Jakarta, InfoPublik – Bagi Kristina Beno, siswi SMPN IV Muting, Merauke, Papua Selatan, satu porsi Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar makanan. Program tersebut menjadi bekal yang membuatnya lebih siap mengikuti pelajaran dan bersemangat datang ke sekolah.
Sebelum MBG hadir, Kristina kerap berangkat sekolah tanpa sarapan. Pagi harinya diisi dengan membantu kakaknya mengambil air dari sumur galian untuk kebutuhan mandi dan mencuci piring. Setelah pekerjaan rumah selesai, ia baru bersiap menuju sekolah.
Perut kosong membuatnya mudah mengantuk saat belajar. Ketika guru meminta siswa mencatat pelajaran, konsentrasinya pun kerap terganggu. “Kalau sebelum mendapat MBG itu dari rumah tidak sarapan. Sampai di sekolah mengantuk juga karena tidak makan,” kata Kristina, Jumat (14/8/2026).
Kondisi itu berubah setelah MBG hadir di sekolahnya. Menurut Kristina, adanya kepastian mendapat makanan membuatnya lebih bersemangat mengikuti pelajaran. “Kalau sudah ada MBG itu semangat karena tahu nanti makan MBG, jadi catatnya dipercepat,” ujarnya.
Dampaknya bahkan terasa pada kehadiran siswa di kelas. Kristina bercerita, jumlah siswa yang hadir terkadang hanya sekitar lima hingga tujuh orang. Namun, ketika program MBG tersedia, jumlah siswa yang datang dapat mencapai sekitar 20 orang. “MBG itu memberi motivasi untuk semangat belajar,” kata Kristina.
Ia pun menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto atas program tersebut. “Terima kasih banyak Bapak Presiden, Bapak Prabowo, atas MBG-nya,” ucapnya.
Cerita serupa datang dari Jasper, siswa SD Muting 9, Merauke. Bagi Jasper, persoalan tidak sarapan bukan hanya membuatnya mengantuk, tetapi pernah membuat tubuhnya tidak kuat mengikuti kegiatan sekolah.
Jasper mengaku pernah pingsan ketika mengikuti upacara bendera. Saat itu, ia belum makan sejak pagi dan harus berdiri cukup lama di bawah terik matahari. “Saya pingsan itu karena sudah lapar, terus panas matahari, baru kita upacara itu lama,” tuturnya.
Bagi Jasper dan adiknya, pergi ke sekolah tanpa membawa bekal makanan sebelumnya merupakan hal yang biasa. Kehadiran MBG kemudian membuat situasi tersebut berubah. “Pas ada MBG itu, saya sudah kenyang, tidak lapar-lapar lagi,” katanya.
Karena merasakan langsung manfaatnya, Jasper berharap program tersebut terus berlanjut. Baginya, makanan yang diterima di sekolah membantu dirinya dan teman-temannya menjalani kegiatan belajar dengan kondisi tubuh yang lebih siap. “Saya dan adik biasa ke sekolah tidak bawa makan, jadi saya rasa MBG tidak bisa dihentikan,” ujar Jasper.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo karena menurutnya MBG membuat anak-anak lebih rajin bersekolah. “Saya mau bilang terima kasih banyak untuk Bapak Presiden, karena Bapak Presiden sudah kasih MBG, jadi anak-anak murid tidak malas-malas sekolah. Sekarang anak-anak murid sudah rajin,” katanya.
Kisah Kristina dan Jasper memperlihatkan bahwa manfaat MBG di daerah tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan pangan. Bagi anak-anak di Muting, Merauke, makanan bergizi di sekolah juga berkaitan dengan kesiapan belajar, konsentrasi, dan dorongan untuk hadir di kelas. Satu porsi makanan yang sederhana, bagi mereka, dapat menjadi energi untuk mengikuti pelajaran dan menjalani hari di sekolah dengan lebih baik.