Jakarta, InfoPublik – Pukul 04.00 WIB, udara di kawasan Depok, Jawa Barat masih menggigit tulang. Di kegelapan subuh, Ismi Ulfaida sedang melipat selimut dan membereskan dipannya dengan presisi tingkat tinggi.
Tak ada jeda untuk memeriksa layar ponsel pintar atau akun media sosialnya karena gawai itu telah disita sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di sana, di medio Juli lalu.
Tanpa gawai kesayangan, untuk beberapa pekan, gadis 16 tahun asal Polewali Mandar, Sulawesi Barat ini ditempa dalam karantina salah satu barak semimiliter dengan hanya ditemani ingatan tentang ayahnya yang sedang mencangkul di sawah.
Ismi adalah bagian dari sejarah; ia adalah siswi pertama dari Sekolah Rakyat Terintegrasi 22 Polewali Mandar yang berhasil menembus barisan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka atau Paskibraka Tingkat Pusat Tahun 2026.
Ia menjadi bagian dari 76 remaja yang terpilih mewakili 38 provinsi dalam latihan gabungan bersama dengan Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres), tiga matra Tentara Nasional Indonesia, dan Polisi Republik Indonesia.
Jiwa dan raga mereka ditempa dalam Pemusatan Pembinaan Paskibraka Tingkat Pusat 2026 di Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Kelurahan Serua, Kecamatan Bojongsari, Kota Depok, Jawa Barat.
Tak lama lagi, sebagian dari mereka akan menjadi pasukan inti pengibar bendera Merah Putih pada Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026 di Istana Merdeka, Jakarta Pusat.
Jalan Terjal Menuju Lapangan Upacara
Perjalanan hingga tingkat nasional bukanlah jalan yang mulus. Setiap remaja di barisan ini membawa kisah perjuangan yang luar biasa dari kampung halaman mereka.
Sebutlah Zilqueensa Abintary Laudicia Simatupang, siswi SMA Negeri 2 Percontohan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang. Mimpinya menjadi anggota Paskibraka hampir pupus saat banjir besar meluluhlantakkan kampung halamannya.
Walakin, di tengah kepungan air, Zilqueensa tetap berdisiplin melakukan latihan fisik berupa push-up, sit-up, dan pull-up agar fisiknya tidak melemah. Ia ingin membawa nama baik Aceh ke halaman Istana Merdeka meski harus bersaing dengan 119.441 pendaftar dari seluruh penjuru negeri untuk satu tempat di barisan pasukan elit ini.
Kisah serupa datang dari Angelica Theona Putri, siswi SMAN 1 Tenggarang Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Perjalanannya hanya bermula dari sebuah ajakan sederhana kakak senior untuk "coba saja duluan" di tingkat kabupaten.
Tak terbayangkan pada akhirnya Angelica berdiri bersama calon Paskibraka terbaik dari seluruh Indonesia, sekaligus mencatat sejarah sebagai salah satu putri pertama dari Bondowoso yang berhasil menembus seleksi nasional.
Lain lagi dengan Hasna Iriani Rumbiak, siswi SMK Negeri 1 Manokwari, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, yang mewujudkan rajutan mimpi bertahun-tahun. Setiap 17 Agustus, Hasna setia menyaksikan upacara itu hanya dari balik layar televisi.
Matanya tak pernah lepas dari gerakan Paskibraka yang tampil gagah dengan indahnya seragam putih-putih. Hingga kini, ia masih sulit percaya bahwa dirinya tengah berada dalam bagian pasukan tersebut.
Sementara itu, Muhammad Furqoen Nul Hakim, siswa SMA Negeri 1 Manggar, Kabupaten Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung, membawa beban harapan yang lebih berat.
Sebagai putra seorang buruh harian penambang timah, ia membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk berbakti pada negara. Kondisi keluarganya justru menjadi bahan bakar bagi disiplin bajanya selama proses seleksi berlangsung.
Saringan Ketat di Bawah Kendali BPIP
Perjalanan menuju barisan elite ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari proses seleksi yang teknis dan transparan di bawah koordinasi dan kendali Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).
Seleksi dilakukan secara bertahap dan berlapis, dimulai dari tingkat sekolah, berlanjut ke kabupaten/kota, provinsi, hingga tahap verifikasi akhir di tingkat pusat.
Dalam proses ini, BPIP tidak hanya mencari mereka yang memiliki ketahanan fisik yang prima. Setiap kandidat harus melewati rangkaian tes yang mencakup administrasi, kesehatan, kesamaptaan, parade, hingga baris-berbaris.
Lebih jauh lagi, BPIP melakukan evaluasi mendalam terhadap karakter, kecintaan terhadap tanah air, serta pemahaman mereka mengenai Pancasila dan wawasan kebangsaan.
Bagi para pelajar yang bercita-cita bergabung, BPIP menekankan pentingnya mempelajari buku teks utama mengenai ideologi kebangsaan jauh sebelum tahapan seleksi dimulai.
Puncak dari proses ini adalah verifikasi di Jakarta, di mana para peserta terbaik dari daerah diuji kembali untuk memastikan mereka siap secara mental dan fisik.
BPIP juga menegaskan bahwa penentuan posisi krusial, seperti pembawa baki atau pengibar bendera, dilakukan melalui pengamatan ketat selama latihan gabungan untuk mencari siapa yang paling fit dan sesuai dengan tugas tersebut.
Satu Barisan, Satu Langkah, Satu Hati
Di lapangan PPSDM Kemendikdasmen Depok, setiap pagi pukul 07.30 WIB, latihan berlangsung dalam intensitas tinggi, tanpa kompromi, dan tanpa ampun. Di bawah terik matahari musim kemarau, mereka berlatih baris-berbaris bersama Paspampres berulang kali tanpa henti hingga pukul 17.00 WIB.
Lapangan itu disulap persis menyerupai denah Istana Merdeka. Lapangan itu menjadi rumah mereka. Barisan yang membentuk pasukan adalah dinding koridor kedisiplinan dan kekompakan. Aba-aba dalam Peraturan Baris-Berbaris (PBB) disantap ribuan kali hingga mencapai titik kulminasi kesempurnaan.
"Tantangan pertamanya adalah menyatukan hati," ujar Johanes Matius Paulus Rumsayor, siswa kelas 11 SMA Negeri 1 Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua.
Meskipun Johanes pernah bertugas sebagai Paskibra sekolah pada 2025, tantangan terbesar dalam latihan gabungan ini adalah menyatukan 76 kepala dalam satu hati dengan latar belakang suku dan budaya daerah asal mereka.
Cara latihan PBB ternyata berbeda di setiap daerah. Masing-masing remaja itu pun harus kembali belajar dari perihal dasar hingga sinkronisasi dengan puluhan calon Paskibra lainnya. Johanes berusaha keras menyelaraskan langkah kaki bersama puluhan pasang kaki sepasukannya agar hentakan mereka terdengar bersamaan seperti satu degup detak jantung.
Lecet pada bagian tangan dan kaki merupakan hal wajar yang harus mereka lawan dengan keteguhan mental dan kekuatan fisik. Para pelatih dan pamong bekerja ekstra keras untuk memastikan kondisi setiap remaja senantiasa prima. Agar terhindar dari cedera, diutamakan perlindungan tangan dan kaki yang banyak digunakan selama latihan.
Pun setelah matahari terbenam, perjuangan belum berakhir. Kelelahan fisik segera disambung dengan pengisian materi di ruang-ruang kelas hingga pukul 22.00 WIB. Mereka tetap berkonsentrasi meski otot-otot sekujur tubuh terasa nyeri.
Menjadi Warga Desa Bahagia
Selama di Depok, mereka tinggal di barak yang bernama Desa Bahagia. Rupanya, barak-barak, ruang-ruang kelas, dan lapangan untuk para arjuna dan srikandi itulah desa mereka.
Desa Bahagia adalah konsep sistem karantina atau pemusatan pendidikan dan pelatihan terpadu bagi para Capaska atau Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka.
BPIP merancang desa tersebut sebagai miniatur Indonesia yang mencerminkan kehidupan rukun, damai, dan penuh kekeluargaan.
Para Capaska juga menjalani kegiatan sehari-hari secara komunal. Mereka beribadah sesuai keyakinan masing-masing, makan bersama, berolahraga, serta menjaga kebersihan dan kerapian tempat tinggal.
Semua kegiatan ini dirancang untuk melatih sikap disiplin, tertib, mandiri, dan bertanggung jawab. Peserta dibiasakan mematuhi jadwal harian serta menjaga lingkungan selama pemusatan latihan.
Selain membangun kebiasaan baik, peserta juga mempelajari sejarah, wawasan kebangsaan, dan nilai-nilai Pancasila. Nilai-nilai tersebut langsung mereka terapkan dalam berbagai aktivitas selama pembinaan.
Kehidupan bersama di Desa Bahagia turut mengenalkan peserta pada indahnya persatuan dalam keberagaman. Perbedaan daerah, budaya, dan kebiasaan tidak menjauhkan mereka, melainkan menjadi pengalaman nyata dalam memahami Indonesia.
Jiwa Pemimpin Masa Depan Adalah Pancasila
Di tengah himpitan latihan baris-berbaris, para Capaska membangun fondasi utama dengan penanaman nilai Pancasila dan Bela Negara. Mereka menyadari, tantangan masa depan bukan lagi sekadar fisik, melainkan disrupsi akal imitasi dan banjir hoaks di media sosial.
Mereka meresapi nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman perilaku, terutama dalam menjaga kehormatan di ruang digital. Mereka dibekali pemahaman mendalam tentang sejarah bangsa agar memiliki kecintaan yang rasional terhadap tanah air.
Nasionalisme mereka diuji saat mereka harus mengesampingkan ego kedaerahan demi kekompakan formasi. Bela Negara di sini diterjemahkan sebagai kesiapan fisik dan mental untuk memikul tanggung jawab besar sebagai kader bangsa.
Mereka dipersiapkan untuk menjadi Duta Pancasila yang akan bertugas merawat persatuan di daerah masing-masing selama satu tahun ke depan.
Rangkaian pembinaan ini merupakan bagian dari perjalanan panjang Paskibraka yang tidak berhenti setelah tugas mengibarkan dan menurunkan bendera pada 17 Agustus usai.
Para peserta akan tetap di bawah pembinaan BPIP hingga 1 Juni 2027 sebelum resmi menjadi Purnapaskibraka.
Tujuannya jelas: memastikan nilai-nilai kepemimpinan dan integritas yang telah ditempa di Depok tidak luntur oleh arus zaman. Mereka adalah salah satu investasi jangka panjang untuk Indonesia Emas 2045.
Pasukan yang Membawa Perubahan
Matahari mulai condong ke barat di langit Depok, menandakan berakhirnya sesi latihan sore. Ismi menyeka keringat di dahinya dengan lengan seragam latihannya yang kini mulai berdebu.
Kakinya mungkin lecet, dan bahunya mungkin terasa pegal luar biasa setelah berjam-jam berlatih baris-berbaris. Namun, saat ia menatap bendera yang berkibar tertiup angin di kejauhan, rasa lelah itu seolah terserap oleh dwiwarna Sang Merah Putih.
Mungkin, dalam tatapan Ismi, ada wajah sang ayah yang sedang mencangkul di Polewali Mandar. Seperti halnya ada banjir yang dilawan Zilqueensa di Aceh Tamiang; ada doa Furqoen untuk orang tuanya yang buruh harian penambang timah di Belitung Timur.
Kelak, ketika Sang Merah Putih berkibar dengan sempurna di Istana Merdeka, masyarakat hanya akan melihat barisan yang bergerak serempak. Namun, di balik setiap langkah tegap itu, ada air mata kerinduan yang disimpan rapat di kamar asrama, ada disiplin yang ditempa setiap hari, dan ada kebersamaan yang tumbuh dari keberagaman.
Angelica, Hasna, Ismi, Furqoen, Johanes, Zilqueensa, dan ke-70 rekan-rekannya akan pulang membawa cerita tentang Indonesia yang sesungguhnya, yakni sebuah bangsa yang sejati karena mampu menyatukan hati dalam satu langkah yang pasti.*
Penulis: RM Donum Theo KMP (*Penerjemah Ahli Muda Kementerian Komdigi, Mahasiswa Program Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina)
Fotografer: Agus Siswanto