[WAWANCARA KHUSUS] Menilik Kesiapan PT KAI Antisipasi Lonjakan Pemudik
Jakarta, InfoPublik - Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1444 H, umumnya 3 hingga 4 hari sebelum lebaran, stasiun kereta api sudah akan dipadati oleh para pemudik. Moda transportasi ini menjadi pilihan favorit masyarakat karena daya jangkauanya yang luas. Dari ratusan ribu orang yang akan berpergian secara bersamaan menuju ke halaman kampung masing-masing, PT Kereta Api Indonesia (KAI) melakukan sejumlah langkah persiapan guna menghadapi lonjakan pemudik lebaran pada tahun ini.
Bagaimana kesiapan tersebut, dan seperti apa antisipasi yang dilakukan, berikut ini petikan wawancara tim GPR TV bersama dengan Kepala Humas PT KAI Daop 1 Jakarta, Eva Chairunisa.
Upaya apa yang dilakukan oleh PT KAI menghadapi lonjakan penumpang pada Lebaran 2023? Apalagi PPKM di tahun ini sudah ditiadakan?
Kami memprediksi bahwa tahun ini akan terjadi peningkatan pengguna jasa kereta dalam masa angkutan lebaran. Untuk dapat mengakomodir kebutuhan pengguna jasa yang akan mudik, kita melakukan berbagai upaya termasuk peningkatan layanan. Salah satunya dengan memberangkatkan Kereta Api (KA) tambahan.
Secara total untuk area Daop 1 Jakarta, keberangkatan dari stasiun Gambir ataupun juga Stasiun Pasar Senen, terdapat 303 perjalanan KA tambahan selama 12 April sampai dengan 3 Mei, atau sekitar 22 hari, H-10 sampai dengan H+10.
Sehingga secara total pada masa 22 hari, H-10 sampai dengan H+10, untuk dari Daop 1 Jakarta sendiri secara total akan memberangkatkan operasional KA sebanyak 1.513 KA, untuk keberangkatan kereta api jarak jauh.
Kemudian dari jumlah KA tersebut, juga terdapat ketersediaan tempat duduk sampai dengan 1 juta tempat duduk. Dari jumlah tersebut sampai dengan saat ini, kalau kita melihat data pemesanan tiket yang dilakukan oleh pengguna jasa masyarakat, sekitar 525.000 di antaranya sudah dipesan atau sudah terjual. Mayoritas dari yang 525.000 tersebut memilih untuk jadwal keberangkatan tanggal 12-13 April sampai dengan tanggal 24 April atau H-9 sampai dengan H-2 lebaran.
Jadi kalau kita melihat data pemesanan, di stasiun Pasar Senen sudah mulai terjadi peningkatan pengguna jasa yang berangkat. Kalau normalnya sekitar 6.000, per tanggal 13 April 2023, yang berangkat dari stasiun Pasar Senen ada sekitar 13.500 pengguna jasa.
Kemudian kalau kita melihat lagi dari data pemesanan tiket, untuk tanggal-tanggal tertentu, yang menjadi tanggal favorit dan juga relasi-relasi tertentu, okupasinya sudah mencapai 90 sampai dengan 100 persen ada di tanggal 17 April sampai dengan tanggal 21 April.
Pemilihan jadwal tertinggi di tanggal 21 April okupansi sudah mencapai 100 persen. Sehingga bagi pengguna jasa yang baru akan melakukan pemesanan, bisa mencari sejumlah alternatif tanggal lainnya di atas tanggal 17 April atau tanggal 22 April. Karena pemesanan tiket untuk masa angkutan lebaran menggunakan kereta api jarak jauh sudah dibuka sejak 1 bulan lalu, sudah lebih dari satu bulan sekitar 45 hari yang lalu.
Ketentuannya untuk tiket kereta api jarak jauh, sudah bisa dipesan 45 hari sebelum jadwal keberangkatan. Masyarakat yang baru akan melakukan pemesanan dan memilih tanggal favorit sekitar 17 sampai dengan tanggal 22, kemungkinan sudah habis atau sudah tidak tersedia. Silahkan melakukan pengecekan di aplikasi KAI Access untuk ketersediaan tempat duduk. Alternatif tanggal lainnya bisa mencari di tanggal 14 April sampai dengan tanggal 16 April.
Bisa juga menggunakan fitur connecting train, di KAI Access ada fitur connecting train, nanti disana akan diarahkan pengguna jasa melakukan pemesanan. Misalkan pemesanan tiket tujuan Jogjakarta sudah habis, dengan menggunakan fitur connecting train, kita akan diarahkan dari Jakarta menuju stasiun lain untuk transit, kemudian berganti kereta lain untuk menuju Jogjakarta. Nanti tarifnya include menjadi satu semuanya.
Kami menyampaikan kembali kepada seluruh masyarakat yang akan berangkat agar memperhatikan kembali aturan-aturan yang berlaku yang menjadi persyaratan ataupun ketentuan. Akan dilakukan di pemeriksaan tiket untuk kelengkapan aturan tersebut. Jadi jangan sampai karena tiket di musim angkutan lebaran ini cukup susah karena peminatnya sangat banyak, jangan sampai gagal berangkat karena terkendala, salah satunya itu aturan vaksin.
Jadi sampai dengan saat ini kami masih mengacu pada Surat Edaran Kementerian Perhubungan dan Satgas Covid-19 serta Kementerian Kesehatan, yang mengatur untuk pengguna jasa kereta api jarak jauh. Penumpang usia 18 tahun ke atas sudah wajib divaksin ketiga atau booster. Kemudian untuk usia 13 sampai dengan 17 tahun sudah wajib di vaksin kedua.
Kemudian untuk usia 6 sampai dengan 12 tahun, jika belum divaksin bisa menggunakan surat keterangan dari Puskesmas atau juga berjalan didampingi dengan orang dewasa yang memenuhi persyaratan vaksin. Untuk usia wajib vaksin, jika tidak dapat divaksin karena alasan kesehatan tetap bisa menggunakan jasa kereta api asalkan membawa surat keterangan dari dokter Rumah Sakit yang menyatakan bahwa kondisinya tidak dapat divaksin karena alasan medis tertentu. Ini yang kita ingatkan dan sosialisasikan selalu mengenai aturan-aturan yang harus dipenuhi saat akan menggunakan kereta api jarak jauh.
Langkah untuk mengurai kepadatan antrian para pemudik?
Kalau kita melihat secara keseluruhan, termasuk sebagai contoh di NATARU kemarin, dengan angka-angka yang cukup tinggi, namun masih kondusif, misalnya di Stasiun Pasar Senen. Ini karena memang secara fasilitas stasiun melakukan sejumlah peningkatan. Sebagai contoh penambahan jumlah tarea pemeriksaan tiket atau boarding.
Kemudian secara digitalisasi, untuk mempermudah pengguna jasa yang membeli tiket melalui aplikasi KAI Access, tidak perlu lagi melakukan pencetakan tiket. Tapi cukup dengan menunjukkan e-boarding pass yang ada di perangkat konsolnya masing-masing. Kemudian kami sangat menyarankan agar dapat melakukan pembelian tiket melalui aplikasi KAI Access, sehingga akan lebih dimudahkan pada saat melakukan proses boarding.
Kemudian saat ini, sistem boarding kami sudah terintegrasi dengan aplikasi Satu Sehat yang sebelumnya Peduli Lindungi, sehingga untuk pemeriksaan vaksin di area boarding tidak dilakukan lagi secara manual. Secara otomatis pengguna jasa yang sudah melakukan vaksin akan terlihat datanya pada sistem boarding kami. Ini hal-hal peningkatan dari sisi digitalisasi yang kita lakukan untuk pelayanan penumpang.
Kemudian kita juga sudah memasang sejumlah perangkat pencetak tiket yang dapat dioperasikan secara mandiri oleh seluruh calon pengguna jasa di stasiun. Sehingga akan lebih memudahkan untuk melakukan pencetakan tiket, tidak perlu lagi menuju ke loket ataupun customer service.
Selanjutnya peningkatan layanan seperti menambah kursi tunggu yang ada di area stasiun, seperti Stasiun Pasar Senen ataupun juga Stasiun Gambir. Kami juga menyiapkan area lokasi bermain anak yang kita harapkan dapat lebih memberikan kenyamanan bagi orang tua yang membawa anak. Karena biasanya karakternya untuk di musim angkutan lebaran sendiri cukup banyak calon pengguna yang berpergian membawa anak-anak. Jadi kita perluas area untuk bermain anaknya juga.
Kemudian kita juga akan menambah petugas layanan berupa customer service mobile yang akan membantu pengguna jasa yang membutuhkan informasi ataupun belum mengetahui cara penggunaan dari mesin cetak tiket. Nanti akan dibantu oleh customer service mobile. Kemudian juga customer service mobile ini juga akan mengatur arus penumpang sedemikian rupa agar tidak terjadi penumpukan di titik-titik tertentu yang dapat menghambat arus penumpang, baik itu yang melakukan boarding ataupun yang berada di area zona 3 para penunggu ataupun pengantar.
Bagaimana mitigasi yang dilakukan jika terjadi kereta api anjlok seperti yang terjadi pada tahun 2019 lalu?
Kalau untuk antisipasi jika sewaktu-waktu yang terjadi kondisi-kondisi khusus yang dapat menghambat perjalanan ataupun menjadi kendala operasional KA, kami sudah menyiapkan khususnya di titik-titik yang menjadi pantauan khusus. Ada sekitar 19 titik lokasi yang kita gunakan untuk meletakkan alat material untuk siaga (AMUS). Jadi kita letakkan di 19 titik dengan tujuan jika sewaktu-waktu terjadi kondisi kendala operasional kereta api di lintas.
Nanti untuk proses perbaikan ataupun proses pemenuhan material yang dibutuhkan akan lebih cepat, jadi AMUS ini ada di 19 titik, salah satunya Karawang, Cikampek, kemudian juga di area Jakarta Kota, kemudian juga ada di Bekasi untuk percepatan penanganan jika suatu ada kendala operasional.
Kemudian di titik-titik rawan seperti misalnya rawan rongsor atau banjir kita juga menempatkan petugas khusus posko di sekitar 20 titik untuk penjagaan daerah rawan. Jadi ini ada petugas posko yang akan melakukan pemantauan dan melakukan koordinasi secara berkala. Sehingga jika dilihat ada hal-hal yang mungkin dapat mengancam ataupun membahayakan perjalanan KA, penanganan akan lebih cepat dilakukan ataupun antisipasi bisa dilakukan oleh teman-teman dari prasarana, selain juga tentunya jumlah petugas dari yang melakukan pemeriksaan prasarana, jalur rel ataupun prasarana lainnya juga ditambah.
Pada beberapa titik rawan, dengan bertambahnya jumlah perjalanan KA, secara otomatis resiko di perlintasan sebidang akan lebih tinggi, mengingat sampai dengan saat ini masih banyak pengendara yang melintasi perlintasan sebidang abai dengan keselamatan. Masih banyak kejadian pada saat rambu itu sudah berbunyi, namun ada saja yang tetap berupaya menerobos. Petugas-petugas penjagaan di titik-titik perlintasan yang khususnya juga perlintasan liar kita tambah dan kita juga melakukan sosialisasi ke masyarakat setempat, juga ke pengendara di area titik perlintasan liar yang cukup padat kendaraan, dan juga kita tetapkan sebagai titik rawan.
Apakah di posko pemantauan ini akan ada semacam fasilitas kesehatan seperti adanya klinik dan juga dokter?
Jadi kalau untuk pemantauan daerah rawan, sifatnya lebih ke arah penjagaan ataupun memantau dari sisi kondisi prasarana. Kondisi prasarana itu seperti misalnya jalur rel, persinyalan, atau mungkin listrik aliran atas.
Untuk dokter kita siapkan di stasiun- stasiun keberangkatan KA jarak jauh dan sejumlah stasiun lainnya, karena fokusnya lebih ke arah penanganan jika ada calon pengguna jasa ataupun pengguna yang mengalami kondisi tertentu, seperti sakit baik itu di stasiun sebelum berangkat ataupun juga di perjalanan KA.
Jadi untuk di perjalanan KA jika ada kedapatan yang sakit maka ini akan dikoordinasikan untuk diturunkan di stasiun terdekat, selain sebelumnya mungkin akan diberikan obat-obatan yang umum di dalam KA oleh kondektur.