Senyum Orang Tua Jadi Penyemangat Arifa hingga Tembus Paskibraka Nasional
Istimewa
Istimewa
Pekanbaru, InfoPublik – Arifa Rahma Maulydha membuktikan bahwa latar belakang keluarga bukan penghalang untuk meraih prestasi. Berasal dari keluarga petani di Keritang, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau, Arifa berhasil melewati seleksi berjenjang hingga terpilih sebagai Paskibraka Nasional 2026.
Putri pasangan Sulaiman dan Uswaroh itu kini telah kembali ke Riau setelah menuntaskan tugasnya di tingkat nasional. Kepulangannya menjadi momen membahagiakan setelah cukup lama mengikuti pemusatan pendidikan dan pelatihan serta tidak dapat berkomunikasi secara leluasa dengan keluarga.
“Saya sangat bahagia bisa pulang ke Riau, karena waktu pemusatan diklat di sana kami udah nggak bisa megang HP. Pokoknya kami gak ada berkontak sama sekali dengan orang tua. Alhamdulillah sekarang sudah selesai dan bisa kembali bersama keluarga,” ujar Arifa di VIP Lancang Kuning, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, Sabtu (22/8/2026).
Arifa mengatakan perjalanannya menuju Paskibraka Nasional bermula ketika ia memberanikan diri mengikuti pendaftaran. Sebagai anak dari keluarga petani, modal utamanya adalah doa, keberanian, kedisiplinan, serta dukungan kedua orang tua.
“Sebelum mengenakan seragam Paskibraka Nasional, saya ini seorang anak petani dari Keritang (Indragiri Hilir). Ketika pendaftaran Paskibraka dibuka, saya memberanikan diri untuk mendaftar,” katanya.
Keberanian tersebut membawanya melewati seleksi tingkat kabupaten dan kemudian dipercaya mewakili Indragiri Hilir pada seleksi tingkat Provinsi Riau.
“Awalnya diterima tingkat kabupaten, kemudian berlanjut dipercayai mewakili Inhil ke tingkat Provinsi Riau. Disinilah fase latihan mulai dari pagi hingga sore saya terapkan, Alhamdulillah ternyata berlanjut sampai Nasional,” tutur Arifa.
Untuk mencapai tingkat nasional, Arifa harus menjalani latihan dari pagi hingga sore, menjaga kondisi fisik, serta membangun mental dan kedisiplinan.
Persaingan semakin ketat ketika enam putra-putri terbaik Riau mengikuti tahapan untuk memperebutkan dua tempat sebagai wakil provinsi ke tingkat nasional, masing-masing satu putra dan satu putri.
“Saat seleksi kemarin modal saya doa, mental, dan fisik yang sudah terlatih selama ini. Pada tahap nasional, kami itu ada 6 putra-putri terbaik Riau berkumpul dengan impian yang sama. Tapi yang terpilih hanya satu putra dan satu putri untuk lanjut menjadi Paskibraka Nasional,” jelasnya.
Selama menjalani berbagai tahapan tersebut, Arifa mengaku merasakan gugup, lelah, khawatir, sekaligus berharap dapat melewati proses dengan baik.
Saat kelelahan muncul, sosok kedua orang tuanya menjadi salah satu sumber semangat untuk terus bertahan.
“Kalau ditanya perasaan ketika jalani berbagai seleksi tentunya campur aduk. Cuman setiap lelah karena latihan, bayangan senyum orang tua menjadi penyemangat untuk terus bertahan. Bapak dan Ibu di rumah jadi kunci saya semakin bangkit,” ungkapnya.
Doa dan dukungan Sulaiman dan Uswaroh terus menyertai Arifa sepanjang proses tersebut. Ketika akhirnya dinyatakan lolos menjadi Paskibraka Nasional, ia mengaku tidak mampu membendung rasa haru.
“Amanah yang sudah diberikan kepada saya ini tentu menjadi kebanggaan juga untuk daerah dan masyarakat Riau. Air mata saya tak pernah henti ketika dinyatakan lolos menjadi perwakilan Paskibraka Nasional,” terangnya.
Bagi Arifa, keberhasilan menjadi Paskibraka Nasional bukan hanya pencapaian pribadi. Pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa keberanian untuk mencoba, kerja keras, dan dukungan keluarga dapat membuka kesempatan bagi siapa pun untuk meraih prestasi.
Ia pun berpesan kepada generasi muda agar tidak merasa rendah diri karena latar belakang keluarga atau keterbatasan yang dimiliki.
“Oleh karena itu untuk kawan-kawan, ingat bahwa latar belakang bukanlah penghalang untuk menggapai mimpi setinggi langit. Teruslah berjuang, hormati orang tua, dan jangan pernah takut mencoba,” pungkasnya.
(MC Riau/bib)