Dari Basket ke Paskibraka Riau, Perjalanan Raisa Dinda Agnia Bikin Orang Tua Bangga
Istimewa
Istimewa
Pekanbaru, InfoPublik — Lapangan basket menjadi salah satu tempat Raisa Dinda Agnia menempa ketahanan fisik sejak duduk di bangku SMP. Bekal itu kemudian membawanya menapaki jalan berbeda saat masuk SMAN 2 Pekanbaru hingga terpilih sebagai anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Provinsi Riau.
Raisa kini bersiap menjalankan tugas pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di halaman Kantor Gubernur, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, pada Senin (17/8/2026).
Perjalanan Raisa menjadi anggota Paskibraka tingkat provinsi tidak pernah dibayangkan keluarganya. Ayah Raisa, Rival Amri, mengatakan ketertarikan putrinya terhadap Paskibra muncul setelah masuk SMAN 2 Pekanbaru.
“Waktu awal masuk SMAN 2 Pekanbaru, Raisa langsung tertarik ikut ekstrakurikuler Paskibra. Keinginan itu murni dari dirinya sendiri,” ujar Rival.
Pada awalnya, Rival dan istrinya, Indah Lorayana, sempat meminta Raisa tidak memaksakan diri dan tetap menempatkan pendidikan sebagai prioritas. Mereka khawatir kegiatan tambahan dapat mengganggu konsentrasi belajar putrinya.
“Awalnya kami orang tua sempat mengingatkan bahwa untuk fokus sekolah seperti biasa saja, tetapi dia tetap mantap mau menjalani Paskibra. Maklumlah, saya inikan pedagang gak pernah terbayang dia bakal sampai ke tingkat provinsi,” jelasnya.
Keteguhan Raisa perlahan mengubah pandangan keluarga. Sejak bergabung dengan Paskibra sekolah, ia mengikuti pembinaan rutin setiap pekan. Dukungan para senior turut membentuk kedisiplinan dan kemandiriannya.
“Kemudian, sejak masuk Paskibra di sekolah, ada pembinaan rutin setiap minggu. Dia juga sangat didukung oleh senior-seniornya di sekolah. Dari situlah kedisiplinan dan kemandiriannya mulai terbentuk dengan sangat baik,” tutur Rival.
Seiring berjalannya waktu, keluarga melihat Raisa mampu membagi waktu antara latihan dan pendidikan. Aktivitas Paskibra yang menuntut disiplin serta ketahanan fisik dapat dijalani tanpa mengesampingkan kewajibannya sebagai pelajar.
“Semakin kesini saya lihat ternyata dia mampu membagi waktu untuk ekskul dan pendidikannya. Kami orang tua jadinya sangat mendukung langkah dia,” ungkapnya.
Rival mengatakan keluarga beberapa kali menanyakan kondisi Raisa setelah menjalani latihan fisik. Namun, putrinya selalu meyakinkan orang tua bahwa dirinya sanggup mengikuti seluruh proses pembinaan.
“Sempat kami tanya Raisa capek gak? Dia selalu memastikan kami kalau dia sanggup dan bisa. Alhamdulillah, sudah jalannya ternyata sampai disaat ini,” terangnya.
Ketahanan fisik Raisa tidak terbentuk dalam waktu singkat. Sebelum menekuni Paskibra, ia aktif bermain basket sejak SMP. Aktivitas olahraga tersebut dinilai menjadi salah satu bekal saat menghadapi latihan yang membutuhkan stamina dan daya tahan.
“Fisik kuat dia saya rasa karena dari SMP dia sudah aktif main basket. Makanya, Raisa itu mau latihan kapanpun pasti selalu siap dia,” tambah Rival.
Setelah terpilih, Raisa menjalani rangkaian pendidikan dan pelatihan bersama anggota Paskibraka Provinsi Riau lainnya. Selama masa tersebut, keluarga belum dapat bertemu langsung dengannya. Komunikasi melalui telepon juga dibatasi sebagai bagian dari proses pembinaan.
“Sejak diklat ini belum ada jumpa sama Raisa. Komunikasi lewat telepon juga tidak diperbolehkan. Kami sepenuhnya menyerahkan kepercayaan kepada Pemprov Riau melalui Kesbangpol. Kami yakin dan berdoa semoga anak-anak sehat selalu selama mengikuti kegiatan,” ujarnya.
Meski komunikasi langsung dibatasi, keluarga tetap dapat mengikuti aktivitas Raisa melalui informasi dan dokumentasi yang dibagikan kepada orang tua.
Menurut Rival, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Riau bersama para pembina menyediakan grup WhatsApp bagi orang tua untuk menyampaikan perkembangan peserta, mulai dari latihan hingga kegiatan sehari-hari selama masa pembinaan.
“Pihak Kesbangpol dan pembina sangat baik pelayanannya. Mereka membuat grup WhatsApp untuk orang tua dan rutin membagikan foto serta pembaruan kegiatan anak-anak, seperti ada makan bersama, latihan, hingga pemberian vitamin malam hari. Jadi, obat rindu kami ya dari foto-foto yang dikirimkan itu,” jelas Rival.
Dokumentasi tersebut menjadi penghubung antara Raisa dan keluarganya selama masa pendidikan dan pelatihan. Di tengah kerinduan, keluarga memberikan ruang bagi Raisa untuk menjalani proses pembentukan disiplin, kemandirian, dan tanggung jawab.
Kini, keluarga menantikan Raisa menjalankan tugas pengibaran bendera di Kantor Gubernur Riau pada 17 Agustus. Rival berharap pengalaman sebagai anggota Paskibraka menjadi bekal berharga bagi putrinya dalam menapaki masa depan.
“Harapan saya semoga kedepannya Raisa ini dapat menjadi orang yang bermanfaat bagi keluarga dan negara. Untuk cita-citanya, dia pernah cerita ingin menjadi dokter gigi. Ya, kita lihat nanti ke mana jalannya, yang penting terbaik untuk Raisa,” harapnya.
Rival memastikan keluarga terus memberikan dukungan dan doa. Ia berharap Raisa dan seluruh anggota Paskibraka Provinsi Riau diberikan kesehatan serta kelancaran dalam menjalankan tugas.
“Yang jelas, kami selalu mendoakan dia. Semoga juga pengibaran bendera di Kantor Gubernur Riau besok dapat berjalan lancar dan tanpa ada hambatan apapun,” pungkas Rival.