. Bahkan, rumah-rumah di belakang kediamannya rusak diterjang derasnya arus.
Rumah Zilqueensa yang bertingkat menjadi tempat berlindung bagi warga sekitar yang kehilangan tempat tinggal.
"Alhamdulillah rumah saya dua lantai, jadi banyak warga yang mengungsi di rumah kami. Rumah mereka sudah terendam, bahkan atapnya sudah tidak terlihat lagi. Saya bersyukur meski terkena musibah, kami masih bisa membantu warga lain," kenangnya.
Di tengah situasi itu, bukan hanya rumah dan lingkungan yang terdampak. Lapangan tempat latihan Paskibraka di Kabupaten Aceh Tamiang juga rusak parah.
Dari balik jendela rumahnya yang dikelilingi genangan air, Zilqueensa sempat memandang jalan raya yang telah berubah menjadi seperti sungai. Saat itulah keraguan menghampiri.
"Waktu itu saya berpikir, mungkin tahun ini saya tidak bisa ikut Paskibraka karena lapangannya hancur. Saya bahkan sempat mengatakan kepada kakak saya, mungkin lebih baik fokus belajar saja," katanya.
Beruntung, proses pemulihan berlangsung lebih cepat dari yang ia bayangkan. Kehadiran berbagai pihak, mulai dari personel IPDN, TNI hingga masyarakat yang bergotong royong membantu penanganan pascabanjir, membuat Aceh Tamiang perlahan bangkit.
Meski latihan sempat terhenti sekitar satu bulan, Zilqueensa tidak membiarkan kemampuan fisiknya menurun. Ia tetap berlatih secara mandiri di rumah dengan melakukan push-up, sit-up, dan pull-up, sementara materi akademik dipelajarinya secara daring.
Persiapan itu sebenarnya tidak hanya ditujukan untuk menjadi Paskibraka. Sejak dua tahun lalu, ia telah membangun disiplin karena memiliki cita-cita menjadi Taruni Akademi Militer (Akmil). Baginya, Paskibraka menjadi bagian dari proses membentuk karakter yang kelak dibutuhkan sebagai seorang prajurit.
Pengalaman mengikuti pemusatan pendidikan dan pelatihan calon Paskibraka Nasional selama hampir dua pekan di Jakarta semakin menguatkan tekad tersebut.
Menurutnya, hidup bersama putra-putri terbaik dari 38 provinsi mengajarkannya banyak hal, mulai dari menghargai perbedaan karakter hingga mengelola waktu secara disiplin.
"Dari Aceh sampai Papua memiliki karakter yang berbeda-beda. Di sini kami belajar menyatukan ego, belajar cara berkomunikasi, menjadi lebih disiplin, lebih cekatan, dan mengatur waktu dengan baik," ungkapnya.
Hari-hari yang dimulai sejak pukul 04.00 pagi hingga kegiatan berakhir sekitar pukul 22.00 WIB menjadi latihan nyata untuk membangun mental, kedisiplinan, dan daya tahan. Bekal itulah yang menurutnya akan sangat berguna saat kelak mengikuti seleksi Taruni Akmil.
Kini, menjelang pengibaran bendera di Istana Negara, Zilqueensa menyimpan satu harapan yakni dipercaya menjadi pembawa baki. Namun, baginya, apa pun posisi yang diberikan adalah amanah yang sama berharganya.
"Harapan saya tentu menjadi pembawa baki. Tetapi di posisi apa pun saya tetap bangga menjadi Paskibraka dan membawa nama baik Provinsi Aceh. Yang terpenting, kami bisa mengibarkan Sang Merah Putih dengan sukses dan lancar," katanya.
Untuk adik-adik yang bercita-cita mengikuti jejaknya, Zilqueensa berpesan agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi rintangan.
"Terus semangat, terus belajar, terus berlatih. Jangan berhenti hanya karena terlalu banyak overthinking. Kalau kita terus berusaha, hasil akan mengikuti," ujarnya.
Perjalanan Zilqueensa membuktikan bahwa mimpi tidak selalu berjalan di atas jalan yang mulus. Kadang, ia harus melewati banjir, keraguan, dan jeda yang panjang. Namun selama tekad tetap dijaga, bahkan derasnya arus pun tak mampu menghanyutkan cita-cita.