Jakarta, InfoPublik - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo mengatakan terorisme masih menjadi bahaya laten bagi Indonesia, sehingga deteksi dini dan kewaspadaan harus diperkuat.

"Kita waspada boleh, tapi tidak harus mencurigai bagi kelompok-kelompok tadi yang sudah dibina oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Sehingga akses berkomunikasi berbaur dengan masyarakat itu harus diberikan ruang, tapi harus dipantau dan diikuti," kata Tjahjo Kumolo, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Selasa (13/3).

Menurut Mendagri, program deradikalisasi terus intensif dilakukan dengan berbagai pendekatan. Khusus untuk eks napi terorisme, tugas pemerintah membinanya, agar mereka kembali ke jalan yang benar dan dapat membaur kembali dengan masyarakat.

“Deteksi dini menjadi faktor utama dalam mendeteksi setiap gelagat di tengah masyarakat. Termasuk juga gelagat yang mengarah pada ancaman terorisme,” ungkapnya.

Dia menegaskan, kewaspadaan menjadi kunci, selain pendekatan lain yang lebih menyentuh pada kemanusiaan. Misalnya kepada mereka yang telah menjalani hukuman, pendekatannya tentu akan lain.

“Sebab, mereka yang telah menjalani hukuman, atau mereka yang baru pulang dari Suriah, misalnya, tetap masih warga negara Indonesia. Jadi tidak mungkin diusir. Maka tugas BNPT bersama jajaran pemerintah, baik pusat maupun daerah membinanya dan memantaunya,” paparnya.

Dia menambahkan, tahun ini adalah tahun politik, yang memerlukan kewaspadaan dari semua pihak. "Tahun ini kita menghadapi proses konsolidasi demokrasi mulai Pilkada sampai Pileg dan Pilpres ada event Asian Games juga. Ini juga bagian yang menjadi tugas tanggung jawab BNPT dan Kemendagri, menjaga stabilitas," pungkasnya.