BPIP: Pancasila Harus Jadi Pedoman Generasi Muda Hadapi Disrupsi AI dan Maraknya Hoaks
Foto: Amiri Yandi/InfoPublik
Foto: Amiri Yandi/InfoPublik
Depok, InfoPublik – Wakil Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Rima Agristina, menegaskan bahwa pesatnya perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan media sosial, harus diimbangi dengan penguatan nilai-nilai Pancasila.
Menurutnya, penguasaan teknologi tanpa fondasi karakter yang kuat berpotensi membuat generasi muda mudah terpengaruh hoaks, disinformasi, serta berbagai informasi yang dapat mengancam persatuan bangsa.
Rima mengatakan, BPIP terus menanamkan pemahaman kepada generasi muda, khususnya calon Paskibraka, bahwa kemajuan teknologi merupakan sesuatu yang harus dikuasai. Namun, di saat yang sama, nilai-nilai Pancasila tetap menjadi pegangan utama dalam memanfaatkan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.
"Kita semua memahami ada dinamika perkembangan teknologi yang sangat luar biasa, dengan kehadiran artificial intelligence terutama, dan kita tentu saja mengajarkan kepada adik-adik bahwa secanggih apa pun teknologi, adik-adik bisa menguasai itu, mempelajari itu, tetapi nilai-nilai ini tetap harus dirawat, karena nilai-nilai ini sudah menjadi suatu konsensus bangsa," kata Rima di Pemusatan Pembinaan Paskibraka Tingkat Pusat 2026 di Depok, Senin (3/8/2026).
Ia menegaskan, Pancasila merupakan fondasi yang tetap relevan dalam menghadapi perubahan zaman. Nilai-nilai tersebut menjadi pedoman agar kemajuan teknologi tidak mengikis rasa cinta tanah air, semangat persatuan, serta tanggung jawab sebagai warga negara.
"Dan nilai-nilai inilah yang tetap relevan dan bisa membawa kita semua tetap menjaga Indonesia merdeka, Indonesia raya yang abadi," ujarnya.
Menurut Rima, tantangan era digital saat ini bukan hanya soal kemampuan mengoperasikan teknologi, melainkan juga kemampuan menyaring informasi yang beredar di ruang digital. Arus informasi yang sangat cepat, ditambah perkembangan AI yang mampu menghasilkan berbagai jenis konten, menuntut generasi muda memiliki literasi digital, berpikir kritis, serta menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai landasan dalam bersikap agar tidak mudah terpengaruh hoaks maupun disinformasi di media sosial.
Karena itu, BPIP tidak hanya membina Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka), tetapi juga memperluas pembinaan kepada pelajar melalui berbagai kegiatan kepaskibrakaan. Program tersebut diharapkan menjadi ruang bagi generasi muda untuk memperkuat disiplin, kepemimpinan, dan wawasan kebangsaan.
Rima mengajak pelajar yang belum berkesempatan menjadi Paskibraka untuk tetap aktif mengikuti kegiatan kepaskibrakaan di sekolah. Menurutnya, anggota Paskibraka yang telah mengikuti pembinaan juga memiliki tanggung jawab untuk menularkan nilai-nilai kebangsaan kepada teman-temannya.
"Bagi putra-putri Indonesia di seluruh wilayah Indonesia, bagi adik-adik yang belum berkesempatan menjadi Paskibraka, di bawah program Paskibraka juga ada aktivitas kepaskibrakaan, di mana kepada mereka yang sudah jadi Paskibraka kami wajibkan untuk juga berbagi kepada teman-temannya di sekolah bagaimana cara kepaskibrakaan ini mencintai Indonesia, membangun Indonesia," tuturnya.
Sebagai bagian dari pembinaan tersebut, BPIP menyelenggarakan Program GARUDA (Gladian Sentra Paskibra untuk Indonesia), yaitu program pembinaan dan pelatihan bagi anggota Paskibra di sekolah. Program ini bertujuan membentuk generasi muda berkarakter Pancasila melalui penguatan disiplin, kepemimpinan, dan wawasan kebangsaan sehingga mampu menjadi teladan di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Selain itu, BPIP juga mendorong pelajar yang belum memasuki usia seleksi Paskibraka untuk mulai berlatih sejak dini melalui aktivitas kepaskibrakaan serta belajar dari para Purna Paskibraka Duta Pancasila. Kesempatan tersebut semakin terbuka melalui berbagai program pembinaan yang telah berjalan di 553 titik di bawah Wadah Binaan Duta Pancasila Paskibraka Indonesia.
Melalui berbagai program tersebut, BPIP berharap lahir generasi muda yang tidak hanya cakap memanfaatkan AI dan teknologi digital, tetapi juga memiliki karakter Pancasila yang kuat.
"Dengan bekal tersebut, mereka diharapkan mampu menghadapi tantangan era digital secara bijak, menangkal hoaks dan disinformasi, serta terus menjaga persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia," pungkas Rima.