Bogor, InfoPublik — Susanah (38) hanya sempat mengenakan seragam merah-putih. Kesempatan melanjutkan pendidikan hingga mengenakan seragam putih-biru dan putih-abu tidak pernah ia rasakan. Pengalaman itu membuatnya bertekad agar ketiga anaknya tetap bersekolah, meski untuk membiayainya ia harus bekerja dari pagi hingga sore dan terkadang berutang.
Bersama suaminya, Didim, Susanah membesarkan tiga anak. Anak sulung mereka telah lulus SMA, anak kedua duduk di bangku SMP, sedangkan si bungsu masih menempuh pendidikan di sekolah dasar (SD).
Untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga, Susanah mengerjakan berbagai pekerjaan. Pagi hari ia menjahit kain majun, yakni kain perca atau potongan sisa bahan yang dimanfaatkan sebagai lap pembersih.
“Jam 7 (pagi) menjahit sampai siang,” kata Susanah di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, dalam wawancara dengan Badan Komunikasi Pemerintah RI, dikutip Jumat (14/8/2026).
Dari pekerjaan tersebut, Susanah mendapatkan upah Rp700 untuk setiap kilogram kain yang selesai dijahit. Dalam sehari, ia mampu mengerjakan sekitar 20 kilogram kain majun.
Saat hari libur, jumlah kain yang dikerjakan Susanah bersama ibu-ibu lainnya dapat mencapai 50 kilogram.
Pekerjaan Susanah tidak berhenti pada siang hari. Sekitar pukul 13.00, ia bergegas menuju dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Di sana, Susanah bekerja sebagai pencuci ompreng untuk mendapatkan tambahan penghasilan bagi keluarganya.
Sementara itu, Didim bekerja sebagai buruh bangunan. Penghasilannya tidak menentu karena pekerjaan tidak selalu tersedia. Bahkan, terdapat masa ketika Didim tidak mendapatkan pekerjaan selama dua hingga tiga minggu.
Rela Berutang agar Anak Tetap Sekolah
Di tengah keterbatasan ekonomi, Susanah dan Didim tetap menempatkan pendidikan ketiga anak mereka sebagai prioritas.
Susanah tidak ingin pengalaman putus sekolah yang dialaminya terulang pada anak-anaknya. Ia bahkan mengaku rela berutang agar kebutuhan pendidikan mereka tetap terpenuhi.
“Sekolah pokoknya penting buat anak. Dari mana jalannya, meskipun utang-utang, tetap sekolah. Biar dapat ijazah, biar enak ngelamar kerjanya,” ucapnya.
Harapan sederhana itu menjadi alasan Susanah terus bekerja. Pendidikan dipandang sebagai jalan agar anak-anaknya kelak memiliki kesempatan memperoleh kehidupan dan pekerjaan yang lebih baik.
Saat ini, Susanah dan keluarganya tercatat sebagai penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH). Ia juga pernah menerima Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT).
Susanah mengaku PKH membantu menopang kebutuhan ekonomi keluarganya. Sementara kehadiran program MBG memberikan kesempatan baginya untuk memperoleh pekerjaan tambahan.
“Dampaknya sih alhamdulillah ya, ekonomi jadi kebantu,” kata Susanah.
Bermimpi Punya Usaha Sendiri
Meski menjalani dua pekerjaan dalam sehari, Susanah masih menyimpan harapan untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya.
Ia bercita-cita memiliki usaha sendiri agar tidak terus bergantung pada pekerjaan milik orang lain. Susanah juga berharap suaminya kelak dapat mengembangkan usaha peternakan ayam secara mandiri.
“Kalau ekonomi membaik ya penginnya punya usaha sendiri, enggak dari orang. Kan ini semua punya bos ya, sampai ke mesin-mesin, ke peralatan gunting saja punya bos,” katanya.
Kisah Susanah turut mendapat perhatian setelah namanya disebut Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, sebagai salah satu penerima manfaat PKH dalam pidato kenegaraan di Gedung DPR/MPR.
Selain PKH dan kesempatan bekerja dalam program MBG, keluarganya juga merasakan manfaat Program Indonesia Pintar (PIP). Ketiga anak Susanah tercatat mendapatkan bantuan pendidikan tersebut.
Susanah pun menyampaikan terima kasih kepada Presiden atas berbagai program pemerintah yang telah dirasakan keluarganya.
“Terima kasih sudah ngadain Bansos PKH buat kita-kita yang kurang mampu. Sama program MBG, saya jadi bisa kerja di MBG, jadi bisa bantu-bantu suami, nambah penghasilan. Sama program PIP, alhamdulillah anak saya tiga-tiganya juga dapat PIP,” tutupnya.