Upacara Penurunan Bendera di Bojonegoro Digelar Penuh Makna, Nyalakan Semangat Nasionalisme
Istimewa
Istimewa
Bojonegoro, InfoPublik – Dari Sekolah Rakyat, M. Fahrur Ramli mendapat kesempatan menjadi bagian dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Bojonegoro. Siswa asal Desa Penganten, Kecamatan Balen, itu dipercaya masuk pasukan 8 dalam Upacara Penurunan Bendera Merah Putih pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8/2026) sore.
Fahrur yang tercatat sebagai siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) Bojonegoro mengaku bangga mendapat kesempatan bergabung dengan Paskibraka tingkat kabupaten.
Pada upacara pengibaran bendera pagi hari, Fahrur bertugas sebagai anggota pasukan 45. Saat penurunan bendera pada sore hari, ia mendapat tugas berbeda dengan menjadi bagian dari pasukan 8.
“Kalau tadi pagi saat pengibaran di pasukan 45, sore ini di penurunan jadi trisula pasukan 8 sebagai pengerek,” ungkap Fahrur di Alun-Alun Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur.
Bagi Fahrur, kesempatan tersebut bukan hanya pengalaman bertugas dalam upacara kemerdekaan, tetapi juga menjadi dorongan untuk meningkatkan kedisiplinan dan memberikan kebanggaan bagi keluarga serta sekolah.
“Saya bangga bisa bergabung dengan Paskibraka Bojonegoro. Semoga ke depan bisa lebih disiplin, bisa membanggakan orang tua dan sekolah, dan kiprah saya tidak berhenti di sini saja, namun bisa menjadi duta Pancasila di sekolah maupun lingkungan masyarakat,” pungkasnya.
Fahrur juga mengungkapkan adanya perubahan tempo langkah tegap Paskibraka pada 2026. Menurutnya, langkah tegap tahun ini dilakukan lebih cepat untuk menyesuaikan dengan ketentuan terbaru.
Perubahan tersebut mengacu pada Peraturan Panglima TNI Nomor 3 Tahun 2025. Dalam ketentuan itu, tempo langkah tegap ditetapkan 116 langkah per menit dengan panjang langkah 60 sentimeter. Ketentuan tersebut menggantikan Peraturan Panglima TNI Nomor 58 Tahun 2018 yang sebelumnya menetapkan tempo 96 langkah per menit.
Sementara itu, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Bojonegoro Laela Nor Aeny mengatakan, peserta dan undangan upacara penurunan bendera pada dasarnya sama dengan upacara pengibaran pada pagi hari. Namun, terdapat tambahan kehadiran para camat dari seluruh kecamatan di Kabupaten Bojonegoro.
“Undangannya sama seperti undangan pengibaran bendera, namun sore ini ada tambahan camat se-Kabupaten Bojonegoro. Karena pagi tadi mereka memimpin upacara pengibaran di wilayahnya masing-masing,” jelasnya.
Laela mengatakan, peringatan HUT ke-81 RI di Bojonegoro mengikuti semangat nasional “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”. Momentum kemerdekaan juga menjadi kesempatan untuk menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat yang tengah terdampak bencana.
“Kita mengikuti pusat, Indonesia berdaulat, adil dan makmur. Untuk Agustus tahun ini ada bencana di NTT, selanjutnya kita dari Pemkab akan support bantuan bencana tersebut,” ujarnya.
Menurut Laela, sejumlah kabupaten dan kota memilih membatalkan pertunjukan peringatan HUT ke-81 RI sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat terdampak bencana. Bojonegoro juga tidak menggelar kegiatan berskala besar dalam peringatan kemerdekaan tahun ini.
“Beberapa kabupaten/kota membatalkan pertunjukan HUT RI ke-81 ini karena ada bencana dan wujud kepedulian dengan saudara kita. Kalau di Bojonegoro memang tidak ada kegiatan besar, untuk sore ini hanya ada tampilan kolosal dari SMA 2 Taruna Pamong Praja,” terangnya.
[ai/nn]
© Copyright 2026, All Rights Reserved