Jakarta, InfoPublik - Presiden Prabowo Subianto menyoroti perjuangan Margaleritha Rohi (Rita), 38 tahun, penyandang disabilitas asal Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang berupaya mandiri dengan berjualan sirih pinang dan kini mengembangkan usaha menjahit.
Kisah Rita menjadi salah satu yang disampaikan Presiden Prabowo dalam pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Jumat (14/8/2026). Rita turut diundang menghadiri agenda tersebut.
Perjuangan Rita tidak mudah. Dengan keterbatasan fisik yang dimiliki, ia setiap hari membantu tantenya, Mariam Lay, 80 tahun, berjualan sirih pinang di sebuah pasar di Kota Kupang. Aktivitas itu dijalani sejak pukul 09.00 hingga 20.00 WITA. “Kadang ada yang beli itu lima orang,” ujar Rita saat ditemui Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, dikutip Jumat (14/8/2026).
Rita sejak kecil diasuh Mariam yang merupakan ibu sambung sekaligus tantenya. Mariam merawat Rita sejak bayi dan tetap mendampinginya meski mengetahui kondisi fisik Rita yang berbeda.
Dari hasil membantu berjualan, Rita menyisihkan uang yang diperolehnya untuk dikumpulkan sebagai modal usaha. Keinginan untuk mandiri kemudian mendorongnya untuk membangun usaha sendiri. “Aku bilang sama tante, aku mau usaha sendiri saja. Biar aku juga bisa memenuhi kebutuhan,” kata Rita.
Bangkit Melalui Keterampilan
Upaya Rita untuk mandiri kemudian mendapat dukungan melalui program Kementerian Sosial. Rita ditampung di Sentra Layanan Asistensi Rehabilitasi Sosial (Atensi) Efata di Naibonat, Kupang.
Selama berada di sentra tersebut, Rita mendapat pelatihan menjahit. Karena kondisi fisiknya membuatnya kesulitan menggunakan mesin jahit biasa, Sentra Efata memberikan mesin jahit khusus yang disesuaikan dengan kebutuhannya.
Selama enam bulan mengikuti pembinaan, keterampilan menjahit Rita semakin berkembang. Ia kemudian mampu menjalankan usaha menjahit secara mandiri dan memproduksi pakaian.
Kepala Sentra Efata Kementerian Sosial di Kupang, Tota Oceanna Zonneveld, mengatakan Rita memiliki tekad kuat untuk mengembangkan usahanya. “Tekadnya memang lebih kuat, sehingga usahanya tetap berjalan (hingga sekarang),” kata Tota.
Menurut Tota, keberhasilan Rita mengembangkan usaha menunjukkan bahwa dukungan yang diberikan kepada penyandang disabilitas perlu diarahkan pada penguatan keterampilan dan kemandirian ekonomi.
Ia berharap Rita dapat terus mengembangkan kemampuannya hingga menjadi penjahit profesional dan bahkan desainer. “Yang kemudian produknya itu dibeli karena memang keren, bukan karena kasihan,” ujarnya.
Kisah Rita menunjukkan bahwa dukungan pemerintah terhadap kelompok rentan tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga membuka kesempatan untuk mengembangkan keterampilan, membangun usaha, dan meningkatkan kemandirian.
Melalui dukungan tersebut, Rita kini memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan menjahit sekaligus membangun sumber penghidupan yang lebih berkelanjutan.