Jakarta, InfoPublik – Pelukan sederhana dari Muhammad Risky Pratama kepada gurunya menjadi penanda perubahan besar dalam hidup bocah 12 tahun asal Labuhan Deli, Medan, Sumatra Utara. Setelah sempat putus sekolah dan bekerja sebagai penjual ikan, Risky kini sudah mampu membaca dengan lancar dan kembali menata cita-citanya melalui Sekolah Rakyat.
Guru Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Medan, Khairul Hasyim Haloho, masih mengingat momen ketika Risky tiba-tiba memeluknya dari belakang. Dengan mata berkaca-kaca, Risky menyampaikan terima kasih karena telah dibimbing hingga bisa membaca. “Pak, terima kasih, saya sudah bisa membaca sekarang,” ujar Risky, sebagaimana dituturkan kembali Khairul, Jumat (14/8/2026).
Bagi Khairul, ucapan tersebut menjadi buah dari proses belajar yang tidak singkat. Saat pertama masuk Sekolah Rakyat, Risky belum lancar membaca. Namun, keinginannya untuk belajar cukup kuat sehingga guru, pendamping, dan teman-temannya di asrama terus memberikan dukungan.
Salah satu kebiasaan yang membantu perkembangan Risky adalah program membaca selama 15 menit sebelum tidur. Teman-temannya di asrama turut mendampingi Risky berlatih membaca setiap malam.
“Guru banyak yang mendukung dia. Di asrama juga didukung. Pelan-pelan kami ajari Risky. Keinginan membacanya sangat kuat,” kata Khairul.
Perubahan itu kini dirasakan langsung oleh Risky. “Dulu saya enggak bisa membaca, sekarang saya pandai baca karena diajari,” ujar Risky.
Sebelum masuk Sekolah Rakyat, Risky lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja. Sejak berusia sembilan tahun, ia berjualan ikan keliling dengan mengayuh sepeda puluhan kilometer sambil membawa sekitar 30 kilogram ikan.
Risky juga sempat berhenti sekolah dan tumbuh dalam pengasuhan neneknya di tengah keterbatasan. Kesempatan untuk kembali belajar datang setelah Nanda, petugas penjangkau Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Medan, mendatangi tempat tinggal Risky dan mengajaknya bersekolah. Sang nenek, Masyita, kemudian mendukung keputusan tersebut. Ia berharap cucunya dapat kembali belajar dan mengejar cita-citanya menjadi tentara.
Sejak itu, kehidupan Risky perlahan berubah. Ia tidak hanya kembali menikmati kegiatan belajar bersama teman-temannya, tetapi juga memperoleh lingkungan yang mendukung tumbuh kembangnya.
Masyita melihat perubahan tersebut tidak hanya dari kemampuan akademik Risky. Sikap dan kebiasaannya juga berkembang menjadi lebih baik. “Terima kasih kepada pendampingnya yang mengajari. Risky jadi santun, sopan, akhlaknya,” kata Masyita.
Pemenuhan kebutuhan sehari-hari juga menjadi bagian dari dukungan yang diterima Risky. Ketika pertama datang, tubuhnya relatif kurus. Setelah mengikuti kegiatan di Sekolah Rakyat, berat badannya mulai meningkat seiring terpenuhinya kebutuhan makan dan pendampingan.
Kisah Risky menjadi salah satu gambaran bagaimana Sekolah Rakyat diarahkan bukan sekadar sebagai tempat memperoleh pendidikan, tetapi sebagai intervensi negara untuk memastikan anak dari keluarga kurang mampu tetap memperoleh hak belajar dan kesempatan mengembangkan potensi.
Presiden RI Prabowo Subianto turut menyoroti kisah Risky dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026). Dalam pidatonya, Presiden menyebut Risky sebagai salah satu anak yang kembali mendapatkan kesempatan untuk belajar setelah sebelumnya harus bekerja dan sempat putus sekolah.
Kisah tersebut memperlihatkan bahwa keterbatasan ekonomi tidak semestinya menentukan masa depan seorang anak. Dengan akses pendidikan, pendampingan, lingkungan yang aman, serta pemenuhan kebutuhan dasar, anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap memiliki ruang untuk berkembang dan berprestasi.
Bagi Risky, perubahan itu dimulai dari hal yang sederhana: kembali ke sekolah dan belajar membaca. Kini, dari bangku Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Medan, ia memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan, tumbuh bersama teman-temannya, dan mengejar cita-cita menjadi tentara.
Sekolah Rakyat pun menjadi lebih dari sekadar ruang kelas bagi Risky. Program tersebut membuka kembali jalan yang sempat tertutup—jalan menuju pendidikan, kemandirian, dan masa depan yang lebih baik.