Langgur, InfoPublik – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata–Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) menghadirkan inovasi pendidikan melalui program English Talk and Share di Ohoi Elaar Lamagorang, Kecamatan Kei Kecil Timur Selatan, Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku. Program yang digelar dua kali sepekan itu menjadi ruang belajar alternatif bagi anak-anak untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris sekaligus membangun kepercayaan diri sejak dini.
Penanggung Jawab Program English Talk and Share, Ardhanamesvari Nuringtyas Aji, mengatakan kegiatan tersebut merupakan salah satu program unggulan Tim KKN-PPM UGM Jelajah Kei Kecil 2026 yang dirancang untuk menjawab keterbatasan akses pembelajaran bahasa Inggris di wilayah tersebut.
"Program pengajaran ini awalnya dirancang sebagai program kerja inti dari tim KKN-PPM UGM Jelajah Kei Kecil 2026. Namun dalam pelaksanaannya kami berkolaborasi dengan Majelis Jemaat setempat yang memiliki visi serupa, sehingga lahirlah kelas Bahasa Inggris yang mendapat sambutan sangat baik dari masyarakat," ujar Ardhanamesvari di Ohoi Elaar Lamagorang, Senin (4/8/2026).
Program tersebut dikembangkan bersama Majelis Jemaat GPM Elaar dan Subkomisi Anak, Remaja, dan Katekisasi. Kolaborasi ini menjadikan pembelajaran bahasa Inggris tidak hanya sebagai kegiatan mahasiswa KKN, tetapi juga sebagai gerakan bersama untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak di desa.
Ardhanamesvari, yang akrab disapa Vari, menuturkan antusiasme belajar anak-anak di Ohoi Elaar Lamagorang sangat tinggi. Namun, mereka masih menghadapi keterbatasan karena mata pelajaran bahasa Inggris belum diajarkan di tingkat sekolah dasar, sementara tenaga pengajar yang memiliki kompetensi di bidang tersebut juga masih terbatas.
Berangkat dari kondisi itu, tim KKN menerapkan pendekatan yang berfokus pada kemampuan berbicara (speaking skills) agar peserta lebih berani menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari.
"Berbicara bukan sekadar menghafal teori, tetapi melatih keberanian untuk menggunakan bahasa. Harapan kami, anak-anak memiliki bekal kosakata dan ungkapan sederhana sehingga mereka berani memperkenalkan diri dan berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris," katanya.
Selama 5–14 Juli 2026, kelas bahasa Inggris telah dilaksanakan sebanyak empat kali di Gedung Sumber Kasih. Kegiatan yang digelar setiap Selasa dan Minggu itu diikuti 30 hingga 40 anak berusia 9–15 tahun pada setiap pertemuan.
Proses pembelajaran dikemas secara interaktif melalui permainan, praktik percakapan, latihan pengucapan (pronunciation drill), hingga penyusunan kalimat sederhana sesuai kreativitas peserta. Metode tersebut mendorong anak-anak lebih aktif dan berani berkomunikasi.
Dalam empat kali pertemuan, peserta telah mampu menyapa, memperkenalkan diri, memperkenalkan teman dan anggota keluarga dalam bahasa Inggris. Mereka juga menguasai kosakata dasar tentang hobi, warna, buah-buahan, emosi, nama tempat, serta mampu menyusun kalimat sederhana yang berkaitan dengan aktivitas sehari-hari.
Dampak program juga terlihat di luar ruang kelas. Anak-anak mulai terbiasa menyapa mahasiswa KKN dengan ucapan seperti Good morning dan Good afternoon ketika bertemu di lingkungan desa. Mereka juga semakin aktif menanyakan padanan bahasa Inggris dari berbagai benda yang dijumpai dan mencoba mempraktikkan kosakata baru dalam percakapan sehari-hari.
Vari mengaku bangga melihat semangat belajar peserta yang berasal dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Menurutnya, antusiasme tersebut menjadi modal penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di masa depan.
"Meskipun masa pengabdian kami di sini memiliki batas waktu, yang paling penting adalah semangat belajar anak-anak tetap hidup. Kami berharap apa yang telah dimulai dapat terus dilanjutkan oleh masyarakat dan menjadi bekal bagi mereka untuk menghadapi masa depan," ujarnya.
Program English Talk and Share menjadi contoh kolaborasi antara perguruan tinggi, gereja, dan masyarakat dalam menghadirkan solusi atas tantangan pendidikan di daerah. Selain meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris, program ini juga menumbuhkan keberanian berkomunikasi, membangun karakter, dan memperluas wawasan global anak-anak di wilayah kepulauan.
(MC.Maluku Tenggara/Adolof Labetubun)