QR Code di KKJH Berisikan Riwayat Kesehatan Jemaah Haji

: Jemaah haji lansia/Foto: Kemenkes


Oleh Putri, Jumat, 17 Mei 2024 | 22:13 WIB - Redaktur: Untung S - 159


Jakarta, InfoPublik - Pemerintah Indonesia berupaya menekan angka kematian jemaah haji dalam penyelenggaraan ibadah haji 2024. Berdasarkan pengalaman pada 2023, jumlah jemaah haji Indonesia yang meninggal mencapai 774 orang dengan mayoritas kelompok lanjut usia (lansia).

Fokus utama penyelenggaraan ibadah haji 2024 adalah jemaah yang diberangkatkan ke Tanah Suci harus sepenuhnya sehat dan diperiksa kesehatannya. Terutama, mereka yang mempunyai penyakit penyerta (komorbid).

Seperti hipertensi, diabetes, dan jantung, perlu dikontrol rutin kesehatannya. Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes Liliek Marhaendro Susilo mengungkapkan sejumlah inovasi untuk memantau kesehatan jemaah haji.

Salah satunya, Kartu Kesehatan Jemaah Haji (KKJH) yang menjadi kartu identitas atau tanda pengenal (name tag) jemaah haji, kini dilengkapi dengan QR Code yang terpampang di bagian belakang tanda pengenal jemaah haji.

“Tahun ini, kami bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Arab Saudi dan Digital Transformation Office (DTO) Kemenkes, kami fasilitasi name tag jemaah haji itu di halaman belakang terdapat QR Code,” kata Liliek melalui keterangan resminya Jumat (17/5/2025).

Lanjutnya, pada QR Code tersebut berisikan informasi tentang riwayat ringkas kesehatan jemaah haji tersebut atau yang dikenal dengan istilah International Patient Summary (IPS). IPS ini untuk memenuhi permintaan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Arab Saudi.

QR COde berisikan nama, tanggal lahir, usia, penyakit yang diderita, obat yang sudah dikonsumsi secara rutin, juga vaksinasi, dan alergi. Melalui QR Code diharapkan dapat memberikan penanganan cepat dan tepat jika jemaah yang bersangkutan sakit.

“Dengan data itu, kami harapkan kalaupun ada jemaah sakit di RS Arab Saudi, QR Code di-scan sehingga nanti di sana bisa memberikan terapinya lebih tepat. Jadi, tidak menebak-nebak obat yang dikasih apa. Kalau boleh dibilang itu salah satu inovasi,” kata Liliek.

Adanya informasi QR Code riwayat kesehatan, pasien juga dapat lekas selesai perawatannya. Tempat tidur di klinik atau fasilitas kesehatan pun bisa silih berganti dengan pasien lainnya.

“Alhamdulillah, karena kami sesuai dengan amanah undang-undang, yang mesti kami dampingi jemaah haji reguler khususnya. Maka, terhadap seluruh jemaah haji reguler, data summary kesehatan sudah ada semua dan dapat diakses oleh fasilitas kesehatan yang ada di Arab Saudi, untuk melihat jika ada yang sakit, nanti bisa lebih cepat pertolongannya di sana. Kalau ada summary seperti itu bisa cepat keluar, misalnya bisa lebih cepat seminggu keluar,” kata Liliek.

Pengetatan Istitha’ah dan Tambahan Asesmen

Inovasi meminimalisirkan jemaah haji meninggal selanjutnya adalah kriteria pengetatan istitha’ah kesehatan. Istitha’ah bermakna kemampuan jemaah haji dari aspek kesehatan, baik fisik maupun mental, yang terukur melalui pemeriksaan.

Liliek menyontohkan, apabila sakit jantung atau gagal ginjal stadium 5, maka tidak boleh berangkat. Sekarang, stadium 4 tidak boleh berangkat. Kemudian, dulu gula darah orang yang diabetes, pihaknya memakaikan kriteria yang sangat longgar.

Sekarang diketatkan, HbA1c atau cek gula darahnya mesti delapan persen, kalau lebih dari itu tidak boleh berangkat. Maka, poin nomor satu ini tentang kriteria diagnosis yang boleh berangkat," kata Liliek.

Upaya lain pemeriksaan kesehatan jemaah haji berupa penambahan asesmen. Liliek menegaskan, haji adalah ibadah fisik yang menuntut kesehatan fisik dan mental.

Asesmen yang ditambahkan meliputi asesmen kognitif, asesmen mental, dan asesmen aktivitas, khususnya lansia untuk melihat seberapa besar kemampuan mereka dalam melakukan aktivitas keseharian.

Pada penyelenggaraan ibadah haji 2024, proses penentuan istitha’ah atau tidak dilakukan secara komputerisasi. Sebelumnya, sistem dioperasionalkan oleh seluruh dinas kesehatan kabupaten/kota.

Petugas kesehatan yang menyatakan jemaah “istitha’ah atau tidak” dalam bentuk hasil penilaian akhir. Sistem secara komputerisasi yang diterapkan bukan menampilkan hasil penilaian akhir, melainkan penilaian dalam setiap tahapan pemeriksaan.

Yakni, saat pertama kali jemaah datang ke puskesmas, menjalani anamnesis (wawancara dengan dokter), tes kognitif, tes mental, dan kemampuan aktivitas.

“Setiap tahapannya itu dimasukkan nilai. Misalnya, apakah dia bisa ke kamar mandi range nilai antara 1 sampai 5, hasilnya dia hanya range 2. Dengan proses itu, nanti aplikasi yang menentukan, menyimpulkan dia istitha’ah atau tidak,” kata Liliek.

Melalui sistem ini, Liliek berharap hasil pemeriksaan kesehatan benar-benar objektif. Dengan inovasi, yang paling utama adalah pihaknya melakukan penyaringan untuk menentukan, jemaah layak terbang atau tidak, itu yang diperketat.

 

Berita Terkait Lainnya

  • Oleh Putri
  • Rabu, 12 Juni 2024 | 17:10 WIB
Kemenkes Komitmen dalam Peningkatan Layanan Bedah Saraf
  • Oleh Putri
  • Rabu, 12 Juni 2024 | 15:29 WIB
Wamenkes RI Tekankan Obat Harus sampai ke Daerah Terpencil
  • Oleh Putri
  • Selasa, 11 Juni 2024 | 21:24 WIB
KKHI Makkah Fasilitasi Jemaah Sakit Jalani Safari Wukuf