Jakarta, InfoPublik – Pentingnya keberhasilan Sensus Ekonomi 2026 sebagai salah satu dasar untuk meningkatkan kualitas data ekonomi nasional. Data tersebut akan menjadi pijakan pemerintah dalam menyusun kebijakan dan anggaran secara lebih tepat, termasuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dalam Pidato Presiden RI dalam Rangka Penyampaian RUU APBN 2027 dan Nota Keuangan di Gedung Parlemen, Jakarta, Kamis (14/8/2026) mengatakan angka-angka dalam APBN sangat dipengaruhi oleh indikator makroekonomi. "Data yang dikumpulkan BPS melalui Sensus Ekonomi 2026 akan digunakan agar kita bisa lebih tepat menyusun kebijakan dan anggaran. Karena itu, pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 menjadi momentum penting untuk memperbarui gambaran mengenai kondisi perekonomian Indonesia,” ujar Presiden Prabowo.
Sementara itu, kualitas indikator makroekonomi sangat bergantung pada kualitas data yang dikumpulkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Menurutnya, Indonesia telah lebih dari 10 tahun belum melakukan rebasing atau pembaruan metode dan tahun dasar dalam menghitung aktivitas ekonomi nasional.
Sensus Ekonomi yang sekarang dijalankan sampai akhir bulan Agustus 2026, yang dilakukan oleh 251.000 petugas sensus yang bekerja di seluruh desa kita, perlu kita pastikan berhasil.
Ia mengajak seluruh masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam Sensus Ekonomi 2026 dengan memberikan data secara jujur dan akurat. Para wakil rakyat serta seluruh masyarakat yang mendengarkan pidatonya untuk mengajak orang-orang di sekitarnya ikut menyukseskan sensus.
Presiden Prabowo memberikan gambaran mengenai pentingnya data ekonomi dalam penyusunan APBN. Pada RAPBN 2027, pemerintah mengasumsikan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mencapai Rp7.987 triliun, dengan pembiayaan sebesar Rp671,2 triliun. Dengan asumsi tersebut, defisit APBN berada pada level 2,40 persen terhadap PDB.
Namun, apabila hasil pembaruan data menunjukkan ukuran perekonomian Indonesia lebih besar, sebagaimana diperkirakan sejumlah lembaga internasional, maka rasio defisit terhadap PDB juga akan menjadi lebih kecil.
Selain menjadi dasar pembaruan perhitungan ekonomi nasional, Presiden Prabowo menyebut hasil Sensus Ekonomi 2026 juga akan dimanfaatkan untuk memperbarui Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Pembaruan tersebut diharapkan semakin memperkuat akurasi data sosial dan ekonomi yang digunakan pemerintah dalam merancang berbagai kebijakan, program, dan penganggaran agar lebih tepat sasaran.
Ia menekankan, keberhasilan Sensus Ekonomi 2026 bukan hanya menjadi tanggung jawab BPS dan petugas sensus, tetapi membutuhkan partisipasi seluruh masyarakat. Dengan data yang lebih akurat dan mutakhir, pemerintah dapat memiliki dasar yang lebih kuat dalam menentukan arah pembangunan dan mengalokasikan anggaran negara secara efektif. “Karena itu, Sensus Ekonomi ini sangat penting,” ujar Presiden Prabowo.