Kamis, 3 April 2025 20:51:58

Pawai Ogoh-Ogoh Senduro: Tradisi Hindu, Semangat Bhinneka Tunggal Ika

:


Oleh MC KAB LUMAJANG, Selasa, 1 April 2025 | 15:28 WIB - Redaktur: Juli - 1K


Lumajang, InfoPublik - Malam menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1947 di Senduro, Lumajang, terasa begitu semarak. Ribuan warga memadati jalanan untuk menyaksikan pawai Ogoh-ogoh yang digelar pada Jumat (28/3/2025) malam.

Pawai ini bukan sekadar tradisi umat Hindu, tetapi juga menjadi ajang kebersamaan yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk umat Islam.

Setiap tahun, pawai Ogoh-ogoh menjadi bagian dari Upacara Tawur Agung Kesanga. Ratusan peserta berpakaian adat Bali mengarak Ogoh-Ogoh, patung raksasa simbol kejahatan, menyusuri jalanan utama Desa Senduro. Tabuhan gamelan dan musik tradisional mengiringi perjalanan mereka, menambah kemeriahan acara.

Rute pawai yang mencapai 4 kilometer berakhir di lapangan Pura Mandara Giri Semeru. Di sepanjang perjalanan, masyarakat menyaksikan dengan antusias, tak hanya terpukau oleh arak-arakan Ogoh-ogoh, tetapi juga oleh tarian dan atraksi budaya yang ditampilkan.

Keunikan pawai Ogoh-ogoh di Senduro terletak pada partisipasi warga lintas agama. Tak hanya umat Hindu, umat Islam pun turut serta, bahkan ikut membantu dalam pembuatan patung Ogoh-ogoh. Sebuah pemandangan yang menggambarkan betapa kuatnya toleransi di wilayah ini.

"Kami membuat Ogoh-ogoh ini bersama, tanpa melihat latar belakang agama. Yang penting, kita saling menghormati dan menjaga tradisi," ungkap Rudi, seorang warga yang ikut berpartisipasi dalam pembuatan Ogoh-ogoh, Jumat (28/3/2025) malam.

Kenyo, salah satu pengunjung, mengaku terkesan dengan suasana pawai. "Serasa di Bali, tapi ini di Lumajang. Atraksinya luar biasa, tariannya indah, musiknya khas budaya lokal. Senang sekali bisa menyaksikan langsung," katanya.

Menurut Kepala Pembimas Hindu Kanwil Kemenag Jawa Timur, Budiono, sebanyak 17 Ogoh-ogoh turut serta dalam pawai tahun ini.

Ia menjelaskan bahwa pawai ini memiliki makna spiritual mendalam, yakni membersihkan lingkungan dan diri dari unsur negatif.

"Ogoh-ogoh melambangkan Si Butha Kala, makhluk pengganggu manusia. Pawai ini bertujuan mengusir energi negatif agar perayaan Nyepi berlangsung dengan damai," jelasnya.

Setelah diarak keliling desa, Ogoh-ogoh kemudian dibakar di lapangan Pura Mandara Giri Semeru. Ritual pembakaran ini menjadi puncak acara, melambangkan pemusnahan roh jahat sekaligus pembersihan batin.

Ketua Harian Pura Mandara Giri Semeru, Agung Wira Dharma, menambahkan bahwa pembakaran Ogoh-ogoh bukan sekadar seremonial, tetapi juga bentuk harapan agar dunia kembali bersih dari segala gangguan. "Setiap tahunnya, kami berharap pawai ini membawa kedamaian bagi seluruh masyarakat, tanpa memandang perbedaan," ujarnya.

Di tengah keberagaman, pawai Ogoh-ogoh di Senduro menjadi bukti nyata bahwa harmoni bisa terjalin melalui budaya dan tradisi. Sebuah perayaan yang bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga ajang mempererat persaudaraan antarmasyarakat. (MC Kab. Lumajang/Ydc/Asm/An-m)

 

Berita Terkait Lainnya

  • Oleh MC KAB LUMAJANG
  • Selasa, 1 April 2025 | 14:41 WIB
Sambat Bunda: Inovasi AI Pemkab Lumajang untuk Tangkap Aspirasi Warga
  • Oleh MC KAB LUMAJANG
  • Selasa, 1 April 2025 | 15:25 WIB
Harmoni Takbir dan Keamanan: Forkopimda Lumajang Pastikan Malam yang Damai