Trik Marketing Pengusaha Kuliner Blora, Makan Sepuasnya Bayar Seikhlasnya

:


Oleh MC KAB BLORA, Kamis, 29 September 2022 | 17:50 WIB - Redaktur: Tobari - 1284


Blora, InfoPublik - Ada ungkapan bijak yang sering kita dengar, di setiap musibah pasti ada hikmah dan di setiap kejadian pasti ada pelajaran yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Demikian pula sejak pemerintah mengambil kebijaksanaan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dampak yang dirasakan langsung oleh masyarakat adalah kehidupan mereka yang semakin sulit.

Hal itu disampaikan tokoh masyarakat Blora Blora Bambang Sulistya, Kamis (29/9/2022). "Karena semua kebutuhan hidup harganya mulai naik," ucap Bambang Sulistya, mantan Sekda Blora.

Sehingga perlu ada langkah terobosan dan solusi tidak hanya dari pemerintah yang saat ini sudah menggelontorkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada masyarakat.

Tetapi juga sangat diharapkan kepada berbagai elemen masyarakat yang memiliki kepekaan, kepedulian dan kemampuan dana agar ikut memberi sumbangsih dan bantuan utamanya kepada anggota masyarakat yang kurang beruntung.

Tetapi di balik itu, ternyata di Kabupaten Blora Jateng telah muncul adanya inovasi sosial dan spiritul yang barangkali dapat memberikan salah satu solusi guna meringankan beban kehidupan masyarakat.

Bambang Sulistya menyebut, hadirnya salah satu warung makan baru dan bersejarah. Kuliner itu membebaskan para pengunjung untuk membayar seikhlasnya.

Warung makan itu diberi nama "Monosuko" dan berdomisili di Jln Nusantara No 50 Kota Blora dengan menu makanan yang tersaji berupa:nasi rawon, soto dan ayam geprek.

"Bersyukur saya kemarin, berkesempatan menikmati menu makanan di warung tersebut," ungkapnya.

Warung Monosuko, memiliki sesanti, makan sepuasnya bayar seikhlasnya. Dari sisi rasa dijamin memenuhi selera makanan para konsumen.

Apalagi dari sisi kualitas dapat dipastikan tidak mau kalah dengan makanan soto, rawon dan ayam geprek bertarif. Mengingat dalam penyajian menu makanannya juga ditangani secara profesional.

Martono pengusaha milenial yang punya gagasan dan pemilik warung Monosuko mengungkapkan untuk penangananya ia menghadirkan seorang Chef bernama Dibdyo yang bekerja di sebuah hotel berbintang di Surabaya.

Langkah dan kiprah Martono untuk membuka warung Monosuko patut diapresiasi dan mendapat acungan jempol.

Karena di tengah masyarakat yang sedang mengalami kesulitan hidup. Ia mewujudkan Idea cerdas yang melangit untuk berbagi dengan memberi subsidi berupa makanan kepada anggota masyarakat yang membutuhkan dengan membayar seikhlasnya.

Seandainya di Kabupaten Blora di setiap Kecamatan ada sebuah model warung Monosuko, maka bisa dipastikan akan memberikan kontribusi positif bagi peningkatan gizi untuk mendukung kualitas sumber daya manusia sekaligus ikut andil dalam menangkal dan mengatasi stunting.

"Karena pada saat saya di warung Monosuko sudah ada anak-anak yang memakai seragam Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama menikmati menu makanan," tambah Bambang Sulistya yang sekarang dipercaya sebagai Ketua PWRI Blora.

Sementara kalau melihat dan mendengar dari penuturan Martono.Ia sosok pengusaha muda yang berpredikat S3, bukan dimaksudkan yang bersangkutan bertitel Doktor namun perilaku yang ditunjukan mencerminkan sikap paripurna.

Meliputi S1, Sederhana/prasojo dalam berucap dan bertindak ora neko neko. Komitmen dalam berjanji dan bersinergi membangun kemitraan berusaha

S2, Sosial selalu menjadi landasan dalam setiap melangkah baik dalam berbisnis maupun dalam bergaul di dimasyarakat. Seperti dalam membuka Warung Monosuko idea dasarnya belajar Kepyur/Berbagi.

Karena ia sehari-hari seorang pengusaha yang bergerak di bidang komoditas ayam yang setiap hari menghasilkan keuntungan.

Sebagian dari profit itu untuk disalurkan kepada masyarakat yang kurang beruntung melaluhi warung Monosuko dengan membayar seikhlasnya. Karena Ia menyadari sebagian dari hasil usahanya adalah haknya kaum duafa.

Kemudian S3, Silaturahmi menjadi prinsip hidup dalam menggapai kesuksesan berusaha.

Karena dengan bersilaturahmi diyakini segala usaha akan lancar dan berkembang serta segala persoalan pasti akan memperoleh solusi dan kemudahan.

Perjalanan hidup Martono tak semulus jalan tol, pait getir dan manisnya kehidupan sudah dijalani.

Ia dilahirkan dari keluarga petani sederhana dari desa Nglengkir Kecamatan Bogorejo Kabupaten Blora.

Dirinya banyak belajar dari kegagalan usaha dan kegelapan hidupnya, namun  semangatnya  selalu tak pernah pudar apalagi kata menyerah atau kapok dalam berusaha.

Selalu bangkit dan memiliki optimisme dari setiap keterpurukan usaha. Bahkan mau belajar dan menerima nasehat dari siapun asal untuk kebaikan.

Masih ada ide dari Martono yang sederhana tapi memiliki makna bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Blora yang akan diwujudkan.

Berkenaan dengan hal tersebut ia mohon doa restu kepada masyarakat Blora semoga usaha warung makan Monosuko bisa tumbuh dan berkembang tidak hanya di Kecamatan Blora saja tapi bisa berdiri di kecamatan lainnya.

Ia siap bekerja sama dan bersinergi dengan siapapun yang memiliki kepekaan dan nurani untuk sesarengan mBangun Blora Mustika. (MC Kab Blora/Teguh/toeb).