:
Oleh Elvira, Kamis, 10 Maret 2022 | 21:06 WIB - Redaktur: Taofiq Rauf - 351
Jakarta, InfoPublik – Institut Teknologi Bandung (ITB) berkomitmen mendukung pengembangan dan pembangunan kota pintar (smart city). Model living lab atau laboratorium hidup yang dikembangkan ITB diajukan sebagai salah satu ringkasan kebijaksanaan atau policy brief dalam pertemuan negara G20.
“Living lab adalah area terbatas dari sebuah kota yang dapat dikendalikan dan dapat diawasi untuk menguji sebuah solusi dan melakukan penyesuaian variable-variabel penting. Pusat penelitian ini mengundang semua pihak, pemerintah, industri, dan siapapun yang ingin bergabung dalam upaya untuk meningkatkan pendekatan yang dilakukan living lab,” ujar Rektor ITB Prof. Reini Wirahadikusumah, Ph.D. saat memberikan sambutan pada webinar bertajuk “Setting Priorities: Smart Ways to Make Indonesian Cities Smarter”, Kamis (10/3/2022).
Sebagai salah satu universitas teknik tertua di Indonesia, ITB mempunyai kontribusi kepada negara, termasuk dalam membantu mengembangkan berbagai kota di Indonesia. Dalam menghadapi era industri 4.0 dan konvergensi ilmu pengetahuan, ITB mempunyai sebuah pusat riset bernama SCCIC atau Smart City and Community Innovation Center (Pusat Kota Pintar dan Inovasi Masyarakat).
SCCIC juga dipercaya sebagai institusi tuan rumah untuk gugus tugas nomor 2 atau Host Institution for Task Force number 2, salah satu Think Tank 20 of G20. Ini merupakan bukti nyata kontribusi ITB dalam memajukan negara-negara G20 dan dunia secara umum.
“Ini merupakan kehormatan bagi ITB, dan tentunya yang lebih penting adalah bukti nyata kontribusi ITB dalam memajukan negara-negara G20 dan dunia secara umum,” ujar perempuan pertama yang menjabat sebagai Rektor ITB itu.
Sebelum memasuki era kota pintar, urainya, bidang-bidang keahlian perencanaan perkotaan, arsitektur, dan rekayasa lingkungan mempunyai kontribusi lebih kepada pengembangan berbagai kota di Indonesia.
SCCIC merupakan salah satu pusat riset dan pengembangan multidisiplin dengan para ahli dari berbagai bidang untuk mendukung pengembangan sistem-sistem pintar, termasuk kota-kota pintar. Pusat penelitian ini telah memproduksi dan menjalankan banyak hal. SCCIC juga mengadakan Penilaian Kota Pintar Indonesia (Indonesian Smart City Rating) setiap tahunnya yang bertujuan untuk mengukur kemajuan pengembangan kota di Indonesia untuk menjadi kota-kota pintar.
“Jadi, lewat aktivitas ini, kota-kota yang inovatif dapat diidentifikasi, dan kota-kota lain dapat belajar serta mengadopsi solusi yang sudah terbukti dari kota-kota inovatif tersebut. Setiap kota juga akan menyadari di mana kelebihan dan kekurangan mereka sehingga bisa lebih efektif dalam melaksanakan upaya-upaya perbaikan,” kata Reini.
Pada kesempatan tersebut, Reini mengakui jika salah satu faktor kegagalan dalam mengimplementasi solusi-solusi kota pintar adalah penerapan solusi secara langsung di seluruh wilayah kota. “Jadi, masalahnya atau faktor kegagalannya adalah dari aspek penerapan secara langsung,” katanya.