Jakarta, InfoPublik - Kementerian Agama (Kemenag) menggelar Temu Konsultasi Media Dakwah bersama para penggiat dakwah seperti penyuluh agama, pengurus ormas perempuan, dan pengelola radio kampus, dalam rangka meningkatkan kualitas dakwah di media massa dengan menggandeng para awak media.

"Saya berharap media bisa bergandengan tangan memberikan bimbingan dakwah yang lebih baik kepada masyarakat,” ungkap Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Muhammadiyah Amin, Kamis (7/12).

Muhammadiyah berharap, para pengelola media khususnya radio dapat lebih selektif dalam memilih narasumber untuk mengisi siaran dakwah.

"Seorang pendakwah hendaknya menguasai materi yang disampaikan," ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, pendakwah juga harus dapat menyampaikan konten dakwahnya secara moderat dan tidak menyalahkan para pihak yang memiliki keyakinan yang berbeda dengan dirinya. "Intinya jalankan sesuai keyakinan masing-masing tidak perlu menyalah-nyalahkan orang lain," kata Muhammadiyah.

Sementara itu, Direktur Penerangan Agama Islam (Kemenag) Khoiruddin menyampaikan hal yang sama. "Ketika berceramah jangan sampai menyinggung keyakinan orang lain, yang qunut dan tidak qunut, tidak perlu dibahas terlalu dalam," katanya.

Khoiruddin menambahkan, bahwa seorang pendakwah hendaknya menghindari menyampaikan ujaran kebencian, kata-kata kasar, cabul, dan makian. Hendaknya, dakwah di media radio disampaikan oleh seorang pengelola dan penyiar radio yang beragama Islam dan memiliki kemampuan serta keilmuan agama Islam.

"Dai/da’iah dan pengelola dakwah di radio harus memiliki wawasan Alquran dan hadis, wawasan kebangsaan melalui pemahaman terhadap empat pilar bangsa yaitu UUD, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI, wawasan teknik berdakwah, wawasan kekinian tentang peristiwa-peristiwa aktual keumatan dan kebangsaan," beber Khoiruddin.

Pakar tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dr Faizah Ali Sibromalisi dan Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Umat MUI KH Cholil Nafis menekankan akan pentingnya kompetensi seorang pendakwah dalam memberikan dakwah di media massa.

"Berbeda dengan penyiar yang hanya membaca apa yang sudah dituliskan, seorang pendakwah juga harus mengerti apa yang dibaca dan dikatakannya," pungkas Cholil.