Surabaya InfoPublik – Mei 2018, Angka inflasi di Kota Malang mengalami kenaikan hingga mencapai 0,29 persen dibandingkan sebelumnya yang hanya 0,14 persen. Inflasi Malang juga lebih besar dibandingkan Jawa Timur yang mencapai 0,17. Sedangkan inflasi terbesar di Jawa Timur adalah Sumenep dengan angka 0,30.

"Penyumbang terbesar inflasi Kota Malang pada Mei adalah kenaikan tarif transportasi udara atau pesawat sebesar 20,16 persen," kata Kasi Statistik Distribusi Badan Pisat Statistik (BPS) Kota Malang, Dwi Handayani Prasetyowati, Kamis, (7/6).

Berbeda dengan Surabaya dengan jumlah maskapai yang banyak, harga tiket pesawatnya lebih terjangkau. Sedangkan Malang maskapainya sedikit, sehingga harga tiket pesawat cenderung lebih mahal

Penyebab faktor inflasi terbesar kedua adalah kebutuhan rumah tangga seperti tabung elpiji ukuran tiga kilogram. Di bulan Ramadan, kebutuhan elpiji tabung hijau kecil itu meningkat, sementara penggunaannya tidak tepat sasaran.

Hal inilah membuat keberadaan tabung elpiji melon langka, akibatnya harga di pengecer menjadi naik. Komoditi penyumbang inflasi lainnya adalah kenaikan harga telur ayam ras, daging ayam, bawang merah, apel, tahu mentah, sepeda motor, anggur dan emas perhiasan.

Sementara faktor penghambat inflasi adalah penurunan harga bahan makanan salah satunya beras dengan angka -1,55 persen serta penurunan harga makanan jadi dengan angka -0,28 persen. Namun penurunan itu tidak membuat Kota Malang deflasi.

Seperti sebelumnya inflasi saat Lebaran masih lebih rendah dibandingkan angka inflasi saat bulan Ramadan. Tetapi biasanya pada saat Lebaran tren inflasinya lebih tinggi. Tetapi menjelang Lebaran tahun ini  tingkat konsumsi warga Malang tampak sudah mulai meningkat, kondisi ini akan sangat berpebgaruh pada angka inflasi bulan Juni 2018. (MC Diskominfo Prov Jatim/non-ryo/eyv)