Gorontalo, InfoPublik – bangunan bersejarah dan Objek yang Diduga Cagar Budaya (ODCB) di kawasan Kota Gorontalo saat ini menghadapi ancaman serius berupa kepunahan akibat desakan pembangunan ekonomi dan kurangnya pengelolaan yang tepat.
Arkeolog dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Irfanuddin Marzuki, menegaskan tanpa langkah pelestarian yang konkret, generasi mendatang berisiko kehilangan bukti fisik atas peran penting Gorontalo di masa lampau.
"Tinggalan-tinggalan tersebut banyak yang terbengkalai atau musnah diganti dengan bangunan baru yang tidak sesuai dengan kondisi sekitarnya," ujar Irfanuddin di Limboto, Selasa (12/5/2026).
Ia menyatakan, bahwa perubahan fungsi hingga penghancuran fisik oleh masyarakat setempat memberikan pemaknaan baru yang justru merusak nilai penting sejarah, kebudayaan, dan pendidikan yang terkandung dalam bangunan-bangunan tersebut.
Menurut Irfanuddin, Gorontalo memiliki kekayaan arsitektur yang mencakup masa Kerajaan Islam, era kolonial, hingga masa kemerdekaan yang terkonsentrasi dalam satu kawasan.
Sebagian dari tinggalan tersebut telah berstatus Cagar Budaya, namun sebagian besar lainnya masih berkategori ODCB yang sangat rentan terhadap perubahan tata kota.
Kawasan Kota Gorontalo yang dahulu merupakan pusat aktivitas penting sejak masa penjajahan kolonial tidak akan lagi memiliki artefak yang dapat dipelajari oleh masyarakat di masa depan jika eksploitasi lahan terus mengabaikan aspek konservasi.
Kegiatan penguatan literasi sejarah itu dilaksanakan melalui program pendanaan Dana Indonesiana yang bersumber dari Dana Abadi Kebudayaan senilai Rp5 triliun.
Program tersebut merupakan inisiatif pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan dan LPDP untuk mendukung pelaku budaya melalui fasilitasi dana hibah, yang diajukan oleh perseorangan atas nama Rosyid A Azhar.
Pada hari pertama pelaksanaan, sebanyak 50 pelajar di Limboto mengikuti rangkaian materi mengenai pemahaman pelestarian kawasan bangunan bersejarah.
Acara itu menghadirkan sejarawan muda Universitas Negeri Gorontalo, Andris K. Malae sebagai pembicara utama, serta didampingi oleh tenaga ahli arkeologi lainnya, yakni Nurahman Iriyanto dari Universitas Khairun dan Vivi Sandra Sari dari BRIN. (mcgorontaloprov/rls)