Jakarta, InfoPublik - Neeltje Deliana Insjowi Werimon berdiri dengan penuh kesiapan di antara barisan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Tim “Indonesia Adil Makmur”. Pelajar SMA Negeri 8 Jayapura, Papua, itu mendapat kepercayaan mengemban tugas paling penting dalam Upacara Penurunan Bendera Negara Sang Merah Putih di Istana Merdeka.
Neeltje dipercaya sebagai pembawa baki bendera Merah Putih dalam prosesi penurunan bendera pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Tugas tersebut menempatkannya sebagai salah satu sosok yang berada di garis depan dalam prosesi sakral ketika Sang Merah Putih diturunkan dari tiang bendera untuk kemudian disimpan dengan penuh kehormatan.
Kepercayaan itu sekaligus menjadi bagian dari perjalanan para putra-putri terbaik dari berbagai provinsi di Indonesia yang tergabung dalam Tim Paskibraka “Indonesia Adil Makmur”. Mereka membawa tanggung jawab besar untuk menjalankan setiap tahapan upacara dengan disiplin, ketelitian, dan penuh penghormatan terhadap simbol negara.
Pantauan InfoPublik melalui kanal youtube Sekretariat Presiden pada Senin (17/8/2026) petang terlihat bahwa sebagai pembawa baki, Neeltje memiliki peran penting dalam rangkaian prosesi tersebut.
Baki yang dibawanya menjadi tempat untuk menerima dan membawa bendera Merah Putih setelah diturunkan. Karena itu, setiap gerakan harus dilakukan secara terukur dan sesuai dengan tata upacara yang telah dipersiapkan.
Posisi pembawa baki juga memiliki makna tersendiri. Bukan sekadar membawa perlengkapan upacara, Neeltje menjadi bagian dari prosesi penghormatan terakhir terhadap Sang Merah Putih pada penghujung rangkaian upacara peringatan kemerdekaan di Istana Merdeka.
Untuk mengantisipasi pelaksanaan tugas, posisi cadangan pembawa baki dipercayakan kepada Ismi Ulfaida, Paskibraka putri asal Provinsi Sulawesi Barat yang merupakan siswi Sekolah Rakyat. Kehadiran pembawa baki cadangan menjadi bagian dari kesiapan formasi Paskibraka dalam memastikan seluruh rangkaian upacara dapat berlangsung sesuai rencana.
Di dalam formasi utama, Neeltje tidak menjalankan tugas seorang diri. Setiap anggota Paskibraka memiliki peran masing-masing yang saling melengkapi dalam prosesi penurunan bendera.
Atanasius Meyllano Frans Yogar dari Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), siswa SMA Katolik Giovanni Kupang, dipercaya sebagai Komandan Kelompok 8. Sementara itu, tugas sebagai pengerek bendera diberikan kepada Maharazthu Rizqhy Ramadhana Chubuyana, Paskibraka perwakilan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang bersekolah di SMAN 1 Taliwang.
Adapun tugas sebagai pembentang bendera dipercayakan kepada Mirza Rafi Navazani dari Provinsi Kalimantan Barat, pelajar SMAN 1 Sintang.
Sementara itu, posisi Komandan Kelompok 17 dipercayakan kepada Baruno Wicaksono, Paskibraka asal Provinsi Jawa Barat yang bersekolah di SMA Taruna Nusantara Cimahi. Komandan Kompi Paskibraka dijabat oleh Kapten Pnb Bagus Setianto, yang saat ini menjabat sebagai Kapokops Flight FGS Skadud 5 Wingud 5 Lanud Sultan Hasanuddin.
Bagi Neeltje, kepercayaan membawa baki dalam prosesi penurunan Sang Merah Putih menjadi bagian penting dari pengabdiannya sebagai anggota Paskibraka. Ia bersama seluruh anggota Tim “Indonesia Adil Makmur” dituntut menjalankan tugas dengan penuh konsentrasi dan tanggung jawab.
Penetapan Tim Paskibraka “Indonesia Adil Makmur” menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Para anggota Paskibraka tidak hanya menjalankan tugas seremonial, tetapi juga menjadi representasi generasi muda dari berbagai penjuru Indonesia.
Di antara barisan tersebut, Neeltje membawa peran yang memiliki makna khusus. Dari Papua, ia hadir di Istana Merdeka untuk mengemban amanah membawa baki bendera Merah Putih dalam prosesi penurunan Sang Merah Putih.
Tugas itu menjadi simbol kepercayaan sekaligus kehormatan bagi seorang pelajar untuk mengambil bagian dalam momen penting peringatan kemerdekaan. Dengan disiplin dan ketelitian, Neeltje bersama rekan-rekannya akan memastikan prosesi penurunan bendera berlangsung dengan penuh kehormatan, sebagaimana nilai-nilai kebangsaan dan semangat kemerdekaan yang mereka wakili.