Kemenhut Perkuat Pengendalian Karhutla, 582 Hotspot Terdeteksi
ilustrasi pemadaman karhutla oleh manggala agni kemenhut. (Foto: Humas Kemenhut)
ilustrasi pemadaman karhutla oleh manggala agni kemenhut. (Foto: Humas Kemenhut)
Jakarta, InfoPublik - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) terus memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui peningkatan kesiapsiagaan personel, pemantauan kondisi lapangan, serta operasi pemadaman darat dan udara di sejumlah wilayah rawan.
Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan, Kamis (1/10/2026) pukul 21.10 WIB, terdeteksi 582 titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) berdasarkan satelit NASA Terra/Aqua, NASA SNPP, dan NASA NOAA-20.
Jumlah tersebut meningkat dibandingkan pemantauan pada Rabu (30/9/2026) yang mencatat 521 titik panas. Sebaran titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi meliputi Kalimantan Tengah 205 titik, Sumatra Selatan 78 titik, Kalimantan Selatan 63 titik, dan Riau dua titik. Sementara Kalimantan Barat dan Jambi tidak mencatat titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Kementerian Kehutanan menegaskan data hotspot merupakan indikator awal berdasarkan deteksi satelit terhadap anomali suhu permukaan. Setiap indikasi tetap membutuhkan verifikasi lapangan untuk memastikan kondisi aktual di lokasi.
Satu kejadian kebakaran juga dapat terdeteksi sebagai beberapa titik panas. Karena itu, data satelit menjadi salah satu dasar bagi petugas untuk menentukan lokasi prioritas pengecekan dan penanganan.
Kualitas Udara Terus Dipantau
Selain memantau titik panas, pemerintah terus memantau kualitas udara sebagai bagian dari upaya perlindungan masyarakat yang berpotensi terdampak karhutla. Pemantauan dilakukan antara lain berdasarkan parameter PM2,5, yaitu partikel udara berukuran sangat kecil dengan diameter kurang dari atau sama dengan 2,5 mikrometer.
Berdasarkan pemantauan terkini, kualitas udara di sebagian wilayah Indonesia berada pada kategori baik hingga sedang. Pemantauan terus dilakukan, terutama di wilayah yang terdapat aktivitas kebakaran maupun yang berpotensi terdampak asap.
Masyarakat diimbau memperhatikan informasi kualitas udara dan mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila terjadi penurunan kualitas udara, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia serta masyarakat dengan gangguan kesehatan pernapasan.
Pemerintah juga memperkuat operasi pengendalian karhutla secara terpadu bersama BNPB, TNI, Polri, pemerintah daerah, BMKG, Manggala Agni, dan unsur terkait lainnya.
Sebanyak 61 unit armada udara disiagakan untuk mendukung patroli udara, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), serta pemadaman melalui metode water bombing.
Di darat, pengendalian dilakukan melalui patroli pencegahan, pemantauan wilayah rawan, pengecekan lapangan terhadap indikasi hotspot, pemadaman, hingga pendinginan (mopping up) untuk memastikan api tidak kembali muncul.
Pengendalian karhutla juga diikuti dengan upaya penyelamatan satwa liar yang terdampak. Penanganan dilakukan secara terpadu oleh unit pelaksana teknis (UPT) Kementerian Kehutanan, khususnya Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), bersama para pihak terkait.
Setiap laporan mengenai satwa liar terdampak karhutla diverifikasi dan melalui asesmen lapangan untuk memastikan kondisi satwa serta menentukan tindakan penanganan yang sesuai.
Kementerian Kehutanan mengimbau masyarakat yang menemukan satwa liar terdampak kebakaran, terluka, terjebak, atau masuk ke kawasan permukiman agar tidak melakukan penanganan maupun evakuasi secara mandiri.
Masyarakat diminta menjaga jarak aman, tidak memberikan perlakuan yang dapat membahayakan satwa, serta segera melaporkannya kepada BKSDA atau petugas kehutanan terdekat.
Kementerian Kehutanan mengimbau masyarakat dan seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla, terutama di wilayah yang masih mengalami kondisi kering.
Masyarakat juga diingatkan untuk tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar karena dapat meningkatkan risiko kebakaran yang berdampak terhadap lingkungan, kesehatan, satwa liar, dan aktivitas masyarakat.
Apabila menemukan asap, titik api, aktivitas pembakaran, maupun satwa liar yang membutuhkan penanganan, masyarakat dapat segera melaporkannya agar respons dapat dilakukan sedini mungkin.
Informasi karhutla dapat dilaporkan melalui Posko Karhutla Kementerian Kehutanan pada 021-5704618, WhatsApp +62 8131-00-35000, atau email posko.karhutla@kehutanan.go.id.
Kementerian Kehutanan bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, BNPB, BMKG, Manggala Agni, dan masyarakat akan terus memperkuat kolaborasi dalam pencegahan dan pengendalian karhutla untuk melindungi hutan, lingkungan, keanekaragaman hayati, serta masyarakat.