Fieldtrip Ubud, Tabanan, dan Karangasem Jadi Penutup Rangkaian World Water Forum ke-10

: Desa Wisata Jatiluwih Bali memakai sistem subak demi keberlanjutan dalam proses menanam padi, sehingga tidak heran beras merah hasil dari desa itu kualitasnya menjadi yang terbaik di Bali. Desa wisata itu akan menjadi salah satu destinasi yang akan dikunjungi delegasi World Water Forum ke-10 yang akan berlangsung pada 18-25 Mei 2024 mendatang di Bali. Foto: Biro Komunikasi Kemenparekraf


Oleh Untung S, Sabtu, 25 Mei 2024 | 10:48 WIB - Redaktur: Untung S - 633


Badung, InfoPublik – Peserta World Water Forum ke-10 akan mengunjungi Museum Subak di Ubud, Kebun Raya Bedugul di Tabanan, dan Jero Tumbuk Culture & Retreat di Karangasem, Bali pada Sabtu (25/5/2024). Perjalanan fieldtrip itu menjadi rangkaian penutup para delegasi dan peserta untuk menikmati keindahan alam dan budaya lokal Bali.

Sepanjang hari ini, mulai dari berangkat, perjalanan hingga di tiga lokasi field trip, rombongan mendapatkan suasana yang berbeda dari hari-hari sebelumnya saat mengikuti sesi per sesi diskusi.  Perjalanan akan mulai dari titik kumpul di lobi Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC).

Fieldtrip terbagi menjadi tiga pilihan, yaitu trip pertama Museum Subak, persawahan terasering Subak Jatiluwih UNESCO, dan Kebun Raya Bedugul, yang semuanya berlokasi di Kabupaten Tabanan.

Trip kedua menuju Monkey Forest, Ubud Culture Village, dan Danau Batur  serta dermaga Kedisan di Kabupaten Bangli. Trip ketiga, peserta diajak menuju Jero Tumbuk Culture & Retreat di Kabupaten Karangasem. 

Staf Ahli Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Bidang Teknologi, Industri, dan Lingkungan Endra S. Atmawidjaja mengatakan bahwa Indonesia bangga dapat mempersembahkan pengalaman dan kenangan tentang Bali, sebelum peserta World Water Forum ke-10 pulang ke negara masing-masing.

“Sebuah kebanggaan bagi Indonesia bisa menjadi tuan rumah penyelenggaraan World Water Forum ke-10. Kami ingin peserta yang hadir tidak hanya mengikuti forum utamanya saja, tetapi juga bisa ikut merasakan suasana Bali yang berbeda,” kata Endra.

Pada trip pertama, peserta akan mendapatkan gambaran proses pertanian Bali. Proses bagaimana masyarakat Bali mengatur sistem irigasi atau subak hingga penanaman yang seluruhnya berdasarkan penghitungan kalender Bali (berbeda dengan penanggalan Masehi). Persawahan bertingkat-tingkat (terasering) Jatiluwih di kaki Gunung Batukaru, serta hamparan tanaman padi akan menjadi pemandangan yang mendominasi selama peserta dan delegasi menikmati perjalanan rute Tabanan ini. 

Pada sisi lain, peserta dengan pilihan Monkey Forest, Ubud akan mendapati cagar alam dan kompleks candi yang terletak di Desa Padangtegal. Di sekitaran kompleks hutan 12,5 hektar, peserta dapat bertemu ratusan monyet-monyet  yang tinggal di hutan tersebut.

Danau Batur menjadi trip selanjutnya, dengan jarak 30 kilometer dari Ubud. Danau yang berada di dalam mangkuk Kaldera Batur, Kintamani. Gunung Batur merupakan gunung aktif dengan pemandangan yang mempesona.

Selanjutnya, peserta dengan perjalanan trip ke Karangasem yang sesampainya di Jero Tumbuk akan berkeliling dalam wisata desa. Peserta dapat berinteraksi langsung dan berkegiatan bersama masyarakat Bali sekitar kawasan Jero Tumbuk. Peserta juga akan diajak beraktivitas seperti menanam padi dan memancing ikan.

 

Berita Terkait Lainnya

  • Oleh Farizzy Adhy Rachman
  • Kamis, 13 Juni 2024 | 14:20 WIB
Indonesia Komitmen Terapkan Sumber Energi Terbarukan
  • Oleh Farizzy Adhy Rachman
  • Rabu, 12 Juni 2024 | 11:12 WIB
Menteri PUPR Dorong Kolaborasi Transformatif untuk Ketahanan Air Global
  • Oleh Mukhammad Maulana Fajri
  • Senin, 27 Mei 2024 | 12:22 WIB
BRIN Dukung Riset dan Inovasi Pengelolaan Sumber Daya Air Berkelanjutan
  • Oleh Mukhammad Maulana Fajri
  • Jumat, 24 Mei 2024 | 21:26 WIB
BRIN Kenalkan Rancangan Geomimo di World Water Forum ke-10
  • Oleh Wahyu Sudoyo
  • Sabtu, 25 Mei 2024 | 09:58 WIB
Kopi Nikmat dari Hasil Konservasi Air Situ Cimeuhmal Bandung
  • Oleh Jhon Rico
  • Jumat, 24 Mei 2024 | 20:53 WIB
Perempuan Asal Lampung Terima Kyoto World Water Grand Prize 2024