Depok, InfoPublik – Setiap 17 Agustus, Hasna Iriani Rumbiak selalu menyempatkan diri menyaksikan upacara peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di televisi. Perhatiannya tak pernah lepas dari barisan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) yang tampil gagah dengan seragam putih. Dari sanalah sebuah mimpi sederhana tumbuh.
Kini, mimpi itu menjadi kenyataan. Siswi SMK Negeri 1 Manokwari, Kabupaten Manokwari, Papua Barat tersebut berhasil lolos sebagai Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Capaska) tingkat nasional.
Saat di temui di Pemusatan Pembinaan Paskibraka Tingkat Pusat 2026 di Depok, Jawa Barat, Senin (3/8/2026), Hasna mengaku hingga kini masih sulit percaya bisa berada di titik tersebut.
"Yang paling penting saya bersyukur sekali bisa sampai di titik ini. Sebenarnya saya tidak menyangka juga kenapa bisa sampai di sini. Tapi berkat kemurahan Tuhan, saya bisa sampai di sini," ujarnya dengan penuh syukur.
Perjalanan menuju Istana bukanlah sesuatu yang sejak awal dirancang secara rumit. Keinginannya lahir dari kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap Hari Kemerdekaan.
Saat melihat para anggota Paskibraka mengibarkan Sang Saka Merah Putih, Hasna membayangkan suatu hari dirinya bisa berdiri di posisi yang sama.
"Saya nonton di televisi setiap 17 Agustus. Melihat kakak-kakak pakai baju putih. Dari situ saya berpikir, saya juga ingin seperti mereka. Saya ingin menjadi Paskibraka," katanya.
Keinginan itu kemudian diwujudkan melalui kegiatan ekstrakurikuler Paskibra di sekolahnya. Dari latihan rutin di SMK Negeri 1 Manokwari, Hasna terus mengasah kemampuan hingga akhirnya berhasil melewati berbagai tahapan seleksi yang membawanya mewakili Papua Barat di tingkat nasional.
Belajar Mengenal Indonesia
Sejak mengikuti pemusatan pendidikan dan pelatihan yang dimulai pada 14 Juli 2026, Hasna merasakan pengalaman yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya.
Awalnya ia sempat terkejut karena harus bertemu dengan ratusan peserta dari seluruh penjuru Indonesia. Namun rasa canggung itu perlahan berubah menjadi kebahagiaan.
"Pertama datang saya kaget sekali. Saya dapat teman dari berbagai provinsi. Kami mulai saling kenalan, saling cerita tentang daerah masing-masing. Ternyata mereka semua baik-baik," tuturnya.
Bagi Hasna, keberagaman bukan sekadar slogan. Bertemu langsung dengan teman-teman dari berbagai suku, budaya, dan agama membuatnya semakin memahami pentingnya saling menghormati.
Menurutnya, makna keberagaman adalah hidup dengan saling bertoleransi dan menghargai perbedaan. "Keberagaman itu bertoleransi dan saling menghargai satu sama lain, baik suku maupun agama," ucapnya.
Mengikuti pendidikan Capaska tentu tidak lepas dari disiplin tinggi. Teguran dari para pelatih menjadi bagian dari proses pembentukan karakter. Namun bagi Hasna, situasi tersebut bukan sesuatu yang berat.
Ia justru mengaku sudah terbiasa dididik dengan disiplin sejak di rumah. "Kalau dibentak di sini sudah biasa. Di rumah orang tua juga keras, bahkan lebih keras. Jadi itu membuat mental saya kuat," katanya sambil tersenyum.
Ketegasan yang diterimanya sejak kecil justru menjadi bekal untuk menghadapi tantangan selama menjalani pendidikan.
Bagi Hasna, menjadi Capaska nasional bukanlah garis akhir. Ia telah menyiapkan mimpi berikutnya setelah menyelesaikan pendidikan di bangku sekolah.
Ia bercita-cita mengabdi kepada negara dengan bergabung menjadi anggota Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) atau Polisi Wanita (Polwan). Semangat itu pula yang ingin ia tularkan kepada teman-teman dan adik-adik di Papua Barat agar tidak ragu bermimpi besar.
"Tetap semangat, karena kita semua sama-sama bisa. Kita semua juga punya kesempatan untuk mengibarkan Bendera Pusaka," kata Hasna.
Hasna, seorang siswi di Manokwari yang dahulu hanya bisa menyaksikan upacara kemerdekaan lewat layar televisi, kini dirinya bersiap menjadi bagian dari sejarah itu sendiri. Perjalanannya menjadi bukti bahwa mimpi yang dipupuk dengan kerja keras, disiplin, dan rasa syukur dapat mengantarkan seseorang melintasi batas geografis, dari ujung timur Indonesia menuju halaman Istana Negara.