Jakarta, InfoPublik - Suasana di sekitar Istana Merdeka, Jakarta, sudah riuh sejak gurat fajar belum sepenuhnya tampak. Sejak pukul 04.00 WIB, ribuan warga berbusana adat dari berbagai pelosok Nusantara telah berjejer rapi, rela mengantre demi menjadi saksi sejarah peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Salah satunya adalah balutan Baju Kurung Laboh khas Riau yang anggun, melengkapi lautan warna-warni pakaian adat yang memenuhi area luar Istana.
Kendati prosedur pemeriksaan oleh Paspampres, TNI, dan Polri berlangsung ketat demi mengamankan rute Kirab Bendera Pusaka dari Monas ke Istana, raut wajah para pengunjung tetap memancarkan antusiasme. Tingginya rasa ingin tahu dan semangat kebangsaan warga tecermin dari membludaknya pendaftar undangan resmi tahun ini, yang menembus angka lebih dari 330.000 orang. Padahal, kuota fisik yang mampu ditampung di dalam area Istana terbatas untuk sekitar 8.900 tamu yang beruntung.
Seperti dilansir dari unggahan akun Instagram @sekretariat.kabinet, Senin dini hari (17/8/2026), Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya yang berkeliling Kompleks Istana Kepresidenan menemukan sejumlah warga telah mengantre sejak sekitar pukul 03.00 WIB, bahkan ada yang mengaku sudah berada di lokasi sejak pukul 02.00 WIB.
Dalam percakapan dengan salah seorang warga, Teddy menanyakan alasan warga tersebut sudah mengantre sejak dini hari. "Ini ngapain? Jam 03.00 WIB pagi sudah antre?" tanya Teddy. "Iya, Pak, dari jam 02.00 WIB ," jawab warga tersebut.
Ketika ditanya asal daerahnya, warga itu menyebut berasal dari Sulawesi Selatan.
Seskab Teddy juga berbincang dengan warga lainnya yang mengaku berasal dari Kebumen, Jawa Tengah. Warga tersebut mengatakan telah tiba di Stasiun Gambir sekitar pukul 01.00 WIB sebelum menuju lokasi untuk mengikuti rangkaian peringatan HUT ke-81 RI. "Kebumen, Jawa Tengah, tadi sampai di Gambir jam 01.00 WIB" kata warga tersebut.
Lantas, Teddy Indra Wijaya kemudian menanyakan persiapan warga tersebut sebelum datang ke Istana, termasuk tempat berdandan sebelum mengikuti upacara. "Dandannya di mana?" tanya Teddy. "Dari rumah," jawab warga tersebut.
Seskab Teddy lalu mendoakan para warga yang telah mengantre sejak dini hari tersebut agar selalu sehat. "Sehat-sehat ya," kata dia.
Namun, keterbatasan kapasitas di kawasan Merdeka, tak meredupkan gempita perayaan. Untuk itu, pemerintah menyediakan sejumlah layar lebar di berbagai titik strategis sekitar kawasan Monas hingga luar Istana. Rangkaian prosesi bakal disajikan secara megah: mulai dari alunan syahdu orkestra dan marching band, Gita Bahana Nusantara yang tampil dengan personel lebih masif, tradisi pelepasan burung merpati ke udara, hingga gemuruh atraksi helikopter dan pesawat tempur TNI AU yang membelah langit Jakarta.
Bagi warga yang memadati area luar, kemeriahan tak berhenti pada prosesi formal semata. Kawasan Monas disulap menjadi panggung kegembiraan warga melalui gelaran Pesta Rakyat dan 'Pesta Rasa'. Adapun, lebih dari 1.000 UMKM dilibatkan untuk menyajikan ribuan porsi hidangan Nusantara secara gratis.
Di tengah riuh rendah derap langkah prajurit dan kibatan bendera, pesta kemerdekaan ini merajut kebersamaan seluruh elemen bangsa—baik mereka yang duduk di dalam ruang utama Istana maupun mereka yang bergembira di balik pagar pelataran.